hari pertama tahun baru ini, banyak bencana kematian mengerikan. km senopati  tenggelam di laut jawa, adam air hilang entah di mana setelah terbang dari surabaya menuju manado.

tiba-tiba takut kematian muncul menyergap. sepertinya ia mengendap-endap sangat dekat dan siap menjemput kapan ia mau. tanpa memberi aba-aba, tanda atau firasat.

sebenarnya, suara langit telah mengabarkan peristiwa itu sejak aku mengenal madrasah. katanya, kematian itu sebuah keniscayaan. semua makhluk hidup tak bisa mengelak. yang bisa dilakukan hanya mempersiapkan.

sampai hari ini, aku tak pernah serius bersiap. meski kematian bisa datang kapan saja dan disebabkan oleh apa saja. di lubuk hati yang paling dalam, aku masih meyakini, kematianku masih akan lama.

bukankah aku masih sangat muda? ( waks). setidaknya  banyak angkatan tua yang masih sehat. aku kira ini alasan ketakutanku belaka. aku tahu, banyak bayi dan anak meninggal dalam umur yang sangat muda.

kematian begitu menakutkan dan menyedihkan. ketakutanku itu karena sejak kecil dijejali dengan pandangan yang mungkin keliru tentangnya. kematian datang digambarkan  begitu menyakitkan, dan juga siksa kubur yang mengerikan.

sehingga banyak orang yang enggan meninggal.  sebisa mungkin menundanya? (memang bisa? )

mereka ingin lebih lama menikmati bunga deposito dari warisan kakeknya. mereka berhalusinasi dengan mengkonsumsi suplemen makanan kesehatan. tekonolog membantunya dengan menciptakan alat-alat canggih untuk mempertahankannya.  namun usaha mereka seolah sia-sia.

bukankah kematian hanyalah sebuah proses biasa seperti halnya kelahiran? sebagai janin, waktu itu aku tak pernah bisa tahu bagaimana alam dunia. oh ternyata di planet ini, aku bisa melacur, main judi atau menjadi ulama shaleh. aku diberi kebebasan untuk memilihnya.

nah siapa tahu di alam kubur sana, ada hal yang lebih menyenangkan dibanding di bumi ini? sayang belum ada kabar dari orang-orang yang telah meninggal tentang apa yang dialaminya di “sana” yang sampai ke telingaku hingga kini.

kematian adalah hak prerogatip mutlak penguasa alam. ia bisa dengan bebas mempermainkannya semau dia.  ia memisteriuskannya.

cara terbaik mungkin menerima kematian sebagai sesuatu yang “biasa”. dan dengan sadar bersiap menyambutnya. cuman masih saja aku tak sadar bahwa , setiap langkahku sebenarnya hanya mendekatkanku ke liang lahat. dan aku masih menunda-nunda mempersiapkannya.

Tuhan, aku masih ingin ngeblog :)