pagi ini, saat menyeberang jalan, aku berpapasan dengan penjual terompet. tahun baru masih empat hari lagi. namun geliat persiapan menyambutnya makin menggebu. kenapa rutinitas pergantian tahun itu selalu dirayakan?

pedagang terompet itu mengusung puluhan dagangannya. berbagai model terompet unik bergerombol membentuk rimbunan di ujung pundak. semua terbuat dari kertas emas yang memancarkan kilau.

ia menyusuri trotar dan berhenti disebuah halte.  langit akhir desember putih memburam menahan berat beban uap air yang segera jatuh. pak adi, nama penjual terompet itu tak ingin impiannya berantakan.  

sepagi itu, tentu belum ada yang sekedar menanyakan harga. tapi ia tetap bergeming. menunggu pembeli yang kesemuanya perkerja kantoran. karena memang halte itu bukan di sebuah daerah hunian.

Jari-jari lentik ibu-ibu sekeliling rumahnya yang membantu membuatnya. mereka yang tak pernah belajar desain itu bisa menciptakan bentuk unik.  bentuk sexophon yang ujungnya melengkung keatas misalnya.  

tahun baru ini ia berharap mendapat untung yang cukup. Uang itu akan segera dikembalikan ke anaknya yang sudah bekerja. namun ia sadar, keuntungan itu tak akan sebesar tahun-tahun sebelumnya. Hujan sebabnya.

Menurutnya, sudah lima tahun terakhir ini malam tahun baru selalu dalam hujan. parade perayaan di jalanan berkurang. Namun ia tetap berharap  bisa menjual sebanyak-banyaknya. tanpa harus menurunkan harga tentunya.

Mata cekung itu memandang lurus kedepan. Bibirnya yang hitam menghisap rokok kretek. tak ada ekspresi di wajah yang berkerut itu.  tak tampak sedih, tak juga ceria. hanya wajah isteri dan keempat anaknya yang berkelebatan di dalamnya.

ia tak pernah merayakan tahun baru bersama keluarga. ia harus menjual terompet dan topi sampai tengah malam. ketika keriuhan pesta menyurut, ia baru menuju rumah.

“pertama-tama memang sedih jauh dari anak-anak. tapi saya sudah melupakan kesedihan itu.” itu kan hanya masalah “rasa”.

ia melanjutkan, suka minum kopi? awalnya kopi itu terasa pahit. namun, dengan pengetahuan menanam, memanen dan meracik, kopi menjadi begitu nikmat. bahkan banyak orang menggilainya.

aku diam

gerimis tipis turun. kedua lututnya makin merapat, menyangga dagunya, memelototi kotak-kotak paving blok trotoar dibawahnya.

*** 

tet..tet…tet…. selamat tahun baru. semoga  semuanya menjadi lebih baik. amin

*judul nya nyontek lagunya green day