hidup yang singkat, mari kita rayakan
dailyMarch 30, 2007 8:10 am

“hidup kok tanpa target, tanpa tujuan, tanpa tanggung jawab. tak punya pendirian, tak acuh sama sesama di sekitar. seenaknya sendiri, meskipun tak merugikan orang lain. kambing bisa melakukan itu semua. jadi apa bedanya kau dengan kambing?”

kata-kata itu serasa menampar laki-laki kusut yang duduk di sampingnya. kepalanya menunduk, matanya menerawang. lalu ia mereview sikap yang ia pilih dan jalankan selama ini.

entah disadari atau tidak, pilihan sikapnya itu kian jauh dari sistem social kebanyakan.  masuk ruangan, say hello ke teman sebelah, kerja sampai makan siang datang. lalu pulang. ia tak pernah mau “mendengarkan” apa yang terjadi di sekeliling.

sebagian teman telah ada yang memvonisnya anti sosial, indvidualis. namun ia lebih sering tak peduli. ia menganggapnya hanya candaan belaka.

“memangnya kenapa? toh saya tak pernah merugikan orang lain. tanyanya. lebih ekstrim lagi ia akan mengatakan kenapa mikirin mereka, toh mereka tak pernah memikirkan saya?”

"ok memang tak merugikan orang lain. namun apakah kau tak ingin memperlakukan orang-orang sekitar  lebih baik? kamu masih punya keyakinan kan? bukankah keyakinan mengajarkan untuk berbuat baik kepada lingkungan? andai kita bisa berguna bagi orang di sekitar, bukankah itu membahagiakan?  kau itu menyedihkan! kasihanilah dirimu."

laki-laki itu diam, seolah mikir, padahal bingung. memang kadang ia merasakan hidupnya sepi, kosong dan absurd.

“hidup yang tak memperjuangkan sesuatu. hidup yang tak memberi manfaat bagi orang lain. apa enaknya?”

“bekerja mendapatkan uang. pernahkah kau ingat orang tua yang kau tinggalkan disana? bagaimana keadaannya hari ini? orang yang telah menyusui, bekerja keras untuk membiayai pendidikan. kalau dihitung-hitung berapa rupiah mereka telah mengeluarkan uang untukmu?”

“bacalah novelnya dewi lestari yang judulnya Supernova: Ksatria,Putri,dan Bintang Jatuh (2001) disitu disebutkan seorang sopir yang penghasilannya pas pasan namun berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai selesai. tanpa memikirkan dirinya. tindakan itu kan heroik sekali. dia punya tanggungjawab besar. punya suatu tujuan. hidupnya lebih punya makna.

nyaris dua jam mereka berbincang. namun laki-laki itu masih belum bosan mendengar.

"mulailah berbenah dengan mengubah pola pikir. kita kan hidup dalam sebuah masyarakat."

laki-laki itu makin tundukan kepalanya makin terbenam, nyaris menyentuh tanah. matanya kosong, menatap sebuah tanya, jadi aku harus sama seperti mereka?

 :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :( :(  

dailyMarch 28, 2007 11:32 am

sore ini, aku menemukan status di salah satu id yahoo mesenger di listku. "bagi yang sayang sama kucing, silakan menghubungi saya".

“apa maksud statusnya?” tanyaku

“aku perlu banyak relawan untuk mengurus kucing di jalanan.  kalau bisa minimal ada 60 dokter!“

“dokter?”

“ya nantinya kucing-kucing itu dikumpulin dan dikebiri”.

“oooo “

 "ada temen fotografer yang mau bantu fotoin kucing2 jalanan, supaya bisa kebayang gimana nelangsanya kucing2 itu…

kita pasti akan butuh dana untuk obat2an yang sudah didiskon banget sama dokter2 itu. dokternya sih gratis

nanti perlu beberapa hari untuk nampung mereka, kita butuh orang yang punya halaman luas untuk naro kandang2 kucing beberapa hari.."

ym dia : tipsyfemale. ia editor di majalah ekonomi berbahasa inggris yang berkantor JL. Garnisun Dalam, Karet Semanggi.:)

dailyMarch 26, 2007 4:49 am

1#di sebuah ruang tunggu klinik yang putih bersih, beberapa tulisan warna hijau islami.

