jumat malam (09/03/07). hujan menderas di kompleks tim. suasana nyaris diam, tak ada yang bergerak kecuali air hujan yang pelan menuju cekungan.
di dalam ruangan teater kecil, dalam temaram lampu, seorang perempuan bergaun hitam memainkan sebuah komposisi yang aku tak mengenali.
lembut dentingnya mengikuti irama hujan yang nyaris tak bersuara. ac dari atas kepala menyemburkan suhu yang memaksa setiap orang melipat rapi kedua tangan didadanya. sedikit yang hadir pada malam penganugerahan sayembara novel dkj 2006 ini.
sangkaanku keliru, acara ini ternyata sangat formal dan kaku. sambutan pertama lalu kedua lalu ketiga menambah udara memanas dari uapan mulut-mulut yang menganga tak sabar menunggu sang pemenang, novelis masa depan.
kesabaran hadirin benar-benar dipaksa panjang. sambutan dari tokoh-tokoh sastra ahmad tohari, rosihan anwar dan marko kusuma wijaya rupanya belum cukup.
hadirin harus mendengarkan sepenggal naskah yang diambil dari novel peserta yang berjudul alas abang. dua orang teaterwan bermonolog, membacakan.
puncaknya, dibacakannyalah para pemenang.
pemenang 1: hubbub, mashuri
pemenang 2: mutiara karam, tusiran suseno
pemenang 3: jukstaposisi, calvin michel s
pemenang 4: glonggong, junaedi setiyono
pemenang 5: lanang, yonatan s rahardjo
dalam sambutannya ahmad tohari yang malam itu tampil seperti pak guru menekankan, semua novel yang masuk (249) sangat layak terbit. penilaian juri hanya berpegang pada formal kriteria umum, bukan berdasarkan selera pasar. kesempatan tetap terbuka bagi naskah yang tak menang, bisa jadi malah akan menjadi best seller di pasar.
mereka memang hebat. aku baca dari biodatanya, semuanya berpetualang di dunia sastra sejak lama, kecuali calvin yang paling muda ( 21 tahun). tulisan mereka berserak di media dan buku-bukunya beterbitan.
yang paling dahyat tentu tusiran suseno. sebagai pegawai rri, ia mennyelesaikan naskah drama sebanyak 1008 sejak 1976. tiga novelnya sudah beredar juga buku tentang melayu.
memang perlu pendakian dahsyat untuk mencapai puncak. aku jadi bertanya-tanya, kapan aku bisa jadi novelis keren kalau sampai sekarang baru bisa menulis dib log?

tak ada istilah terlambat khan mas??
btw jadi penulis d blogpun khan udah ada beberapa penggemar khan??hehe
Comment by mei — March 12, 2007 @ 4:22 am
iya mas kw, tusiran suseno itu aja sdh nulis dari tahun 76, 30 tahun kemudian baru beredar novelnya, dari 76 ke 06 kan 30 tahun mas, perjuangannya??
Comment by joni — March 12, 2007 @ 9:19 pm
wah aku merinding nih baca laporannya. Mereka hebat2 ya? Aku ngebayangin betapa bangganya. Aku? kok nulis novel. Cerpen aja baru satuTEXT. Itu aja bukinnya terengah2. Elek pisan hehehe. elek dipamerin hahahaha
Comment by de — March 12, 2007 @ 11:25 pm
wah aku merinding nih baca laporannya. Mereka hebat2 ya? Aku ngebayangin betapa bangganya. Aku? kok nulis novel. Cerpen aja baru satu. Itu aja bukinnya terengah2. Elek pisan hehehe. elek dipamerin hahahaha
Comment by de — March 12, 2007 @ 11:27 pm
Saya yakin kita semua memiliki kesempatan yang sama. Saya sendiri kaget pas tahu menang. Soalnya ini novel surealisme pertama saya. Yah, moga2 ini menjadi stimulus agas saya tak lelah menulis sastra di tengah sibuknya kuliah.
Comment by Calvin Michel — March 17, 2007 @ 10:24 am
walaupun di malam itu kemenangan tidak berpihak padaku, tapi aku cukup bangga bisa berada di antara sastrawan Indonesia. Orang-orang yang menjunjung tinggi bahasa Indonesia, memaksimalkan sebuah karya agar masyarakat tetap menicntai bahasa Indonesia sebagai “Bahasa yang Satu, Bahasa Indonesia”.
Comment by nazhimah — March 23, 2007 @ 8:13 am