punya teman yang suka membincangkan seks? aku punya juga. namanya adi, desainer berputeri satu ini gemar memblow up permainan seks dengan isterinya.
dan hari ini, aku mendengarkan cerita seks yang natural dan jujur. seks ternyata tak selalu indah seperti dalam lirik lagu, gambar-gambar film maupun fiksi lain.
ekspresi mimiknya lucu saat menyampaikan bahwa isterinya sangat sensitif suara. ia selalu menolak berhubungan saat di rumah ada tamu. siapapun dia, saudara, adik atau orang tua, apalagi orang asing. meskipun kamar sudah dikunci rapat!
tahun lalu, keinginannya untuk merayakan ulang tahun perkawinan di hotel batal. begitu juga ketika dia liburan lebaran di solo. di tempat “asing” itu mereka berdua “puasa” selama seminggu.
tentu saja hubungan seks hanya bisa mereka lakukan di rumahnya sendiri. itu pun suasananya harus tenang, sepi dengan lampu terang benderang.
putrinya yang baru berumur 3 tahun juga menjadi “perintang”. meskipun sudah disediakan kamar sendiri warna pink dengan banyak boneka, tetap saja sebelum tidur mereka bertiga di kamar tidur utama. adi harus mendongeng sampai anaknya lelap.
mau tak mau, mereka berdua menunggu sampai buah cintanya pulas untuk memulai foreplay. ternyata daya tahan kantuk isterinya lebih rendah dari anaknya yang kadang sampai jam sebelas malam.
begitu dibangunkan, isterinya lebih memilih bermimpi. “besok lagi kenpa? ngantuk banget nih”, jawabnya pendek. ml malam itu tertunda lagi.
besoknya, adi ingin mencoba suasana lain, di kamar mandi. jauh-jauh menit, isterinya menolak tak ingin kedingingan. lalu berencana beralihlah ke kamar tamu. alasannya kali ini, nanti susah ngebersihinnya.
memang andai tak mood, isterinya sangat susah diajak kompromi. untuk pose pose seperti dijelaskan dalam lembar-lembar kamasutra atau adegan di film-film, ia hanya berkomentar tanpa ekspresi. “jangan macam-macam, kalau mau begini”. cepetan!”.
adi yang sangat sabar itu menyadari benar, seks selain untuk ritual prokreasi, juga untuk sarana rekreasi. saat suntuk ditempat kerja, karena numpuknya kerjaan, membuatnya tiap malam ingin rileks.
isterinya yang sudah capek mengurus anak, rumah dan keluarga rupanya kurang bisa mengimbangi. “tiap hari kok minta, mending sana sama kuda?” isterinya mengomel.
sebenarnya ia tak ingin menambah anak lagi untuk sementara. ia menerapkan “sistem kalender”. sehingga setiap berhubungan dia meniru onan yang terpaksa menggauli tamar, karena perintah yehuda. bedanya mungkin zaman onan belum ada kalender kertas kali ya.
diam-diam malam itu seekor nyamuk hinggap di pantat isterinya. secara refleks ia menepuk serangga itu dengan tangan kanannya. gara-gara nyamuk itulah ia lupa berperan sebagai onan. kini isterinya hamil lagi.


