mungkin kalian akan murka, memergoki pasangan selingkuh. namun telat! secara tak sadar, diam-diam persemaian perselingkuhan telah tersedia begitu ikatan cinta tumbuh. takkan ada selingkuh, tanpa ada ikatan cinta.
nyaris semua orang akan mempertahankan habis-habisan hubungan cinta yang dibina sejak lama. banyak buku membahas cara memesrakan dan mengharmoniskan hubungan. namun ketika cinta lain datang, siapa bisa menolak?
naluri setiap orang cenderung menyukai dan penasaran dengan hal baru. yang lama, saat semua terkuak, tak menarik lagi, membosankan!. puncaknya mulailah ia lebih “kreatif”. mencari sesuatu yang meng “excited” kan lagi. seperti saat jatuh cinta pertama kali.
tamsil yang mengatakan, tiap hari makan sayur asem, lama-lama juga terasa hambar sangat pas untuk mengibaratkan situasi ini.
penyelewengan tak bisa dihindari. dalam tingkat minimal, membayangkan orang lain saat bercinta dengan pasangan atau sekedar memegang tetek/ titit saat lembur di kantor misalnya. sampai yang paling fatal, jarang pulang ke rumah.
kepada yang sedang, telah dan akan jatuh cinta, bersiaplah untuk menerima kenyataan: pasangan anda berselingkuh. ini hanyalah soal waktu. tentu dengan seribu satu alasan pembenaran.
di film, selingkuh membuat cerita lebih dramatis dan menarik. di dunia nyata akan menjadi neraka. mereka yang berselingkuh harus berbohong dan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
lalu kemana janji yang terucap di sebuah kafe malam valentine lima tahun lalu, di bawah temaram lampu yang terbungkus lampion putih? di mana kesaksian untuk selalu bersama dalam suka dan duka di depan kitab suci?
semuanya menyingkir, hilang. tersapu kedahsyatan cinta baru. begitu seterusnya, selalu berulang. lalu apa lagi yang dipertahankan dalam sebuah hubungan yang mengikat?
entah.
teman jauhku malah bangga memamerkan kesuksesannya menyelingkuhi teman-teman perempuannya. “bagaimana kau bisa ngatur waktunya? justru itu tantangannya, jawabnya dengan derai tawa.
teman lain mengatakan, sekarang ia kembali bekerja karena malu harus mengongkosi selingkuhannya dengan uang suaminya. namun aku tak menanyakan apakah ia menganut “filosopi” sebuah botol: isi boleh tumpah kemana-nama asal botolnya kembali.


