siklus tahunan itu berulang. namun banjir kali ini lebih menggila. entah curah hujan yang lebih deras atau sungai yang mendangkal dan menciut. kesamaanya banjir besar ini dimulai dengan hujan deras pada kamis.

kemarin, sejak pagi matahari tak muncul. gerimis turun, pelan namun makin menderas sampai jam pulang kantor. jalanan jakarta mengawali kemacetan malamnya. semua serentak pulang lebih awal, kecuali aku.

aku lebih suka melambatkan pulang, membunuh waktu dengan chatting, browsing.  teman yang lain sama. jam sembilan malam, deretan mobil tak mengurang. namun angkutan umum kosong. tak ada taksi yang lewat.

lapar.

kami sepakat memesan. oh dewa-dewa penguasa langit, aku pikir mereka bisa terbang. sampai tengah malam, kami belum menyuap. sampai ada ide membeli nasi goreng ke bawah saja. dan kedua pesanan itu datang pada waktu yang bersamaan.

jalanan tetap macet. desas-desus menyampaikan beberapa mobil malah mogok, mesinnya kalah melawan genangan air. tengah malam itu jalanan makin semarak dengan kemunculan anak-anak yang membantu mendorong mobil-mobil.  kesemrawutan itu makin sempurna ketika rambu-rambu tak dianggap tak ada.

karena terhadang banjir, pengendara bebas memutar balikkan mobilnya di sembarang tikungan. yang lebih parah para biker tak segan melewati jalur yang arusnya berlawanan. mereka juga bebas melajang  jalan tol, gratis lagi.

kemana polisi? tak seorang pun wakil dari korps pengayom masyarakat itu nampak. mungkin mereka juga takut air. seperti tikus got yang  bersembunyi di liangnya. dasar monyet!

kekesalan, kemarahan dan kekecewaannya pada tengah hujan itu mereka tumpahkan ke semua  teman, keluarga, kolega  yang berada di list hapenya. mungkin juga mumpung tarifnya lebih murah. beberapa operator malah menggratiskan.

aku juga. menanyakan ke semua teman/ saudara apakah tempat tinggalnya terendam. meskipun aku tahu benar, ada yang benar-benar tak ada banjir di rumahnya. aku  ingin mereka tak melewatkan  moment malam banjir ini.  

temanku dari pamulang mengabarkan, langitnya jam satu malam itu berwarna cerah keemasan, seperti langit setelah sunset, meskipun mengguyurkan hujan.

di belakang gedung, air merayap ke dinding rumah penduduk sedada orang dewasa. toa berteriak memanggil penghuni agar berkumpul di tempat yang lebih tinggi. 

lagi, siapkanlah uang yang cukup, mulai besok akan ada banyak posko banjir di sepanjang jalan dan selingkung rumah. :)

semalaman, aku meringkuk di kursi. lelap seperti kelinci dibulan.