officeboyseberapa banyak persediaan keinginan membantu yang kau siapkan hari ini? tak terpikirkan? andai jawabannya iya, aku menduga ada dua kemungkinan alasannya. pertama, membantu seseorang yang memerlukan memang sudah seharusnya. otomatis.  kedua, memang keinginan itu sudah lenyap, entah sejak kapan.

namun akan kutuliskan cerita si deni, opisboi ( jabatan resminya: pramubakti) di tempat kerjaku ini.

rabu, hari kerja ketiga ini aku menjadi orang yang menjengkelkan baginya. sejak pagi langit putih menebal. air hujan menetes pelan. bangun pagiku kesiangan. jam dinding di kamarku telah kulempar ke tempat sampah setahun lalu. aku tak  ingin tergesa karena jarum-jarumnya.

ku melangkah melewati lantai, meninggalkan jejak tapak sepatu berwarna coklat, lantai yang sebelumnya mengkilat oleh sapuan pel deni sejak pagi. aku agak tak enak memang, tapi rasa cuekku lebih besar. aku ingin segera menyalakan computer dan chatting.

di mejaku sudah tersedia segelas air putih yang tertutup. meskipun hujan dan ac menyala, rasa hausku tak juga lenyap. apalagi haus akan memanfaatkan kesempatan untuk minta tolong ( tidak menyuruh loh) untuk membuatkan kopi hitam manis untuk menghangatkan badanku.

hujan pagi tak memberi kesempatan mampir bubur ayam langganan, terpaksa aku minta tolong lagi nitip beli sarapan. melangkah dari meja ke meja, ia mencatat pesanan dan nilai uang yang diberikan teman-teman lain padanya. ia ingin memastikan uang kembaliannya tak salah.

baru saja ia menuruni tangga, ia berpapasan dengan maha, salah satu direktur. maha menyuruh mengantarkan tas bawaanya ke lantai lima, memakai lift yang jalannya terseok-seok. maklum  gedung ini memang telah renta.

pekerjaan seperti tak pernah usaii baginya. setiap hari, selain tugas hariannya, permintaan tolong selalu ada dari orang-orang. membayar kpr, listrik dan telepon ke bank, menguruskan perpanjangan stnk dan bpkb. juga memfoto kopi buku atau dokumen puluhan lembar.

hujan di luar masih belum reda. rutinitas membelikan makan siang lebih heboh dari pagi tadi. orang-orang enggan berjalan dibawah hujan. serentak aku dan semua kompak minta dibelikan makanan.

lima puluhan bungkus yang harus ia beli dengan menu yang berbeda. beberapa orang minta menu khusus: jangan pedes, tak memakai kerupuk, nasinya setengah dan entah apa lagi.

ia datang paling awal dan pulang ketika meja-meja tak berpenghuni itu tak ada serakan piring, gelas dan sejumput debu. dia tak tampak kelihatan mengeluh. selalu ada senyum di wajahnya yang menyimpan persediaan tolongnya yang tak pernah habis.