musim durian tlah tiba. bau harumnya sangat mengoda bagi sebagian orang, namun bisa membuat kepala serasa tertindih truk sampah busuk bagi yang alergi.
tengah malam itu, aku berombongan tiga orang menyusur jalan sepanjang cileduk raya. tampak orang-orang bergerombol di simpang kiri jalan mengelilingi lampu petromax yang berada di tumpukan durian yang membukit. mereka sibuk mengelus, mencium dan mencicip daging durian-durian ranum.
celotehan tawar menawar harga berseliweran diantara capung dan serangga yang mengitari lampu. tengah malam itu mirip sebuah pasar pagi yang baru buka. bapak-bapak, anak dan ibu ibu merangsek berebut memilih durian yang menguning. ada sale!
kesempatan itu tak mereka lewatkan. mupeng-mupeng* itu makin bernafsu. meskipun langit gerimis ritmis. mereka lalu langsung membelah dan memakannya di tempat. tak cukup satu, bahkan ada yang sampai menghabiskan banyak buah.
kami mengambil enam buah. aku sendiri memang tak begitu sangat suka. hanya sebatas penghiburan belaka. konon durian (bombaceae durio zibethinus L./Murr) termasuk kelompok buah panas. sehingga bisa meningkatkan tekanan darah. benarkah? entah.
nyam..nyam..nyam… ada rasa manis, pahit, legit dan tawar menyatu. entah kenapa aku tak bisa menikmatinya. malam itu aku hanya sanggup mengecap daging buah durian dari tiga bijinya. selebihnya dimangsa teman lain.
cara mereka makan menyebabkan daging buah itu belepotan ke pipi. karena mulutnya tak hanya mengunyah namun nyerocos menyemburkan “ceramah” manfaat buah durian yang konon bisa meningkatkan libido.
akarnya bisa mengenyahkan demam dan sakit kulit. caranya dengan merebus dan meminumnya. pucuk daun yang masih muda, sering dijadikan lalap (bagi mereka yang nggragas
). dan biji nya bisa dijadikan tepung pengganti nasi. kayunya tentu saja sangat bagus untuk bahan bakar.
mengakiri “pesta” mereka menuangkan air putih ke pangsa (cekungan pada kulit durian bagian dalam) lalu meminumnya. ini dilakukan agar menurunkan panas tubuh akibat terlalu banyak makan.
kami harus cepat pulang, rombongan berikut sudah datang.
*muka pengen



wadoooouuuuh, jadi ikutan mupeng…sluuurrrpp…
Comment by venus — March 3, 2007 @ 1:30 pm
dimana-mana sedang musim duren! tapi harganya kok tetep mahal yach?? mungkin saya aja kali yang kurang pinter nawarnya
Comment by Tresno — March 3, 2007 @ 7:07 pm
waduh mas…. tapi aku lebih suka “mbelah duren” je….
mupeng juga
Comment by syah — March 4, 2007 @ 4:28 pm
Sampeyan termasuk yang nggragas bukan he..he..
Comment by de — March 4, 2007 @ 11:10 pm
hmm….durian enakkk!!semalem aku juga beli…slllreeep
Comment by mei — March 5, 2007 @ 3:56 am
kog sini blm musin durian yah..
Comment by kenny — March 5, 2007 @ 6:46 am
wah… kebetulan banget… hari minggu lalu saya lewat daerah ciledug… sempat memperhatikan durian yang baru diturunkan dari truk… buanyak banget… orang yang ngrubung juga banyak…
mupeng juga siiih… sayangnya buru-buru… gak sempet mampir…
Comment by bagonk — March 6, 2007 @ 3:14 pm
baru tahu kalo bukan dagingnya aja yang bermanfaat, sampe ke akarnya semua bermanfaat.
mupeng juga nih? habis disini gak ada yang jual.
Comment by joni — March 6, 2007 @ 9:39 pm