rupanya, aku makin sering semena-mena membatalkan janji. sebelum mengatakan ya, aku tak berpikir matang. apalagi sampai ke efeknya.
sore itu teman mengajakku ke toko buku, aku mengiyakan. meski aku masih belum yakin bisa. hari kamis itu ada pekerjaan urgent (alasan. sebenarnya sih chatting belaka) .
terpaksa dia jalan sendirian di malam-malam yang gerimis itu. aku tak pernah berpikir dia bisa kecopetan, ditodong atau diperkosa di metroini yang remang-remang.
saat yang sama, aku menerima “undangan” teman-teman yang akan merayakan tahun baru hijriah di pamulang. rencanaku dari toko buku akan langsung ke rumahnya. pemilik rumah sejak siang telah mengabarkan telah belanja menu yang kupesan. sayur asem dan ikan asin plus sambal.
kami sepakat akan terjaga sepenuh malam, sampai pagi. biasanya kami saling sharing info, mereka-reka rencana masa depan dan apapunn. tak lupa aku memesan kuaci bunga matahari, kacang garing dan kopi lampung yang pekat.
rupanya, absenku menjadikan malam tahun baru itu lebih garing dari kacang yang disuguhkan. memang tak tampak mereka sampai kecewa. namun sayur asem yang tak tersentuh telah cukup membuktikan kebusukanku.
aku tahu mereka tak akan memaafkanku
pembatalan janji itu berefek seperti domino. sesuai agendaku, pagi ini jam 10 aku harus bertemu client yang meminta dibuatkan aplikasi untuk kantor kecilnya. saat dia menelepon konfirmasi, aku masih meneruskan chattingku. kami berencana bertemu di mall. dan dia mengatakan 5 menit lagi akan sampai.
mereka sudah memesan tempat di salah satu restoran, menurutnya dia membawa tiga koleganya. hmm… mungkin pagi ini merupakan hari terburuknya, bertemu aku yang tak mengerti etika bisnis. kasian juga sebenarnya. namun apa daya? (diam-diam setan membisikkan sebuah alasan pembenaran)
aku tahu benar, akibat kesemena-menaanku itu. apalagi di jakarta yang penghuninya sangat mobile. pembatalan janji yang mendadak berakibat sangat fatal. tak hanya waktu karena neraka kemacetan. namun juga ongkos yang harus dibayar.
andai semua orang telah mengendus kebiasaan burukku. tak ada lagi yang mempercayaiku, termasuk teman-teman dekatku? akan menjadi apa diriku?


