sekali seumur hidup, berjalanlah di jalan utama kota, jalan thamrin jam 00.00. disini ada suasana menggugah yang tak akan kau temui di tempat lain.

saat itu lampu grand hyatt mulai padam dan air mancur bundaran hotel indonesia senyap. lalu lintas masih sibuk namun tak sampai macet. langkah-langkah kaki bergegas menyebarang jalan entah menuju kemana.

sekelompok anak-anak, laki-laki dan perempuan bergerombol di sisi kolam air mancur. tenpa di komando mereka langsung mencebur tanpa melolosi pakaian. dari ekspresi mukanya, mereka semua riang berenang di kolam yang airnya tampak bersih itu.

tubuh-tubuh coklat itu makin mengkilat tertembus sinar lampu jalanan. mereka lalu berlarian ke pinggir jalan, tepatnya di depan grand hyatt, masih dengan pakaian yang basah. mereka duduk bercengkerama dan bercanda.

mereka tak sendiri, di sebelahnya berderet orang-orang yang juga duduk-duduk. sekelompok “orang jalanan” memainkan lagu rastafaran. kelompok lain membincangkan sastra, petualangan naik gunungnya dan koleksi sepeda antiknya.

dari jarak yang agak jauh, bapak-bapak berpose terbaiknya, mungkin untuk kenangan yang membuktikan ia pernah berada di air mancur hi. ibu pedagang kopi tenteng menawarkan dagangannya. sepasang bule melintas.

lamat-lamat terdengar suara-suara alat berat, berasal dari gedung yang  baru setengah jadi seolah mengiringi keberadaan orang-orang yang menikmati suasana malam itu.

aku mendekati, dan menatap seorang anak tiga tahun yang duduk di ruang sopir tronton yang mengangkut semen. tengah malam, kesibukan kerja bangunan itu tak berkurang.

kami menyusuri trotar  yang baru saja disapu  seorang sor (petugas kebersihan) yang seragamnya sewarna trotoar yang merah maroon. ia sendirian, terus menyapu dan tak mengacuhkan kedatangan kami.

lalu kami membelok ke arah jalan wachid hasyim,meskipun ada tanda larangan belok kanan. sepanjang jalan ini sangat menyedihkan. dua orang lelap di trotoar tanpa alas. dari jarak yang hanya tiga meter, berderet tukang ojek yang siap menunggu “sewa”.

jam 02.00 para pedagang kaki lima banyak yang sudah berkemas mau pulang. sampah-sampah menumpuk di pinggir-pinggir jalan.  kami menuju ke angkringan dan memesan sego kucing. di seberang, dua remaja laki-laki memainkan gitar, mengamen.

kehidupan tetap berdenyut meskipun aku tertidur.