hidup di jakarta tak nyaman? mungkin, bagi sebagian orang urban. keruwetan jalanan, keberisikan perilaku aneh dan semua hal yang seolah berlari entah ke tempat mana yang di tuju.
utamanya gaya hidup yang begitu "barat", cukup mengejutkan bagi mereka. begitu memijakkan kaki, harus berhadapan dengan budaya dan gaya hidup metropolitan yang "asing".
ketidaknyamanan itu dialami juga oleh bangsari, wakil presiden bundaran hotel Indonesia. dan inilah salah satu alasan kenapa ia membentuk "negeri " sendiri.
di sela-sela kesibukanya bekerja mencetak uang di bi, tiap jumat malam dengan "rakyat"nya ia menghabiskan malam di depan hotel bundaran Indonesia.
kenapa kau memilih nongrong di tempat umum itu?
ya karena aku sudah cukup senang nongkrong disini. tak ada beban, lepas, tak ada tanda-tanda metropolis. kalau nongrong di kafe misalnya, pikiran akan terpicu untuk mengikuti gaya hidup Jakarta yang selalu berorientasi pada uang semata.
jadi kau menolak gaya hidup macam jakarta?
tak sepenuhnya menolak. meskipun gaya hidup urban Jakarta yang seperti sekarang ini bukan representasi orang Indonesia. banyak ketidakwajaran terjadi disini. banyak mobil bagus melintas, namun di sebelahnya berderet pengemis misalnya.
namun kenapa kau cari uang dan kerja di sini?
setiap orang kan punya kekuatan untuk beradaptasi dengan lingkungan. saya pikir ada sisi negatip dan positifnya. di sini terbuka kesempatan luas untuk berkembang.
meskipun harus membayar dengan harga mahal: disiplin tingkat tinggi, pressure atasan yang dahyat. dan semua harus selesai dalam waktu secepatnya. keadaan seperti ini tak ada sewaktu aku masih di jogja.
kau merindukan suasana seperti di sana?
merindukan suasana ketulusan orang-orangnya iya. di sini aku kira semua terlalu artificial. biar dikatakan modern seseorang harus melakukan atau mengikuti "aturan" main yang berlaku di Jakarta.
nah sebagai penyeimbang, aku dan presiden hi membuat "negeri" yang tak bersentuhan dengan gaya hidup di Jakarta. di sini yang ada cuman ketulusan, keramahan dan tak ada" jaim-jaiman". semua yang datang diterima.


