tak lama lagi aku akan naik kelas. buktinya akhir-akhir ini aku telah melewati banyak ujian. tentang pekerjaan, cinta dan peristiwa-peristiwa keseharian tak terduga yang mengharuskanku bersabar.

andai benar pepatah "makin tinggi pohon menjulang, makin keras badai menerpa", rasa ini mungkin yang sedang terjadi padaku. aku tak yakin dengan perasaanku sendiri itu. namun bisa jadi benar. siapa tahu?

setelah aku mereview perjalananku, rasanya ujian-ujian itu telah berlangsung sejak lama. dan sampai sekarang belum juga selesai. lalu kapan aku bisa lulus? aku kira aku belum pernah merayakan kelulusan sampai saat ini, sekali pun.

apakah mungkin ini bentuk lain dari rasa keserakahanku belaka? entah. aku belum menemukan jawaban.

aku ingin bertanya langsung kepada Tuhan saja. tapi,,,,Tuhan dimana Kamu? (sebenarnya pertanyaanku ini tak sepenuhnya tepat. bukankah Tuhan hanya satu dan bertempat di semesta alam raya ini?)

pak ustad dulu mengatakan Engkau berada di ketinggian yang tak mungkin kujangkau dengan tanganku. bagaimana agar aku akan sampai ke hadapanMu?

selama ini Engkau hanya menyampaikan pesan-pesan lewat pelangi, lewat bulu-bulu yang tumbuh di atas bibirku, lewat badai yang menenggelamkan kapal-kapal atau baris-baris kalimat di kitab suci.

aku masih belum bisa menafsirkan tanda-tanda yang Engkau tebarkan di sekelilingku. aku masih harus banyak belajar. sehingga ujian itu begitu terasa sangat pahit yang pekat.

andai aku menderita familial dysautonomia (penyakit keturunan yang tak mampu merasakan sakit/nyeri), rasa pahit itu takkan  pernah ada. cuman bukankah untuk memahami nikmatnya rasa manis harus memahami rasa pahit?

ok deh. sebaiknya aku mencipta danau saja. seperti yang pernah temanku alami, segenggam garam yang dituangkan ke dalam segelas air akan terasa sangat pahit. namun ketika garam itu ditaburkan ke sebuah danau, rasa asin yang pekat itu akan menjadi tawar.

masalahnya, seberapa kuat aku harus menggali tanah sedalam dan seluas danau?