28 februari. akhir bulan, serasa orgasme! lega.
sepanjang deretan angka pada selembar kalender, aku nguplek di depan monitor. sampai mata serasa mau mencelat dari liangnya. saatnya sekarang menumpahkan isi seluruh kepala. memanjakan diri, sepuas hati.
bulan maret ini ada beberapa "event" yang layak ditengok :
- nonton the lost city. denger denger bagus
- ke pameran dvd film (bokep) bajakan di glodok. sudah bertahun-tahun tak kesana. adakah sesuatu yang mengejutkan?
- datang ke pameran distro di gedung deprin. rencana cari "sweater" pasti harga "miring. karena puluhan distro dari berbagai daerah nampang di gedung milik pemerintah yang buka hanya sampai jam 17. ( pns identik dengan pemalas?)
- pameran buku (islam) 3 – 11 maret di istora senayan. biasanya ini agak basi. diskonya kecil dan buku barunya sedikit. banyak juga yang jualan jilbab di area ini. tapi tetap layak dikunjungi
- launching buku galigi gunawan maryanto, di warung apresiasi 2 maret pukul 19.00
- oh ya, membunuh tagihan rutin. menyebalkan, tapi tetap ini sebuah pilihan yang menarik diantara yang mencekik.
masih ada sisa bajet? kayaknya masih. ngopi. menikmati suasana, menonton (dan ditonton) mata-mata yang menyimpan sepalung kesepian. orang-orang yang datang ke warung ini saya yakin ingin mencari kebebasannya di tengah keterasingan di kota kusut ini.
namun apa yang didapat? mereka hanya menuju ke sebuah keterasingan yang lebih dalam. meski mereka dalam satu kerumunan yang sama, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. seperti kumpulan coklat yang terbungkus rapat alumunium foil dalam toples kaca. dan ada yang menggerakannya sehingga isinya bergoyang bersama tanpa lumer.
mereka juga mengalami keterasingan terhadap lingkungan rumah/kost, tempat kerja, bahkan dengan diri sendiri. di tempat kost mereka abai dengan tetangga yang tak punya air. di tempat kerja, ikut membuat ngecor pondasi, tapi tak punya akses setelah gedung megah menjulang. dan tak sedikit yang melukai dirinya sendiri dengan jarum karena begitu tak mengenalnya.
untung aku tak sampai segitu.
aku masih pengen nonton jami cullum di java jazz. sayang tak cukup bajet. namun aku masih bisa mampir ke toko buku. sekedar liat buku baru. sekalian mampir liat tshirt bergaris. terus berjalan, terus… terus… sampai saldo rekening negatif
maap, aku tak bermaksud ngomongin soal suka belanja atau banyaknya uang yang kumiliki. namun bukankah salah satu ciri urban komuniti itu belanja? semakin sering dan banyak belanja semakin "eksis" dia di kota yang sibuk ini.
tak terasa.. hidup terlalu singkat. mari kita rayakan. ha ha


