“hidup kok tanpa target, tanpa tujuan, tanpa tanggung jawab. tak punya pendirian, tak acuh sama sesama di sekitar. seenaknya sendiri, meskipun tak merugikan orang lain. kambing bisa melakukan itu semua. jadi apa bedanya kau dengan kambing?”

kata-kata itu serasa menampar laki-laki kusut yang duduk di sampingnya. kepalanya menunduk, matanya menerawang. lalu ia mereview sikap yang ia pilih dan jalankan selama ini.

entah disadari atau tidak, pilihan sikapnya itu kian jauh dari sistem social kebanyakan.  masuk ruangan, say hello ke teman sebelah, kerja sampai makan siang datang. lalu pulang. ia tak pernah mau “mendengarkan” apa yang terjadi di sekeliling.

sebagian teman telah ada yang memvonisnya anti sosial, indvidualis. namun ia lebih sering tak peduli. ia menganggapnya hanya candaan belaka.

“memangnya kenapa? toh saya tak pernah merugikan orang lain. tanyanya. lebih ekstrim lagi ia akan mengatakan kenapa mikirin mereka, toh mereka tak pernah memikirkan saya?”

"ok memang tak merugikan orang lain. namun apakah kau tak ingin memperlakukan orang-orang sekitar  lebih baik? kamu masih punya keyakinan kan? bukankah keyakinan mengajarkan untuk berbuat baik kepada lingkungan? andai kita bisa berguna bagi orang di sekitar, bukankah itu membahagiakan?  kau itu menyedihkan! kasihanilah dirimu."

laki-laki itu diam, seolah mikir, padahal bingung. memang kadang ia merasakan hidupnya sepi, kosong dan absurd.

“hidup yang tak memperjuangkan sesuatu. hidup yang tak memberi manfaat bagi orang lain. apa enaknya?”

“bekerja mendapatkan uang. pernahkah kau ingat orang tua yang kau tinggalkan disana? bagaimana keadaannya hari ini? orang yang telah menyusui, bekerja keras untuk membiayai pendidikan. kalau dihitung-hitung berapa rupiah mereka telah mengeluarkan uang untukmu?”

“bacalah novelnya dewi lestari yang judulnya Supernova: Ksatria,Putri,dan Bintang Jatuh (2001) disitu disebutkan seorang sopir yang penghasilannya pas pasan namun berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai selesai. tanpa memikirkan dirinya. tindakan itu kan heroik sekali. dia punya tanggungjawab besar. punya suatu tujuan. hidupnya lebih punya makna.

nyaris dua jam mereka berbincang. namun laki-laki itu masih belum bosan mendengar.

"mulailah berbenah dengan mengubah pola pikir. kita kan hidup dalam sebuah masyarakat."

laki-laki itu makin tundukan kepalanya makin terbenam, nyaris menyentuh tanah. matanya kosong, menatap sebuah tanya, jadi aku harus sama seperti mereka?

 :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :(