hujan pagi, selalu memberi kesan mendalam khususnya aku. senin ini, aku menjadi kambing congek.

begitu langkah sampai di jalan, deretan mobil sudah mendiam. melewati kecipak air, aku melintas menyeberang jalan menuju ke ruko. di emperan yang sempit itu, telah berjejal banyak orang. aku melesak ke dalam kerumunan.

semua menatapku, yang paling tajam, mata bapak-bapak setengah baya yang aku duga seorang karyawan keamanan. aku hanya melihat sepatu, celana biru tuanya dan model rambutnya.

benar, dia lalu mengajaku berbicara. tepatnya menceramahiku, tentang keimanan. hmm kiranya aku tampak orang tak baik-baik dimatanya. tapi kenapa dia peduli hanya kepadaku?

aku tak bereaksi apa-apa, hanya sesekali melihat ekspresi mimiknya yang bersemangat. sekitar lima menit ia menguraikan tentang bencana alam, kemarahan Tuhan dan perilaku orang-orang yang tak bermoral. ia mencontohkah kasus-kasus heboh tak bermoral terkini.

cukup hebat dia, bisa melihat tak ada tanda-tanda iman di diriku, seperti yang diuraikannya, tak ada warna hitam di jidatku. yang artinya jidatku tak pernah berbenturan dengan sajadah. wajahku imut dan “klimis” :) , tak miara janggut, apalagi sampai panjang berkibar-kibar.

aku masih diam saja. sekedar menampung uneg-unegnya, tak salah bukan?

ia menambahkan, orang beriman selalu mencontoh perilaku nabi yang selalu memakai baju gamis panjang, berkopiah putih dan tak lupa sorban kotak-kotak tersampir di pundak.

yang tak kalah penting, ia melanjutkan, harus bisa mengekspresikan kesedihan dan kesyukuran dengan bahasa arab sana dengan suara keras.

aku tak bisa memahami saat ia memvonis semua orang yang berada di luar kelompoknya kelak masuk neraka jahanam. makin aneh aja pak tua ini. apa maksudnya?

aku masih diam saja.

kali ini ia memberitahu mana-mana barang-barang di supermarket yang halal dan haram. tak lupa ia mengajak memboikot produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan “kafir”.

ia juga menyarankan untuk tak bosan mengikuti tableg akbar seperti yang disiarkan di tipi-tipi. ia lalu memperlihatkan barisan panjang jadwal lengkap kapan, dimana dan siapa dai yang akan memberikan ceramah.

dan “ceramah pagi ” itu berakhir dengan sebuah nasehat dahsyat: kalau mampu, berpoligamilah. karena tujuannya sangat mulia, untuk menghindari zina dan mengangkat derajat perempuan yang dipoligami.

deras hujan belum mereda. sudah jam sembilan sepuluh menit. kemacetan makin menggila. perutku mulas, menahan mual.