setiap orang itu unik. namun keunikan salah satu temanku ini sangat "aneh". namanya brian. seorang desainer grafis/web, pelukis, jemaat yang taat dan seorang isteri.

malam itu, jam sembilan. lengkingan bunyi sms memanggil. ini pesan pertamanya sejak menghilang setahun lalu. bukan karena aku tak menghubunginya, namun nada teleponnya selalu sibuk atau di luar area. telepon ke rumah pun percuma, tak pernah diangkat.  

sms itu mengabarkan,  ia akan melakukan perjalanan ke kampung di tengah danau sentarum di pelosok kalimantan barat. ia dan dua temannya akan mendirikan taman bacaan. ia memintaku untuk  “membantunya”. alasan sebenarnya, ia mengajak jalan-jalan. karena ia tahu aku belum pernah jalan ke sana.

namun sayang, aku terpaksa menolaknya. tak ada waktu!

itu bukan pertamanya kalinya.  sebelumnya aku dan temenku diajaknya jalan ke surabaya.  berkeliling melihat dan mencoba makanan yang aneh-aneh di pasar genteng, kapal selam, ice cream sanggrandi dan lainya. tak hanya akomodasi, makan dan tempat menginap ia yang ngurus. ia masih mentraktir kami untuk membersihkan karang gigi sewaktu ia mampir ke klinik.

keunikan dia nyaris tak terbatas. pernah suatu kali ia menelepon. “kamu perlu kursi/ sofa ngga? aku beliin sekalian yang warna biru”. hmm rupanya ia tak paham bagaimana bentuk ruangan seorang anak kost.

pertama kali mengenal dia, saat sama-sama memburuh di sebuah kompani. ia terkenal sebagai web desainer termalas sekantor. datang siang, deadline semua pekerjaannya tak pernah tepat. namun ia jago lobi, networkingnya sangat luas.  

ia pernah mengatakan, hanya merasa cocok denganku. menurutnya aku orang yang bisa dipercaya. padahal seingatku, ia belum pernah mempercayakan sesuatu sekali pun ke  aku.

kami sering ngobrol tentang banyak hal seputar teknologi informasi. atau sekedar tempat tempat di Jakarta yang ia belum akrabi. sering juga kami membahas suatu masalah dari sudut pandang keyakinan masing-masing. selalu beda pendapat, namun kami tak pernah bentrok.

ia sangat fasih ngomongin desain. gentian aku yang sering bertanya, utamanya mengenai warna warna. lalu ia menawarkan kebisaannya itu untuk mendesain lantai rumahku kelak dengan model abstrak. juga akan melukis untuk interiornya.

Oh ya selain desainer, saat ini ia masih kuliah di sekolah teologi yang terletak di Jakarta pusat. untuk keperluan kuliahnya itu, pernah ia mengajakku misa ke sebuah gereja di jakarta barat. meskipun ia tahu benar aku muslim. anehnya, aku mau juga.

ia sering berpindah agama. sejak kecil ia pemeluk nasrani yang taat. namun ia memilih suami muslim. lalu ia menjadi mualaf. dalam proses belajarnya, rupanya ia tak begitu memahami ayat yang membolehkan seorang suami memukul isterinya. alasan itulah yang menyebabkan keduanya berpisah. beberapa waktu berikutnya ia menikahi pacar pertamanya di itb yang masih perjaka.

perawakanya tinggi dan langsing. ia lebih suka mengenakan celana panjang dan kemeja. seluruh kemejanya kotak-kotak model cowboy amerika. namun ia sangat penakut naik lift. harus ada seseorang yang menemani untuk dipakai pegangan.

siang waktu itu, ia menelpon ke kantor. ia mengajakku untuk menemui calon klien yang akan membuat website. “gila mendadak sekali, tentu tidak bisa. apalagi sekarang aku tak pakai kemeja, cuman kaos dan celana jins belel.”  “ya udah gak apa-apa. celana dan kemejanya sizenya berapa?”   

kami mendapatkan projek itu akhirnya.  suatu malam aku menginap di rumahnya dan menyelesaikan pekerjaan sampai pagi. karena siangnya kami harus menyerahkan ke klien. suaminya menemani dari jauh sambil memainkan gitar dan bernyanyi kecil.

meskipun ia cukup berada, ia tak punya pembantu. semua pekerjaan dibereskan bersama suaminya. pagi, saat kami siap sarapan di meja makan, ia mengatakan bahwa menanak nasinya salah. entah kesalahannya dimana, ia langsung membuangnya.

kini giliran suaminya yang memasak. menu pagi itu nasi putih dan ceplok telur. apel yang dipotong dadu dan diberi saos putih sebagai sayurnya.

kami berangkat tergesa dengan mengendarai mobil bututnya. ke dalam mobil ia menyiapkan apel merah. “buat apa tanyaku? buat pak ogah di lampu merah. aku tak ada uang receh, jawabnya.

jalanan ciputat macet tak terelakkan. angkot parkir berderet menunggu antrian penumpang. pedagang asongan berkeliaran meringsek di sela kendaraan. semua itu memenatkan kakinya yang harus mengingjak-injak rem dan kopling.

ia memanggil pedagang asongan handuk. 

"bapak bisa nyopir?"

“bisa”, jawab bapak bertopi itu.

“berapa penghasilan sehari jualan handuk?

“sekian ribu”.

“mau jadi sopir saya?”

“mau”.

sejak siang itu, ia mempunyai sopir baru.

pada bulan september lalu ia berulang tahun. ia mengundang semua teman dan kerabatnya. sadar temanya berkeyakinan berbeda-beda, ia membagi meja makanan menjadi dua. menu mengandung babi dan menu “halal”.  yang pasti tak ada ikan lele di meja itu. ia menduga lele yang kepalanya imut tanpa dosa itu semasa hidupnya tinggal di dalam septitank.

kembali pagi ini ia menelepon. "mas aku mau bikin yayasan peduli kasih. kamu mau jadi apanya?" :)