priangan, mengingatkanku pada sajak ramadhan kh, priangan si jelita. keelokan alamnya sampai kini masih seperti pada puisi yang terbit tahun 1950an, memukau.
sepanjang perjalanan ke garut, di kiri kanan jalan terhampar hijau persawahan dan perkebunan teh. udara sejuk menyelimuti pegunungan yang berselimut kabut tipis. kami menginap di kakinya dua malam.
saat embun masih di pucuk daun, kami berjalan membelah persawahan. menyibak rimbun rumpun padi, tomat, cabai, sawi hijau dan buncis. tanah di sini sangat subur. karena abu gunung galunggung yang sampai kini masih aktip.
bertelanjang kaki, kami menuju hulu sungai. hujan semalam membuat pematang sangat licin. sesekali teriakan muncul saat bertemu kadal, ular sawah atau akan tergelincir jatuh.
(aku yang sejak kecil berkecipak dengan lumpur, tak excited lagi. aku lebih suka menikmati kupat tahu pagi yang porsinya luar biasa banyak. makan tahunya saja sudah kenyang)
makan malamnya, duduk di halaman kami akan membentuk lingkaran mengepung api unggun dan domba guling.
agar lebih ramai, salah satu teman mengundang peramal, seorang ibu. ia akan menyampaikan pesan kepada penanya lewat kartu-kartu yang dibukanya. sebagian besar mereka menanyakan seputar masa depan, jodoh dan karir. jawabannya pun nyaris mirip: baik, baik dan baik.
sesi ini menghabiskan waktu yang sangat lama, berakhir tengah malam.
aku sendiri tak mau lagi meramalkan nasib. seperti yang sudah-sudah, menurut garis tangan masa depanku sangatlah suram. (inginnya aku membelokkan paksa garis tangan kiriku, tapi bagaimana caranya?)
lalu kami bernyanyi, gitar akustik mengiringi. main kartu gaple, main kartu uno, atau sekedar ngobrol. malam itu, kami nyaris tak tidur. sayang karena hujan, rencana api unggun itu batal. acara berlangsung di dalam rumah.
tak hanya perempuan yang suka belanja, laki-laki pun tak beda. sebagian besar dua hari itu habis untuk belanja.
hari pertama, acara mandi air panas batal. tepat jam 12, kami makan siang lalu ke pusat kerajinan kulit. sandal, sepatu jaket, gesper, tas, topi kupluk kulit berlimpah di sini. harga yang menggiurkan jika dibanding jakarta membuat mereka “lupa diri”.
oleh-oleh makanan khas garut tak mereka lewatkan. mengasyikkan menemukan makanan yang “aneh-aneh”. selain dodol, ada cimpring, ladu, wajit, rengginang dan segala macam yang kebanyakan berbentuk keripik. jam 19.00 akhirnya bisa pulang.
hari kedua, kami berkemas lebih pagi, karena akan mampir ke bandung. makan siang kali ini di sebuah kedai nasi timbel yang antrinya sangat panjang. aku lihat dari plat mobil yang diparkir, semua orang jakarta.
di jalan dago yang bertebaran factory outlet dan distro kami menyebar. dan sesuai kesepakatan jam 16:00 harus ngumpul lagi. namun apa lacur, jam 19:00 pun belum satu pun muncul. sehingga makan malam di kedai “rumah nenek” baru mulai jam delapan malam.
satu setengah jam makan malam selesai, lalu pulang. malam itu jalan tol cipularang cukup sepi sehingga pak sopir melajukan mobilnya sampai jarum di speedometernya “hilang”. hanya 90 menit, kami sampai di jakarta.
selama di jalan itu, perasaan saya lebih cemas dibanding ketika naik kora-kora atau halilintar di dufan.


