punkapakah kau merasa  nyaman dengan nilai-nilai, etika dan norma yang berlaku di tempatmu? kalau kau menjawab ya, bersyukurlah.  kau akan selalu berurusan dengan orang-orang dengan mudah.

namun baiklah, kau  bukan orang yang seide denganku.

waktu aku masih sd, depdikbud sering mengadakan lomba cerdas tangkas. ( sekarang masih musim gak ya?). pesertanya tiga orang setiap regu. penyeleksiannya berdasar pada ranking kelas. aku selalu menjadi salah satu peserta tiap tahun, kecuali tahun ke tiga. posisiku digantikan oleh anak kepala sekolah, yang kutahu kemampuannya jauh dibawahku.

peristiwa itu menyemaikan benih yang memunculkan hasrat perlawanan secara diam-diam. aku tak percaya lagi aturan-aturan.  aku menolak nilai-nilai yang diajarkan sekelilingku. tiba-tiba semua itu terasa membelengguku.

lalu berpuluh pertanyaan berjejalan berebut ingin keluar dari kepalaku: kenapa begini, kenapa harus seperti itu?. sebenarnya siapa yang menciptakan semua yang memasung kebebasan itu?

dalam hati aku bersumpah, ingin mencipta nilai-nilai lain sesuai standarku. aku tak ingin berperilaku dan berpersepsi seragam dengan mereka. meskipun  ibuku sering mengatakan agar aku bisa meneladani si a yang dianggap berperilaku “baik”.

bukankah nilai-nilai itu hanyalah sebuah opini? dan opini hanyalah hasil kesimpulan dari memahami suatu fakta? Sehingga dari fakta yang ada, bisa muncul beragam pendapat. ya tak ada pendapat yang mutlak benar.

pemberontakanku itu makin berkembang saat kelas satu smu. pak guru siang itu mengajar prinsip ekonomi yang mengatakan ( sesuai di buku) : dengan modal sekecil-kecilnya harus menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

kesadaranku tertampar. pak guru mengajariku untuk menjadi pedagang yang serakah. kasus ini membuat keputusanku memilih jurusan bahasa, saat pembagian kelas. :(

aku mulai menginvetarisasi apa saja yang akan menjadi “musuh”ku. dan aku bersiap membangun strategi untuk melawannya. sampailah di metropolitan ini. di sini aku terdesak, terhimpit dari semua lini.

di jalan, orang-orang mengobarkan kebencian  pada mereka yang berkeyakinan beda. sepertinya mereka beranggapan ada banyak tuhan di kepalanya. dan tuhan dialah yang paling benar.

di mal hanya yang beruang banyak berkesempatan mendapatkan voucher belanja lebih besar. kau mungkin akan terkagum-kagum melihat mereka tampil modis. bajunya selalu mengkuti trend terkini. bagiku mereka tak lebih dari  orang yang tak punya kepribadian.  

di kantor-kantor pada hari raya, hanya rekanan se”level” yang mendapatkan parcel. buat apa coba, ibarat kera mendapatkan setangkai bunga.  masih banyak orang yang lebih pantas menerima bukan?

masih banyak masalah “mendasar” lainnya: perkawinan, agama misalnya. kalau aku sebutkan semuanya, kau akan menganggapku menderita scizofrenia atau alzeimer. sebaiknya aku sebut dalam hati saja.

yang jelas,  dengan sadar aku telah memilih menjadi contrarian. menentang semua bentuk kemayoritasan dan mendukung kaum minoritas yang dipinggirkan.