tangan lembut itu menepuk pundak kiriku, nida mengajakku makan siang. rupanya aku tak mendengar saat dia memanggil-manggil. suaranya tak mampu menembus headpun yang menutup rapat kedua kupingku.
lagu apa yang sebegitu membiusku itu? ia merebut mouse dan melihat list
beratus laguku. dia mengerutkan dahi saat melihat lagu jesus christ superstar, holly night, white chrismast, panis angeliscus dan sejenisnya di urutan pertama. berikutnya baru snada, gamelan jawa, bali, degung sunda, campur sari dan musik-musik relaksasi atau yoga.
“kenapa suka dengan lagu-lagu itu", tanyanya? mungkin ini bermula aku tinggal di tempat pak dhe sewaktu belanja nilai-nilai. aku pikir kedatanganku akan merepotkan, karena waktu itu bulan puasa. betapa tersiksanya sahur di tempat orang sendirian?
namun pikiran kotor itu langsung terhapus di pagi dini hari. tanpa perlu menset jam weker, bu dhe saya membangunkanku ketika menu makanan sudah siap. dan salah satu anaknya kadang-kadang menemaniku, meskipun hanya minum the hangat tawar. dia lebih tua dariku tiga tahun.
kadang pas hari minggu, sehabis sahur, kami tak kembali tidur, namun duduk di emperan dan berbincang sampai dia berangkat misa. kebiasaan sebulan penuh itu berulang pada tahun depannya.
kami berbincang tentang banyak hal. termasuk keyakinan kami masing-masing. kalau berangkat dari niat baik, positip thinking, keduanya tak ada yang salah. semuanya mengajarkan kebaikan. perbedaan-perbedaan hanya pada sisi teknis semata.
setahun kami merayakan “hari raya” dua kali. saat lebaran, ia merayakan di rumahku. dan saat hari raya desember aku yang merayakan di rumahnya. bahkan jauh hari sebelum hari h aku telah terlibat urusan dengan masalah perayaannya.
tiap sore mengantarkan latihan “koor” ke gereja, bahkan kadang menungguinya di luar. disini aku mulai mendengar lagu-lagu itu, lalu menikmatinya sampai sekarang.
di rumahnya yang cukup sederhana, kami mengubah lay out ruang tamu atau belanja pernak-pernik natal dan memasangnya. aku hanya membantu semampuku saja.
ada yang salah?
Nida hening.
lalu ia membuka isi tasku. kebetulan dua buku yang berada didalamnya terbitan yayasan ehipassiko. jangan khawatir, aku baik baik saja. aku sudah cukup dewasa untuk mempertimbangkan nilai-nilai itu. dan itu tak akan merusak aqidahku. aku menjelaskan setelah ia menatapku aneh.
aku memang baru belajar agama islam sebatas di sekolah. sampai sekarang pun belum lancar membaca quran, aku tak/belum merasakan getaran apa-apa. Makanya mulai minggu kemarin belajar iqro. ya saya kalah telak dibandingkan dengan anak-anak madrasah yang belum memahami baik buruk itu.
aku tak menyerah. aku terus mencari. aku tahu sesuatu itu berada sangat dekat denganku.
image diambil dari :www.lpj.org



smoga perbedaan itu bisa menambah ‘n mempertebal iman
Comment by kenny — December 19, 2006 @ 5:42 am
selama 27 tahun saya hidup dengan dua perayaan hari raya setiap tahunnya, tapi justru dari situ saya belajar banyak hal, ttg perbedaan yg indah, ttg memepertebal iman dan tentang menghargai sesama, kalo dipikir2 beruntungya saya
Comment by bu guru — December 19, 2006 @ 6:43 am
selamet ngunduh elmu pakdhe…mogo-moga pancaran elmunya membawa kebaikan dan bermanfangat bagi semua…
Comment by jt — December 19, 2006 @ 9:32 am
sama dong boss…saya juga berasal dari keluarga yang ‘kembang setaman’ dalam keyakinan
Comment by passya — December 19, 2006 @ 3:36 pm
...panis angelicus
fit panis hominum
dat panis caelicus
figuris terminum…
hidup dalam alam perbedaan membuat kita lebih menghargai toleransi dan dialog antar kepercayaan. semoga perbedaan membuat kita lebih satu.
lagu itu biasanya dinyanyikan saat paskah
Comment by fertob — December 22, 2006 @ 4:27 pm
saya rasa lebih tepatnya lagu itu biasanya dapat dinyanyikan pada saat penerimaan komuni, tidak hanya saat paskah. sesuai dengan artinya santapan para malaikat. begitukah?
Comment by didi — December 22, 2006 @ 7:21 pm
whew… salut…
sampai nggak bisa ngomong…
Comment by bagonk — January 2, 2007 @ 12:28 pm