suka dipuji ternyata mengendap di benak banyak orang, apa pun statusnya. meskipun sekedar basa basi, toh otak tetap saja mengirimkan sinyal perasaan nyaman ke hati . bahkan ada yang diam-diam berharap mendapatkannya.
termasuk kalian ngga?
rencana ini sudah kupersiapkan matang. datang di kantor cukup siang, jam sebelasan. ketika semua sudah datang dan waktu makan siang belum tiba.
aku melangkah dengan dada membusung. percaya diriku makin banyak dengan memakai baju baru terbaik dan rambut mohawk menantang langit warna putih.
(sebenarnya tak penting benar pakaian itu bagus atau tidak, kalau memang kita “cakep” bukankah tak pakai baju pun malah tambah cakep? )
orang layak mendapat pujian karena output baiknya. terserah siapa dia atau bagaimana visinya.
kayaknya ini hanya alasan untuk menutupi kekuranganku. aku menjadi korban mode dan zaman. namun hal itu tak mampu mengubah kesadaran warasku.
diam-diam aku ingin memaksa orang-orang menoleh kearahku. sengaja aku memilih warna oranye ngejreng agar kornea mata mereka cepat menangkap sosokku. baju itu aku beli di sebuah distro. dua kali aku mencobanya di fitting room, memastikan ianya ngepas di badanku.
aku serasa seperti model. aku berharap lebih gampang mendapatkan banyak teman. terutama si dia, orang tercakep terakhir yang nyangkut di hatiku. syukur-syukur ide-ide menarik muncul sambil menunggu respon mereka.
sebenarnya aku tahu, semakin ingin dipuji, semakin sengsara hidupku karena semakin tergantung pada orang lain. celakanya begitu susahnya menghilangkan ego itu.
orang-orang memang sempat memelototiku bersamaan. ada yang melempar senyum, ada yang langsung kembali menunduk. tak ada respon berlebihan.
sampai suara lantang dari arah belakang menggema. teriakan seorang desainer grafis, teman akrabku.
“wah bajunya ganteng. tasnya cakep. sepatunya keren. hanya orangnya aja yang jelek.”.


