perawakannya kecil, kerempeng dan "kusut". ia duduk paling pinggir di deretan bangku yang menghadapnya melawan pengunjung. berkaos putih dengan aksentuasi warna merah, gunawan maryanto melaunch buku kumpulan cerpennya yang kedua: galigi.
malam itu di warung apresiasi bulungan, 2 maret 07, acara cukup senyap. tak ada kemeriahan seperti yang tampak pada gerai sepatu di mal sampingnya. untung jamuan panganan yang disediakan cukup meriah dengan warna-warna. jajan pasar ( bolu kukus dan kue kue basah teman-temannya) lengkap plus kacang rebus.
entah apakah panitia menyediakan panganan itu untuk menghadirkan nuansa "asing" kampung entah berantah di metropolitan ini. seperti cerita cerita gunawan m dalam kumcernya kali ini. sebuah dongeng masa lalu yang sedang terjadi di masa kini.
banyak sastrawan yang datang. juga rieke diah pitaloka ( "oneng") yang membacakan salah satu cerpen dalam buku itu :khima diatas panggung dengan berdiri.
dalam komunitasnya gunawan maryanto biasa dipanggil cindhill. usianya masih imut, namun tampangnya kakekkakek. maklum selain menulis cerpen dan naskah drama, puisi dan kritik sastra, ia juga sutradara dan aktor di teater garasi ( jogja).
keduabelas cerpen cindhil dalam galigi ini semuanya unik. berkisang tentang dongeng masa lalu yang tak berpretensi apa-apa selain menghibur. sebagai orang teater, dia memperlakukan dirinya sebagai pencerita yang duduk diatas panggung dan pembaca sedang mendengarkan kisahnya yang kadang lucu.
misalnya dalam cerita ni kembang. sosok ni kembang mengingatkanku pada lasmini dalam sandiwara radio saur sepuh: kembang dari gunung lawu: cantik, cintal, sakti dan mesum. semua pendekar ditentangnya, termasuk musuh bebyutannya: ratu kembang karena semua murid-muridnya dibinasakan. namun pertarungan hidup mati itu tak pernah kesampaian karena ni kembang keburu bertemu dengan aku ( gunawan maryanto, penulisnya).
lalu mereka berdua bercinta semalaman di bangku warung pinggir hutan milik pak tua.
menurut budi darma ada tiga cirri cerpen gunawan maryanto. cerpennya identik dengan puisi, ia menitik beratkan pada retorika (?) bukan komponen utama seperti dalam cerpen konvensional. kedua cerpen dia adalah alusi: berdasarkan teks yang sudah ada sebelumnya. retorikanya cenderung tak menyentuh realitas sehingga cerpen dia menawarkan dunia yang asing.
selebihnya entah, aku hanya lamat-lamat mendengar uraian nirwan dewanto dan yanusa nugroho karena hidangan di meja lebih menarik. datang telat hanya untuk mengisi perut sampai kenyang.
buku setebal 156 halaman ini diterbitkan oleh koekoesan.


