namaku ardiansyah. kelas lima madrasah ibtidaiah di jakarta selatan. aku menetap di sini baru setahun lalu. aku berasal dari langen harjo, margoyoso, pati, jawa tengah.
saya tinggal di jl mandar, dekat jl sungai sambas. kalau kalian sering ke blok m, kira-kira hanya ratusan meter dari pusat belanja itu. mudah mencarinya, karena hanya ada satu lapak penampungan sampah di kiri jalan.
tempat ini terlalu sempit untuk menampung kardus, plastik, potongan besi dan untuk tidur banyak orang. celakanya hanya ada satu kamar mandi yang dipakai ramai-ramai. anak kecil sering mendapat antrian paling belakang.
aku tak sabar, lebih sering memilih tak mandi, sehingga badanku kumal, hitam dan ada borok di kaki kiriku yang tak sembuh-sembuh. pertama gerah dan gatal, lama-lama biasa.
sebenarnya hanya bapakku yang merantau ke jakarta. namun sejak tembok belakang rumahku yang di kampung ambruk, bapak memindahkan kami berempat ke jakarta.
aku tak suka sebenarnya. di sini panas, tak banyak pohon. sehari-harinya sehabis sekolah hanya main dengan marmot atau anak ayam yang diberi warna-warna.
di kampung, aku suka main di tambak. setelah tambak udang/ ikan di panen, aku dan teman-teman bisa mencari udang-udang yang tertinggal. kadang dapat sampai satu plastik kresek. lalu dijual.
lebih asyik lagi main di kampung nenek di trenggalek. di sana masih ada hutan. aku mencari katak yang tinggal di pohon pisang. katak itu laku dijual, entah untuk apa.
sering juga bersama teman, kami berburu harimau. ya harimau kecil yang aku lupa namanya. harimau itu laku juga di jual. tapi harus hati-hati, karena gigitan dia sangat tajam.
di sini semua harus beli. sayang, sejak sebulan lalu, bapak tak mampu ngasih uang saku. makin sedikit perolehan hasil pulungan. sejak itu aku mulai mengamen.
cukup enak mengamen. sehari bisa dapat dua puluh lima ribu, kadang malah tiga puluh ribu. uangnya saya simpan di celengan, buat sunat (khitan) nanti di kampung.
yang paling menyebalkan, sering ada preman yang suka malak. mereka biasanya minta lima ribu. kalau premannya kecil aku lawan. aku tonjok kepalanya.
aku akan terus mengamen, untuk biaya sekolah. kelak aku ingin menjadi sopir bus muji jaya.


