sudah wajar kali, sebagai pegawai kontrak di sebuah perusahaan, taraf kehidupanku beranjak tergantung harga-harga di luar. muak!
aku ingin jadi pengusaha saja dalam waktu dekat ini. tak perlu pusing dengan modal awal. pebisnis ulung modal awak waras pun cukup.
kira-kira usaha apa yang apa yang pas pada daerah yang penuh intrik, intimidasi, terror, banjir dan penuh kebohongan ini. tepat, buka praktek konsultasi serba bisa .
tak masalah benar apakah aku paham atau buta dengan spiritualitas atau problem lain. yang lebih penting berpenampilan agak nyentrik dan “serem”. bikin papan nama besar di depan rumah kost lalu beriklan koran.
aku yakin, pangsa pasarnya sangat besar. apalagi di tengah kesulitan hidup yang tak tahu kapan berakhir. juga sifat orang yang suka lewat jalan pintas ke atas tanpa mau kerja keras.
cara sederhana yang yang sering aku sarankan pada mereka agar cepat meraih jabatan atau tetap pada posisinya adalah dengan menjilat sampai licin atasannya.
atasan mana yang tak suka dijilatin? tak ada. buaian lidah-lidah berlendir busuk itu membuatnya serasa melangkah ke atas awan. mudah sekali bukan?
andai saran-saranku tak mempan, klient tak akan bisa menuntutku ke pengadilan. bukti apa yang bisa disampaikan di muka pak hakim? tak ada. dan kebanyakan mereka akan malu memperkarakan masalahnya.
tiga bulan lagi, aku sudah merekrut karyawan. biar betah, aku iming-imingi aja bonus atau kenaikan gaji berkala atau hal lain yang membuai.
tentu saja mereka tak sebodoh yang ku kira. diam-diam dia pasti lirak-lirik ke tempat baru. dan ketika ada tanda-tanda ingin keluar, baru aku tahan dengan cukup memberi insentip satu dua ratus ribu,
atau kalau dia memang ngotot mau pergi, silakan pergi aja, toh di luaran banyak pengangguran. pergi satu, undang sepuluh pun bisa kalau mau.
aku tak mau tahu kepayahan karyawan. akan aku peras habsi-habisan sampai dia pingsan pun jadi. aku tak peduli orang-orang sekitarku memberi julukan si raja tega.
dan sebisa mungkin akan kubayar serendah mungkin. tak peduli aku akan mendapatkan gelar si raja pelit. yang penting aku bisa senang diatas lelehan keringat orang-orang baik itu.
priangan, mengingatkanku pada sajak ramadhan kh, priangan si jelita. keelokan alamnya sampai kini masih seperti pada puisi yang terbit tahun 1950an, memukau.
bu, kulo nyuwun arta
tangan lembut itu menepuk pundak kiriku, nida mengajakku makan siang. rupanya aku tak mendengar saat dia memanggil-manggil. suaranya tak mampu menembus headpun yang menutup rapat kedua kupingku.