2#seekor simpanse di hutan afrika bercakar-cakaran menimbulkan luka menganga. perlahan-lahan kedua simpanse itu lalu meninggal. membusuk dan air menetes dari tubuhnya yang menyusut digerogoti belatung

3#kesibukan di ruang laboratorium canggih. para peneliti, dengan pakaian khusus dan masker memelototi materi dengan mikroskop elektron. tanpa diduga, peneliti itu menyenggol salah satu tabung-tabung yang berserak berisi zat kimia warna-warna. tabung itu lulu lantak. zat kimia memuncrat, memercik ke sebuah wajah laki-laki yang duduk menunggu panggilan dari dokter kulit dan kelamin.

4# laki-laki kurus itu tatapannya kosong. ia tak yakin bencana itu akan menimpa dirinya. sudah hampir 30 menit ia duduk ditemani koran kemarin. tanganya memegang nomor antrian, nomor 13, angka yang dianggap membawa kesialan.

5#ting tong… kini giliranya masuk ke ruang periksa. bau zat kimia meruap. seorang dokter perempuan cantik mengunggu, duduk manis dibelakang meja. keduanya lalu berbincang serius. sesekali tangan dokter itu bergerak, menegaskan penjelasannya yang agak kurang dimengerti laki-laki kurus itu.

6#dokter mengambil lup (kaca pembesar) dan menempelkan ke bibir pasiennya.

7#kini suara dokter itu lebih keras

"pakai pasta gigi yang tak mengandung detergen dan mint. dan hindari makan ikan laut. ini krim untuk dioles dan pil vitamin.  

8#ekspresi lega.

"cuman alergi, bukan karena penyakit kelamin!" laki-laki itu mengangguk-angguk.

"bukankah memang aku tak pernah melacur?" 

 

dailyMarch 21, 2007 6:16 am

tak selalu hidup di metropolitan itu harus berbiaya mahal. tinggi rendah pengeluaran itu hanyalah masalah pilihan sikap/ gaya belaka.

ingin terus berhemat saat makan, datanglah ke de cost. restoran ini berada di pusat jajanan di Jakarta selatan, tepatnya kemang. konsepnya melawan arus yang konon daerah selatan tak sensitip masalah harga.

motonya mutu bintang lima, harga kaki lima memang bukan iklan. de cost mulai mematok harga paling murah yakni rp 250; untuk segelas teh manis. pengen nambah gratis.

tentu mahal di ongkos untuk yang berumah di tempat jauh dari kemang. namun tak sulit juga menemukan warung sederhana dengan harga yang sangat irit. warung tegal, warung solo yang berserak merupakan pilihan menarik.

untuk menu nasi putih, sayur, tempe, tahu dan teh hangat, cukup mengeluarkan uang rp 2.500;. untuk ukuranku nasinya cukup setengah saja, sehingga hanya membayar rp 2.000.

atau sekali-sekali makan malam di gulai tikus di perempatan jalan mahakam. suasananya yang funky dan nyaman itu hanya menghauskan kita membayar rp 3.500 untuk seporsi.

ok. sekarang andai ingin mencari baju dan perlengkapan lain dengan harga miring kota ini lebih menawarkan banyak pilihan.

sogo jongkok, daerah poncol senen, pasar ular  adalah tempat popular para pencari barang bagus dengan harga murah. konon di daerah senen ada distro yang menjual baju bekas impor  yang kini makin populer.

jangan khawatir andai kantong setipis silet untuk menuju tempat yang mungkin jauh itu. kita (aku) bisa menumpang metromini/ kopaja atau angkot lain.

metropolitan yang tampak egoistis dan garang, tak sepenuhnya benar. kejujuran dimana-mana masih dihormati. dari sepuluh kali aku minta ijin menumpang angkot ke keneknya, hanya sekali yang menolak. selebihnya welcome dan selebihnya sedikit cemberut.

jika nyali kecil, liriklah ke pasar jumat di deket rumah, pasar yang adanya di depan masjid. pasar kaget itu mengobral barang dengan harga tolong menolong (istilah mereka). bahkan ada lapak yang menjual barang “branded” dengan harga kaki lima. (mungkin barang bs atau entah sebab lain).

