grandmotherbu, kulo nyuwun arta  
ing jawi wonten kere  
kerene lumpuh lan wuto  
sambat ngelak lan luwe  

iki loh ngger, wenehno  
sego iwak lan banyu
lan maneh kandanono  
saben dino kon mrene  

malam purnama. pandanglah ke bulan di langit, ada tikus meringkuk di sana. cahayanya mengguyur langit yang warnanya seperti laut. usai makan malam, momen seperti ini kami duduk di halaman.  dengan menggelar tikar, kami sekeluarga bercengkerama.

kami main galasin, atau tebakan rasi bintang, sampai mata menyipit. lalu ibu dengan pelan bersenandung.  ia menyanyikan lagu yang entah siapa penciptanya. mungkin beratus kali ia telah menyanyikannya. dan kuping kami rupanya belum jera mendengar syairnya. ada kekuatan dahsyat yang tersimpan pada larik-larik liriknya.

lagu itu begitu melekat di hati setiap anak yang lahir di kampung kami yang dikepung persawahan ini. lagu klasik ini telah menjadi dogma ajaran ibu-ibu kepada anak-anaknya.

keluargaku sebenarnya sangat sederhana, meskipun tak sampai kekurangan makan. ayah seorang petani biasa. dan ibu seorang manager rumah tangga yang hebat. dengan kepiawaiannya ia membuat semua urusan rumah tangga beres dan menyenangkan. seingatku, orang tuaku tak pernah bertengkar.

keluarga kami yang tampak “bahagia” itu, membuat para tetangga senang datang meminta pertolongan. namun ibuku tak pernah mengatakan itu. aku mengetahuinya secara pelan-pelan menjelang usainya tubuh kecilku.

tindakan yang kurasakan paling dahsyat darinya yakni ketika ada pengemis datang. ibu selalu mempersilakan masuk dan mengajaknya bicara. entah apa yang diobrolkannya aku tak pernah tahu. saat aku bertanya siapa mereka, ibu menjawab orang itu saudara jauh kita.

kepada anak-anaknya yang lima orang, dia selalu menekankan untuk membantunya bekerja. karena bekerja memberikan pengalaman baru yang nyata. tentu saja dengan seribu satu alasan aku suka membangkangnya.  dia tidak marah, hanya menasehati untuk segera melenyapkan rasa malas.

menurut dia, rasa malas itu tak ada obatnya, kecuali dilawan dengan paksa. berat awalnya memang. namun tidak lama. setelahnya akan merasa lega, puas. karena satu pekerjaan telah terselesaikan.

sampailah waktu “perpisahaan” itu. aku sedih tentu saja, namun ibuku tidak. ia malah mengusirku” dari rumah. “tak ada yang bisa kau lakukan di sini. pergilah mencari kehidupan baru. hati-hati, jangan pernah bohong.” lalu dia memberikan bekal, sebuah doa. harapnya aku selamat selama dalam perjalanan.

terlalu banyak kenangan tersimpan di kepalaku. tak kan cukup sebuah novel untuk membeberkannya. semua kenangan itu muncul hanya saat malam hening pukul 00 tengah bulan. saat seperti itu tiba-tiba saja aku sangat merindukannya.

namun ketika jumat akhir bulan habis gajian, tidak lagi. kerinduan itu tersembunyi di denting gelas dan keriuhan  canda tawa bercampur kepulan asap putih yang melingkar-lingkar.

entah betapa kecewanya andai ia tahu aku melanggar pesan-pesannya.

waktu yang perkasa tak ada yang sanggup menahan lajunya. termasuk meringkihkan tubuh perempuan yang melahirkanku itu. di usia tuanya ia sangat kesepian, karena semua anak yang dibesarkannya pergi.

jangankan bisa membalas semua budi baiknya, sekedar menanyakan kabarnya hari ini saja jarang. selalu sibuk alasanku. padahal sejatinya, aku memang tak pernah serius memperhatikannya. semoga dia memaafkanku.

image diambil dari corbis

lirik lagu dicomot dari superjenar