mungkin aku penumpang bus kota paling abai yang pernah ada di kota ini. selama di sini telah raib dua jam tangan, 3 hp, 3 ktp (dalam satu periode masa berlaku) dan beberapa kartu plastik. kecopetan.

peristiwa itu membuatku trauma.  kini aku tak pernah lagi memakai jam tangan, tak punya dompet dan tak beli hp. (hp yang aku pakai sekarang ini pinjaman dari kantor. setelah jengkel aku tak bisa dihubungi). dan lebih “waspada” saat berada di tempat umum, halte, terminal atau dalam bus.

dari banyak kasus yang aku alami, akhirnya aku bisa “merasakan kehadiran” orang-orang jahat itu. awalnya memang susah membedakan mereka dengan orang baik-baik.

mereka biasanya berkelompok minimal 3 orang atau lebih. rupanya mereka telah membuat skenario saat beraksi. seorang melakukan sesuatu yang menarik perhatian, orang kedua memepet si korban dan yang ketiga menjarah kantong atau tas calon korban.

tampang dan tubuh mereka dekil, tampak jarang mandi. tapi berusaha tampil rapi, kemeja dimasukkan, bersepatu tapi tak berkaos kaki. mereka tak membawa tas atau bawaan lain, kecuali koran berlipat. kadang-kadang mereka bertopi.

mereka rata-rata sudah berumur dewasa banget. sangat pantas kalau anak pertamanya sudah kelas 6 sd. jarang sekali copet berumur muda atau tampak lajang, cool dan “bersih”.

aku tak menggeneralisir orang-orang seperti itu orang jahat. namun selama ini dugaanku selalu benar. minimal telah terbukti 3 kali, sehingga aku tak menjadi korban.

pertama saat naik mayasari bakti 57 pulogadung-blok m. saat itu sudah jam 9 malam. karena telat, terpaksa ikut bus yang penuh itu. dan benar. di jalan tol, para copet itu beraksi. namun aksinya ketahuan.  

mungkin  sudah terlanjur “basah” kali. bukannya mereka takut dengan hajaran penumpang, mereka malah mengancam dengan senjata tajam. ampuh, nyali penumpang hilang. dan para pencopet kini bebas merampas dompet dan perhiasan ibu-ibu.

aku diam saja, dan mereka tak mengusikku. saat itu aku bercelana jins kumal yang sobek-sobek lututnya dan berkaos tidur warna putih.

yang kedua di bus 41 pulogadung-kota. kejadiannya persis di jalan tamrin, dekat monas. saat itu aku mau pergi ke glodok nyari vcd bokep. saat bus berhenti di lampu merah sarinah, aku naik. ternyata di atas telah terjadi “keributan”. seorang pencopet dihajar masa. aku lebih memilih turun, tak nyaman juga melihat pembantaian itu.

yang ketiga di mikrolet s 14 lebakbulus-cileduk. sebenarnya saat naik aku sudah menduga ada orang jahat di dalam. namun aku menepisnya. "masak sih di angkot ada copet?" saat itu ada seseorang yang membagikan brosur sambil ceramah tentang refleksi. eh salah satu ibu-ibu berekspresi  marah sambil mendekap tasnya lebih erat. merasa aksinya tak berhasil, para pencopet langsung turun, pura-pura naik mikrolet yang salah.

jadi ketika di halte, terminal atau tempat lain melihat orang-orang yang seperti itu, mungkin sebaiknya tidak menyendiri. apalagi kalau sampai orang itu memperhatikan, minimal melihat dua kali. aku yakin mereka punya niat jahat.