akhir januari ini, awan-awan telah mengumpul, langit jakarta mengelabu.  sejak kemarin, musin basah ini memulai ritualnya.

tak hanya pak tani yang bersuka cita menyongsongnya, aku pun sangat menikmati air-air yang jatuh bebas itu. rintikan lembutnya, menyembulkan sensasi aneh. entah, mungkin rasa damai.

longoklah ke luar jendela, sepinggiran jalan dan taman itu, rumput dan pohon hijaunya lebih bersemangat. sehingga petugas pertamanan tak bersusah mengairinya  pas jam kerja dengan tangki dekilnya.

hujan juga memunculkan gairah makanku. udara dingin mungkin yang mempercepat lambungku kosong. menyeruput bakso panas bisa sangat pas.

aku yakin musim hujan ini mataku akan lebih sehat. airnya akan melenyapkan debu-debu berkuman yang memerihkan mata. mataku yang sensitip akan berwarna lebih jernih.

dengan hujan juga, pemandangan perempatan, pengkolan jalan tampak lebih indah. bersih dari preman, calo, timer yang bergerombol berteriak-teriak memperlakukan orang-orang seolah buta huruf. keberisikan dan kesemrawutan sangat berkurang.

arus lalu lintas lebih tertib, meskipun tak ada polisi. semua kendaraan memelankan laju kecepatan, karena  ada sebagian jalan yang tergenang. otomatis tak ada keluarga yang meraung-raung kehilangan orang yang dicintai.

kemacetan kali ini, masih menjadi alasan ampuh untuk berangkat kerja sangat siang. berangkat sepagi buta apapun, tetap saja tak berpengaruh andai jalanan tergenang banjir. aku kira semua mengalami hal yang sama.

apalagi kalau hujan itu mengguyur waktu pagi. gemericik airnya berubah menjadi orkestra simponi yang makin menina bobokan. aku makin merapatkan selimut sambil memeluk guling.

di tempat kost serasa senyaman singgasana. karena tak kemana-mana, sasaranku kini buku-buku yang masih tersegel. kok lumayan banyak juga ternyata. kasian selali mereka nyaris terlupakan. mungkin musim ini aku harus melahap semuanya.

hmmm sayang aku tinggal di negeri yang infrastruktur telekomunikasinya masih payah, sehingga tak bisa bekerja dari rumah saja. kalau bisa, berat badanku pasti akan melenting, tak kerempeng seperti sekarang.