mendengar vocabulari dukun, otak kita akan menggambar seorang tua kumal dan menyeramkan. ekuivalen dengan masyarakat kampung yang terbelakang, jauh dari peradaban maju dan agak beriman kepada selain tuhan.
namun pagi ini, aku memperoleh selebaran iklan sebuah pengobatan. brosur setengah halaman kuarto itu menerakan jejalan huruf yang berdesakan. kata yang tampak berukuran terbesar, aku duga nama seseorang, yang mengaku ahli penyembuh itu.
lalu berturut-turut deretan jenis penyakit yang bisa dia tangani, jumlahnya 51. juga alamat lengkap, nomor telepon, rute bus/ angkot untuk mengakses tempat prakteknya.
hebat sekali bukan? orang ini berkemampuan menyembuhkan mulai rematik, flek-flek hitam ,mani encer (emang ini penyakit?) , asam urat sampai suami yang tak betah di rumah.
di sebuah metropolitan yang modern ini dukun ternyata turut bermetamorfosis. tentu saja dia mengikuti perkembangan nilai-nilai kota yang penuh peradaban futuristic. utamanya penampilan yang bernuansa putih rapi. dan seperti profesioanl lainnya, jam prakteknya mulai jam 8 s/d 21:00. bedanya hari libur atau hari besar tetap buka.
seterusterangnya aku sangat penasaran di akademia mana mereka berguru. berapa lama menghabiskan waktunya untuk menjadi seorang ahli tht, gigi, penyakit kulit dan kelamin dan penyakit dalam?
aku yakin tak ada pengetahuan rahasia yang tak bisa diajarkan. andai aku mau suatu saat aku akan bisa sesakti mereka. dokter-dokter di rumah sakit boleh saja iri dengan pencapaian mereka yang seolah lewat jalan tol itu.
lalu media memakai media apa untuk proses penyembuhan itu? makan obat-obat kimia buatan apoteker atau ramuan tumbuhan/ rempah, dengan sentuhan atau rabaan atau bahkan hanya dengan doa, mantra atau kidung?
kalau benar, tentu dia orang yang sangat disayang Tuhan, karena doa-doanya selalu diperkenankan. cuman kenapa pasiennya masih harus membayar?
padahal mayoritas pasiennya orang kurang mampu atau orang kaya yang putus asa setelah berobat ke rumah sakit.
aku pernah mengantarkan seseorang yang sakit lever stadium parah ke Jakarta utara kira-kira 4 kali pertemuan. namun sayang, tanggal 14 februari 2007, adalah tepat seribu hari kematiannya.



dia jg manusia biasa yg punya kelebihan(ngakune), butuh makan dan minum….so..dia butuh biaya jg.
Comment by kenny — February 8, 2007 @ 3:46 am
Waduh, sampeyan ini kok nyinggung2 profesi saya hah.. Apa ndak takut saya santet?
Comment by dukun santet — February 8, 2007 @ 4:28 am
ppsssttt…bukan berobat ke dukun…berobat alternatif..!! kayak aliran musik aja…
Comment by passya — February 8, 2007 @ 8:28 am
dukun butuh makan bukan??
Comment by mei — February 8, 2007 @ 8:28 am
Kalo yang beriklan memang kelihatan profit oriented, tapi banyak juga yang enggak. Cuma biasanya punya modus sama, pake bantuan jin
Comment by Hedi — February 8, 2007 @ 11:48 am
Si Dukun juga butuh beli isi ulang pulsa buat nelpon ke dunia-perdukunan cari wangssit, gitu looh
Manusia boleh berupadaya – namun yg jelas gusti Alloh yang nentuin.. moga2 kita selalau berada dalam lindungan-Nya.
nanti ta’ kenalken deh dukun dari negeri si bau kelek ini..
Comment by Luigi — February 8, 2007 @ 11:56 am
kmrin ditanya seorang temen ttg dimana mencari orang pinter agar dia bisa segera punya anak? heh? dukun bisa kasih anak?? huebat bener dia ngalahin Tuhan?
Comment by bu guru — February 8, 2007 @ 1:16 pm
hehe… pernah iseng tanya2 di praktek pengobatan alternatif seperti itu…
biar kata menyewa satu petak kontrakan kecil tapi mereka punya penerima tamu juga lho… mungkin supaya terkesan tabib/dukunnya “sibuk”... padahal gak pernah ada antrean orang yg berobat di situ, hehe…
Comment by bagonk — February 8, 2007 @ 2:15 pm
biasanya di brosurnya ada kata2 ; ‘putus asa adalah dosa’
tapi biasanya laku aja ya? heran…
Comment by venus — February 8, 2007 @ 6:05 pm
Aseemmmm aku setiap aku buka neh blog kok isinya masih kelinci di bulan
heran deh pak de . penasaran apa neh blog gak di update .eh tau taunya Chace internet ku yng gak muter
) makanya tampil itu itu ajah pak de
abis tekan CTRL + F5 baru muncul topik baru pantesan gak update pikir ku
) sorry telat beri comment
Comment by Unsecure — February 8, 2007 @ 7:22 pm
Ingat lagu yang pernah tenar ahh :
DUKUN JUGA MANUSIAAA …. gitu kalo gak salah liriknya lho
hahahaha
Comment by untitled — February 8, 2007 @ 7:38 pm
hehe.. sedang asyik ngomongin dunia perdukunan ya? nanti ada yang marah lo?
betul semua yang komen diatas, dukun juga manusia dan butuh segalanya seperti manusia pada umumnya.
Comment by joni — February 9, 2007 @ 2:31 am
ada cara untuk mengenali dukun cewe cabuk tak?
Comment by jt — February 9, 2007 @ 2:51 am
mas KW mau ikutan profesi kayak gitu yach?? lumayan kok hasilnya, lah temenku pernah jual cincin yang katanya ada “isinya” 500.000 padahal belinya cuma 25.000. modal tipu2
Comment by Tresno — February 9, 2007 @ 7:28 pm