hungryhari ini aku tak bisa makan siang. sebenarnya ini bukan mutlak kesalahanku (mengelak). semua bermula pada sebuah janji yang ingkar. tanggal 12 desember pukul 00:00 mestinya transferan sudah masuk ke rekening. sampai waktu makan siang ini tak ada kabar.

 sehari sebelumnya aku memang  sengaja menghabiskan uang kes di tas dan juga yang masih di atm. (hmmm… kesannya uangnya uangnya banyak kan?).  bukankah besok pagi sudah  punya uang lagi. (oh ya jangan bayangkan besaran, nilai uangnya ya. )

 memang susah menghilangkan kebiasaan buruk itu. bukan aku tak paham perencanaan keuangan yang selalu dihembuskan pakar safir senduk. harus pintar memmbagi. untuk keperluan harian sekian,di tabung sekian dan seterusnya. paham sii. hanya saja prakteknya sangat susah.

secara tak sadar, otaku telah memanaj diam-diam, harus bisa menghabiskan uang sampai detik terkahir punya uang lagi. ya seperti sekarang ini misalnya. begitu dijanjiin hari ini ada transferan  masuk, seolah uang yang ada harus dihabiskan.

untuk apa? sangat tidak jelas. biasanya untuk membeli sesuatu yang tak direncanakan. dan yang pasti remeh-remeh dan tak penting banget. celakanya, setelah membeli biasanya barang atau sesuatu itu langsung terasa tak menarik. ada rasa sesal. namun hanya sangat sebentar. aku pintar melupakan.

kejadian ini bukan baru pertama kalinya. dan bukan pula aku tak menyadarinya. aku sudah berusaha habis-habisan menerapkan petuah pakar perencana keuangan itu. namun sisi lainku menolak. aku kerja aja sudah berpikir, masak buat diri sendiri aja mesti mikir-mikir lagi, betapa tersiksanya.

mungkin aku cukup beruntung, sampai sekarang belum pernah “bencana”  yang tiba-tiba  memaksaku menyediakan uang. entah saya juga tak tahu andai itu terjadi. pinjam ke teman, ke kantor, ke bank? proses waktunya pasti sangat lama. pakai kartu credit yang bunganya melebihi rentenir, mungkin tak akan kulakukan.

kali ini kekhawatiranku cuman lapar semata. entah apa yang akan terjadi andai harus ada ingkar janji lagi.