hidup yang singkat, mari kita rayakan
dailyDecember 29, 2006 9:17 am

sudah wajar kali, sebagai pegawai kontrak di sebuah perusahaan, taraf kehidupanku beranjak tergantung harga-harga di luar. muak!

aku ingin jadi pengusaha saja dalam waktu dekat ini. tak perlu pusing dengan modal awal. pebisnis ulung modal awak waras pun cukup.

kira-kira usaha apa yang apa yang pas pada daerah  yang penuh intrik, intimidasi, terror, banjir dan penuh kebohongan ini. tepat, buka praktek konsultasi serba bisa .

tak masalah  benar apakah aku paham atau buta dengan spiritualitas atau problem lain. yang lebih penting  berpenampilan agak nyentrik dan “serem”. bikin papan nama besar di depan rumah kost lalu beriklan koran.

aku yakin, pangsa pasarnya sangat besar. apalagi di tengah kesulitan hidup yang tak tahu kapan berakhir. juga sifat orang yang  suka lewat jalan pintas ke atas tanpa mau kerja keras.

cara sederhana yang yang sering aku sarankan pada mereka agar cepat meraih jabatan atau tetap pada posisinya adalah dengan menjilat sampai licin atasannya.

atasan mana yang tak suka dijilatin? tak ada. buaian lidah-lidah berlendir busuk itu membuatnya serasa melangkah ke atas awan. mudah sekali bukan?

andai saran-saranku tak mempan, klient tak akan bisa menuntutku ke pengadilan. bukti apa yang bisa disampaikan di muka pak hakim? tak ada. dan kebanyakan mereka akan malu memperkarakan masalahnya.

tiga bulan lagi, aku sudah merekrut karyawan. biar betah, aku iming-imingi aja bonus atau kenaikan gaji berkala atau hal lain yang membuai.

tentu saja mereka tak sebodoh yang ku kira. diam-diam dia pasti lirak-lirik ke tempat baru.  dan ketika ada tanda-tanda ingin keluar, baru aku tahan dengan cukup memberi insentip satu dua ratus ribu,  

atau kalau dia memang ngotot mau pergi, silakan pergi aja, toh di luaran banyak pengangguran. pergi satu, undang sepuluh pun bisa kalau mau.

aku tak mau tahu kepayahan karyawan. akan aku peras habsi-habisan sampai dia pingsan pun jadi. aku tak peduli orang-orang sekitarku memberi julukan si raja tega.

dan sebisa mungkin akan kubayar serendah mungkin. tak peduli aku akan mendapatkan gelar si raja pelit. yang penting aku bisa senang diatas lelehan keringat  orang-orang baik itu.

dailyDecember 28, 2006 3:04 am

pagi ini, saat menyeberang jalan, aku berpapasan dengan penjual terompet. tahun baru masih empat hari lagi. namun geliat persiapan menyambutnya makin menggebu. kenapa rutinitas pergantian tahun itu selalu dirayakan?

pedagang terompet itu mengusung puluhan dagangannya. berbagai model terompet unik bergerombol membentuk rimbunan di ujung pundak. semua terbuat dari kertas emas yang memancarkan kilau.

ia menyusuri trotar dan berhenti disebuah halte.  langit akhir desember putih memburam menahan berat beban uap air yang segera jatuh. pak adi, nama penjual terompet itu tak ingin impiannya berantakan.  

sepagi itu, tentu belum ada yang sekedar menanyakan harga. tapi ia tetap bergeming. menunggu pembeli yang kesemuanya perkerja kantoran. karena memang halte itu bukan di sebuah daerah hunian.

Jari-jari lentik ibu-ibu sekeliling rumahnya yang membantu membuatnya. mereka yang tak pernah belajar desain itu bisa menciptakan bentuk unik.  bentuk sexophon yang ujungnya melengkung keatas misalnya.  

tahun baru ini ia berharap mendapat untung yang cukup. Uang itu akan segera dikembalikan ke anaknya yang sudah bekerja. namun ia sadar, keuntungan itu tak akan sebesar tahun-tahun sebelumnya. Hujan sebabnya.

