bokek, memaksaku untuk tetap diam di tempat kost minggu ini. tak begitu menyesakkan juga.

aku tetap bangun lebih pagi. seperti biasa lari sebentar lalu beberes. untuk melepas lelah, aku menuju teras, duduk menatap kesibukan jalan, orang lalu lalang dan sinar matahari yang jatuh menimpa serakan bunga tanjung di tanah.

beranjak siang tamu tak diundang menyapa di pagar pintu, kadang dengan suara keras. mengira semua penghuni masih berada di dalam. sampai kira-kira jam empat sore, ada tiga orang pengemis, seorang peminta sumbangan, seorang pengamen dan serombongan kecil topeng monyet.

tiga peminta-minta itu mempunyai tipikal yang sama, laki-laki tua, kumal dan membawa buntalan yang dibawa di pundaknya, lainnya dua ibu berjilbab membawa map dan pengamennya pemuda gondrong kerempeng.

baru hari ini kutahu, begitu banyak orang berseliweran meminta sedekah. aku kira, hanya di sela-sela bis kota dan tempat-tempat umum saja.

seberapa perlukah mereka harus meminta-minta? apakah tindakan ini merupakan pilihan terburuk sebelum menipu, mencuri dan merampok?

alasan mereka mungkin di kota ini mereka merasa asing, tak ada yang mengenalnya. dan mereka tak sabar, ingin punya uang lewat jalan pintas. meskipun kurang bermartabat. bahkan ada beberapa pengamen yang meneror dengan kata-kata umpatan.

memang sih, dari kecil kita dibiasakan untuk memberi kepada peminta. tangan kanan lebih baik daripada di bawah namun di kota ini, semua tak seperti yang tampak mata. dari cerita teman, seorang “pengemis” punya penghasilan melebihi dirinya yang kerja di sebuah mall.

bagaimana ini?

di kampungku banyak orang yang lebih miskin. namun tak ada yang menjadikan pengemis sebagai profesi. di jogja lebih dahyat lagi. bu ponirah (55), terpaksa melepas malunya dan mengayuh becak sejak suaminya digerogoti kanker. telah 15 tahun ia menjalani profes ini hanya untuk membayar utangnya yang entah lunasnya kapan.

dia dan teman-temannya, harus makan teratur sehari sekali, karena penghasilannya menyusut sejak makin banyak alat transportasi lain. namun mereka tak menyerah, tak mau menawarkan belas kasih. mereka tetap ceria. seperti kata-kata yang tertulis dalam becaknya: selamat, raharjo dan lainnya.

mereka rupanya lebih bisa melihat kedalam, seperti kata penyair jerman rainer maria rilke (1872-1926): “apabila kehidupan sehari-hari terasa miskin, jangan kau keluhkan tetapi sesalilah dirimu karena tak cukup tabah untuk menggali kekayaannya”.