nyepi tahun saka 1929 ini benar-benar sunyi di sini, di ruang ini. namun dalam keheningan ini, aku lebih bisa menyimak suara-suara hati.
betapa selama nyaris dua puluh lima tahun ini, aku belajar dan berjuang untuk meraih pekerjaan. lalu seperempat abad kedua, sibuk menghimpun uang dan kekayaan. dan mungkin tak sampai seperempat abad kemudian, aku menuju ke kematian.
apakah sudah semestinya menjalani hidup seperti itu?
saat kecil, guru madrasahku selalu menceramahiku agar selalu bersujud kepada tuhan. andai melanggar, aku akan dimasukkan ke neraka yang nyala apinya membara.
namun diam-diam seiring berlalunya waktu, pelan-pelan suara guru itu kian sayup lalu menghilang. berganti dengan suara serak auman, cacian, umpatan yang berseliweran di kota ini. tak segan, aku mencakar, mencekik dan menelikung untuk mendapatkan uang dan wewenang.
kini tempat suciku adalah mall. kegairahan untuk selalu pergi ke sana tak pernah redup sampai saldo digit terakhir nol. di sanalah tempat pelampiasan kepenatan, puncak ekstase. ngopi dengan teman baru, nonton atau sekedar melepas pandang.
katalog belanja yang menjadi panduanku ke sana. aku selalu merindukan kembali berburu diskon pada akhir bulan atau hari khusus lain. kitab suci itu yang memberikan pencerahan kepadaku, mall mana saja yang sedang mengadakan sale atau menggelar produk baru..
hari sabtu, inilah hari rayaku. aku bersilaturahmi ke tempat yang bisa mempererat hubungan pertemanan. selain juga bisa menghapus kecapekan dan kepenatan sehabis seminggu bekerja. (bahkan kadang harus berumah di tengah-tengah pekerjaan.) banyak tempat menyediakan fasilitas ajeb-ajeb, pijat, mandi kucing, atau aktivitas hedonis lain.
agar tak sesat, aku mempelajari dan meneladani perilaku para model dan tokoh penting. aku akan berbicara dengan gaya tutur dan vocab terbaru seperti nabiku itu. contohnya aku sekarang gemar memakai celana pipa sempit yang sedang populer. atau gaya rambut mohawk sewarna bulu serigala.
juga saat berbicara, setiap akhir kalimat selalu menambahkannya dengan ba bo ba bo. atau memakai bahasa slank lain. makin banyak menguasai bahasa slank: cupu, masteng dll aku dianggap makin memahami ajarannya.
apalagi malaikat-malaikat yang menyusup lewat urat darahku selalu meyakinkaku, jalan lurus seperti inilah yang telah kulalui dengan benar. aku tak pernah meragukannya.
begitu seterusnya. kini aku mempunyai tuhan baru: uang. setiap kehadirannya selalu memuaskan jiwaku. aku dengan dada membusung mengatakan ke pada semua orang, akulah yang paling sukses. dan orang-orang akan bersujud dihadapanku.
namun hati tak pernah berbohong. ia berbisik lirih mengingatkanku untuk tak hanya bekerja terus. ada hal yang sepenting pekerjaan yang harus dilakukan. “sepuluh jam sehari kau bekerja, apa yang kau dapatkan selain satu hari lebih tua dan makin banyak hutang?”
dalam kesenyapan, semoga aku bisa tercerahkan.



tesssssss
Comment by Administrator — March 21, 2007 @ 6:18 am
Saat kita menentukan cara hidup kita, secara otomatis kita telah memilih juga jalan mati kiat
Comment by Abner — March 30, 2007 @ 7:30 am