Menurutnya, sudah lima tahun terakhir ini malam tahun baru selalu dalam hujan. parade perayaan di jalanan berkurang. Namun ia tetap berharap  bisa menjual sebanyak-banyaknya. tanpa harus menurunkan harga tentunya.

Mata cekung itu memandang lurus kedepan. Bibirnya yang hitam menghisap rokok kretek. tak ada ekspresi di wajah yang berkerut itu.  tak tampak sedih, tak juga ceria. hanya wajah isteri dan keempat anaknya yang berkelebatan di dalamnya.

ia tak pernah merayakan tahun baru bersama keluarga. ia harus menjual terompet dan topi sampai tengah malam. ketika keriuhan pesta menyurut, ia baru menuju rumah.

“pertama-tama memang sedih jauh dari anak-anak. tapi saya sudah melupakan kesedihan itu.” itu kan hanya masalah “rasa”.

ia melanjutkan, suka minum kopi? awalnya kopi itu terasa pahit. namun, dengan pengetahuan menanam, memanen dan meracik, kopi menjadi begitu nikmat. bahkan banyak orang menggilainya.

aku diam

gerimis tipis turun. kedua lututnya makin merapat, menyangga dagunya, memelototi kotak-kotak paving blok trotoar dibawahnya.

*** 

tet..tet…tet…. selamat tahun baru. semoga  semuanya menjadi lebih baik. amin

*judul nya nyontek lagunya green day

dailyDecember 22, 2006 11:31 am

garutpriangan, mengingatkanku pada sajak ramadhan kh, priangan si jelita. keelokan alamnya sampai kini masih seperti pada puisi yang terbit tahun 1950an, memukau.

sepanjang perjalanan ke garut, di kiri kanan jalan terhampar hijau persawahan dan perkebunan teh. udara sejuk menyelimuti pegunungan yang berselimut kabut tipis. kami menginap di kakinya dua malam.

saat embun masih di pucuk daun, kami berjalan membelah persawahan. menyibak rimbun rumpun padi, tomat, cabai, sawi hijau dan buncis. tanah di sini sangat subur. karena abu gunung galunggung yang sampai kini masih aktip.

bertelanjang kaki, kami menuju hulu sungai. hujan semalam membuat pematang sangat licin. sesekali teriakan muncul saat bertemu kadal, ular sawah atau akan tergelincir jatuh.

(aku yang sejak kecil berkecipak dengan lumpur, tak excited lagi. aku lebih suka menikmati kupat tahu pagi yang porsinya luar biasa banyak. makan tahunya saja sudah kenyang)

makan malamnya, duduk di halaman kami akan membentuk lingkaran mengepung api unggun dan domba guling.

agar lebih ramai, salah satu teman mengundang peramal, seorang ibu. ia akan menyampaikan pesan kepada penanya lewat kartu-kartu yang dibukanya. sebagian besar mereka menanyakan seputar masa depan, jodoh dan  karir. jawabannya pun nyaris mirip: baik, baik dan baik. ;)

sesi ini menghabiskan waktu yang sangat lama, berakhir tengah malam.

aku sendiri tak mau lagi meramalkan nasib. seperti yang sudah-sudah, menurut garis tangan masa depanku sangatlah suram. (inginnya aku membelokkan paksa garis tangan kiriku, tapi bagaimana caranya?)

lalu kami bernyanyi, gitar akustik mengiringi. main kartu gaple, main kartu uno, atau sekedar ngobrol. malam itu, kami nyaris tak tidur. sayang karena hujan, rencana api unggun itu batal. acara berlangsung di dalam rumah.

tak hanya perempuan yang suka belanja, laki-laki pun tak beda. sebagian besar dua hari itu habis untuk belanja.

hari pertama, acara mandi air panas batal. tepat jam 12, kami makan siang lalu ke pusat kerajinan kulit. sandal, sepatu jaket, gesper, tas, topi kupluk kulit berlimpah di sini.  harga yang menggiurkan jika dibanding jakarta membuat mereka “lupa diri”.

oleh-oleh makanan khas garut tak mereka lewatkan. mengasyikkan menemukan makanan yang “aneh-aneh”. selain dodol, ada cimpring, ladu, wajit, rengginang dan segala macam yang kebanyakan berbentuk keripik. jam 19.00 akhirnya bisa pulang.

