aha! hari ini aku mengenakan kemeja baru. keren? tampak luarnya saja. diam-diam sejujurnya aku merasa kasian. pada diri sendiri, juga ke dia.
bayangkan, untuk sampai bisa membalut tubuhku, ia harus melewati penjelajahan dahsyat.
berhari-hari melayari samudera dengan berdesakan pengap, bertumpuk dalam container pada sebuah kapal. sampailah di pelabuhan tanjung priok, harga dirinya terpelanting ke tempat terendah. dalam dokumen jati dirinya dipalsu menjadi “sampah” atau barang apapun yang pajaknya kecil.
lolos dari pelabuhan, nasibnya tak kunjung membaik. ia lalu dilacurkan. di pajang di mal atau butik agar dilihat banyak orang. ia juga dijadikan alat untuk mengelabui. tukang iklan akan meyakinkan pembeli habis-habisan bahwa ia sanggup menaikkan kelas sosial.
tepat. orang-orang terbius dan berbondong menyerbu. merabai, memegangi dan mencoba sebelum membawanya pulang dengan bangga. namun secara tak sadar tindakan itu mengakibatkan hal yang mengerikan.
agar warnanya tetap cemerlang, ia harus dicuci dengan bahan kimia yang tak hanya mematikan kuman, juga makhluk hidup lain. berpuluh air digelontorkan ke mesin pembersih. untuk menggerakkan baling-balingnya aja diperlukan energi listrik sangat besar, 660 volt. proses ini berulang tiga kali sebelum akhirnya direndam lagi dengan pelembut/ pewangi.
bisa dihitung berapa air yang dipakai untuk sepuluh juta penduduk Jakarta? mungkin ini salah satu penyebab langkanya air di bulan januari.
lalu ia dipaksa menantang matahari dan angin agar mengeringnya cepat. beruntung kita tak perlu membeli sinar matahari untuk keperluan ini.
panas itu belum cukup. ia harus berhadapan lagi dengan seterikaan yang panasnya 80 derajat C untuk membuatnya tak kusut dan rapi. perapian ini perlu zat kimia lagi untuk memudahkannya.
kini ia baru siap membungkus tubuhku. celaka ia harus menghirup wangi hug boss tak sehat yang kuguyurkan. mungkin ia sedih. karena aku hanya memakainya sedikit jam saja, namun ia harus melewati proses panjang yang melelahkan dan mahal.
sementara yang kuperoleh hanyalah pengakuan dari sedikit orang yang mempersepsikan bahwa aku modis. kasian deh aku.
semua itu belum seberapa andai dibandingkan dengan ulahku saat mencari uang untuk membelinya. segala upaya kulakukan asal digit saldoku terus merayap. tak segan aku memaki, menyikut bahkan merampas hak orang lain dengan paksa. jangan salah, aku juga suka bekerja sama. situ yang kerja, untung bagi sama.
asyik kan?