yang lebih penting tentu memasang telinga dan mata lebih awas untuk selalu update info tentang diskon atau sale. cuman harus hati-hati, sale disini kadang menjual barang sisa yang menumpuk di gudang. atau harga telah dinaikkan sebelumnya.

menarik bukan?  

untuk menambah ilmu pun tak perlu membayar, tinggal bergabung dengan komunitas yang sesuai minat. anggotanya dengan senang berbagi info/ ilmu. mereka itu orang-orang baik yang mungkin tak pernah terduga sebelumnya.

untung aku tak merokok, aku tak menemukan rokok dengan harga murah. karena semua produk pabrikan. juga tempat kost. makin dekat dengan akses informasi makin mahal. kalau mau harus minggir ke luar jakarta yang tentu masih terjangakau. :)

dailyMarch 20, 2007 3:02 am

nyepi tahun saka 1929 ini benar-benar sunyi di sini, di ruang ini. namun dalam keheningan ini, aku lebih bisa menyimak suara-suara hati.

betapa selama nyaris dua puluh lima tahun ini, aku belajar dan berjuang untuk meraih pekerjaan. lalu seperempat abad kedua, sibuk menghimpun uang dan kekayaan. dan mungkin tak sampai seperempat abad kemudian, aku menuju ke kematian.

apakah sudah semestinya menjalani hidup seperti itu?

saat kecil, guru madrasahku selalu menceramahiku agar selalu bersujud kepada tuhan. andai melanggar, aku akan dimasukkan ke neraka yang nyala apinya membara.

namun diam-diam seiring berlalunya waktu, pelan-pelan suara guru itu kian sayup lalu menghilang. berganti dengan suara serak auman, cacian, umpatan yang berseliweran di kota ini. tak segan, aku mencakar, mencekik dan menelikung untuk mendapatkan uang dan wewenang.

kini tempat suciku adalah mall. kegairahan untuk selalu pergi ke sana tak pernah redup sampai saldo digit terakhir nol. di sanalah tempat pelampiasan kepenatan, puncak ekstase. ngopi dengan teman baru, nonton atau sekedar melepas pandang.

katalog belanja yang menjadi panduanku ke sana. aku selalu merindukan kembali berburu diskon pada akhir bulan atau hari khusus lain. kitab suci itu yang memberikan pencerahan kepadaku, mall mana saja yang sedang mengadakan sale atau menggelar produk baru..

hari sabtu, inilah hari rayaku. aku bersilaturahmi ke tempat yang bisa mempererat hubungan pertemanan. selain juga bisa menghapus kecapekan dan kepenatan sehabis seminggu bekerja. (bahkan kadang harus berumah di tengah-tengah pekerjaan.) banyak tempat menyediakan fasilitas ajeb-ajeb, pijat, mandi kucing, atau aktivitas hedonis lain.

agar tak sesat, aku mempelajari dan meneladani perilaku para model dan tokoh penting. aku akan berbicara dengan gaya tutur dan vocab  terbaru seperti nabiku itu. contohnya aku sekarang gemar memakai celana pipa sempit yang sedang populer. atau gaya rambut mohawk sewarna bulu serigala.

juga saat berbicara, setiap akhir kalimat selalu menambahkannya dengan ba bo ba bo. atau memakai bahasa slank lain. makin banyak menguasai bahasa slank: cupu, masteng dll aku dianggap makin memahami ajarannya.

apalagi malaikat-malaikat yang menyusup lewat urat darahku selalu meyakinkaku, jalan lurus seperti inilah yang telah kulalui dengan benar. aku tak pernah meragukannya.

begitu seterusnya. kini aku mempunyai tuhan baru: uang. setiap kehadirannya selalu memuaskan jiwaku. aku dengan dada membusung mengatakan ke pada semua orang, akulah yang paling sukses. dan orang-orang akan bersujud dihadapanku.  

namun hati tak pernah berbohong. ia berbisik lirih mengingatkanku untuk tak hanya bekerja terus. ada hal yang sepenting pekerjaan yang harus dilakukan. “sepuluh jam sehari kau bekerja, apa yang kau dapatkan selain satu hari lebih tua dan makin banyak hutang?”

dalam kesenyapan, semoga aku bisa tercerahkan. :)