hari kedua, kami berkemas lebih pagi, karena akan mampir ke bandung. makan siang kali ini di sebuah kedai nasi timbel yang antrinya sangat panjang. aku lihat dari plat mobil yang diparkir, semua orang jakarta.

di jalan dago yang bertebaran factory outlet dan distro kami menyebar. dan sesuai kesepakatan jam 16:00 harus ngumpul lagi. namun apa lacur, jam 19:00 pun belum satu pun muncul. sehingga makan malam di kedai “rumah nenek” baru mulai jam delapan malam.

satu setengah jam makan malam selesai, lalu pulang. malam itu jalan tol cipularang cukup sepi sehingga pak sopir melajukan mobilnya sampai jarum di speedometernya “hilang”. hanya 90 menit, kami sampai di jakarta.

selama di jalan itu, perasaan saya lebih cemas dibanding ketika naik kora-kora atau halilintar di dufan. :)

dailyDecember 20, 2006 2:42 am

grandmotherbu, kulo nyuwun arta  
ing jawi wonten kere  
kerene lumpuh lan wuto  
sambat ngelak lan luwe  

iki loh ngger, wenehno  
sego iwak lan banyu
lan maneh kandanono  
saben dino kon mrene  

malam purnama. pandanglah ke bulan di langit, ada tikus meringkuk di sana. cahayanya mengguyur langit yang warnanya seperti laut. usai makan malam, momen seperti ini kami duduk di halaman.  dengan menggelar tikar, kami sekeluarga bercengkerama.

kami main galasin, atau tebakan rasi bintang, sampai mata menyipit. lalu ibu dengan pelan bersenandung.  ia menyanyikan lagu yang entah siapa penciptanya. mungkin beratus kali ia telah menyanyikannya. dan kuping kami rupanya belum jera mendengar syairnya. ada kekuatan dahsyat yang tersimpan pada larik-larik liriknya.

lagu itu begitu melekat di hati setiap anak yang lahir di kampung kami yang dikepung persawahan ini. lagu klasik ini telah menjadi dogma ajaran ibu-ibu kepada anak-anaknya.

keluargaku sebenarnya sangat sederhana, meskipun tak sampai kekurangan makan. ayah seorang petani biasa. dan ibu seorang manager rumah tangga yang hebat. dengan kepiawaiannya ia membuat semua urusan rumah tangga beres dan menyenangkan. seingatku, orang tuaku tak pernah bertengkar.

keluarga kami yang tampak “bahagia” itu, membuat para tetangga senang datang meminta pertolongan. namun ibuku tak pernah mengatakan itu. aku mengetahuinya secara pelan-pelan menjelang usainya tubuh kecilku.

tindakan yang kurasakan paling dahsyat darinya yakni ketika ada pengemis datang. ibu selalu mempersilakan masuk dan mengajaknya bicara. entah apa yang diobrolkannya aku tak pernah tahu. saat aku bertanya siapa mereka, ibu menjawab orang itu saudara jauh kita.

kepada anak-anaknya yang lima orang, dia selalu menekankan untuk membantunya bekerja. karena bekerja memberikan pengalaman baru yang nyata. tentu saja dengan seribu satu alasan aku suka membangkangnya.  dia tidak marah, hanya menasehati untuk segera melenyapkan rasa malas.

menurut dia, rasa malas itu tak ada obatnya, kecuali dilawan dengan paksa. berat awalnya memang. namun tidak lama. setelahnya akan merasa lega, puas. karena satu pekerjaan telah terselesaikan.

sampailah waktu “perpisahaan” itu. aku sedih tentu saja, namun ibuku tidak. ia malah mengusirku” dari rumah. “tak ada yang bisa kau lakukan di sini. pergilah mencari kehidupan baru. hati-hati, jangan pernah bohong.” lalu dia memberikan bekal, sebuah doa. harapnya aku selamat selama dalam perjalanan.

terlalu banyak kenangan tersimpan di kepalaku. tak kan cukup sebuah novel untuk membeberkannya. semua kenangan itu muncul hanya saat malam hening pukul 00 tengah bulan. saat seperti itu tiba-tiba saja aku sangat merindukannya.

namun ketika jumat akhir bulan habis gajian, tidak lagi. kerinduan itu tersembunyi di denting gelas dan keriuhan  canda tawa bercampur kepulan asap putih yang melingkar-lingkar.

entah betapa kecewanya andai ia tahu aku melanggar pesan-pesannya.

waktu yang perkasa tak ada yang sanggup menahan lajunya. termasuk meringkihkan tubuh perempuan yang melahirkanku itu. di usia tuanya ia sangat kesepian, karena semua anak yang dibesarkannya pergi.

jangankan bisa membalas semua budi baiknya, sekedar menanyakan kabarnya hari ini saja jarang. selalu sibuk alasanku. padahal sejatinya, aku memang tak pernah serius memperhatikannya. semoga dia memaafkanku.

image diambil dari corbis

lirik lagu dicomot dari superjenar 

dailyDecember 19, 2006 5:28 am

eastertangan lembut itu menepuk pundak kiriku, nida mengajakku makan siang. rupanya aku tak mendengar saat dia memanggil-manggil. suaranya tak mampu menembus headpun yang menutup rapat kedua kupingku.

lagu apa yang sebegitu membiusku itu? ia merebut mouse dan melihat list
beratus laguku. dia mengerutkan dahi saat melihat lagu jesus christ superstar, holly night, white chrismast, panis angeliscus dan sejenisnya di urutan pertama. berikutnya baru snada, gamelan jawa, bali, degung sunda, campur sari dan musik-musik relaksasi atau yoga.

“kenapa suka dengan lagu-lagu itu", tanyanya? mungkin ini bermula aku tinggal di tempat pak dhe sewaktu belanja nilai-nilai. aku pikir kedatanganku akan merepotkan, karena waktu itu bulan puasa. betapa tersiksanya sahur di tempat orang sendirian?

namun pikiran kotor itu langsung terhapus di pagi dini hari. tanpa perlu menset jam weker, bu dhe saya membangunkanku ketika menu makanan sudah siap. dan salah satu anaknya kadang-kadang menemaniku, meskipun hanya minum the hangat tawar. dia lebih tua dariku tiga tahun.

kadang pas hari minggu, sehabis sahur, kami tak kembali tidur, namun duduk di emperan dan berbincang sampai dia berangkat misa.  kebiasaan sebulan penuh itu berulang pada tahun depannya.

kami berbincang tentang banyak hal. termasuk keyakinan kami masing-masing. kalau berangkat dari niat baik, positip thinking, keduanya tak ada yang salah.  semuanya mengajarkan kebaikan. perbedaan-perbedaan hanya pada sisi teknis semata.

setahun kami merayakan “hari raya” dua kali. saat lebaran, ia merayakan di rumahku. dan saat hari raya desember aku yang merayakan di rumahnya. bahkan jauh hari sebelum hari h aku telah terlibat urusan dengan masalah perayaannya.

tiap sore mengantarkan latihan “koor” ke gereja, bahkan kadang menungguinya di luar. disini aku mulai mendengar lagu-lagu itu, lalu menikmatinya sampai sekarang.

di rumahnya yang cukup sederhana, kami mengubah lay out ruang tamu atau belanja pernak-pernik natal dan memasangnya. aku hanya membantu semampuku saja.

ada yang salah?

Nida hening.

lalu ia membuka isi tasku. kebetulan dua buku yang berada didalamnya terbitan yayasan ehipassiko. jangan khawatir, aku baik baik saja. aku sudah cukup dewasa untuk mempertimbangkan nilai-nilai itu. dan itu tak akan merusak aqidahku. aku menjelaskan setelah ia menatapku aneh.

aku memang baru belajar agama islam sebatas di sekolah. sampai sekarang pun belum lancar membaca quran,  aku tak/belum merasakan getaran apa-apa. Makanya mulai minggu kemarin belajar iqro. ya saya kalah telak dibandingkan dengan anak-anak madrasah yang belum memahami baik buruk itu.

aku tak menyerah. aku terus mencari. aku tahu sesuatu itu berada sangat dekat denganku.

image diambil dari :www.lpj.org