bulan mendatang, tanggal 25 desember pas hari senin. artinya akan ada libur raya tiga hari. kemana rencana akan menghabiskan waktu dan uang kalian?
jangan bertanya kepada pak bagus yang kutemui malam minggu kemarin. ia tinggal di serpong dan bekerja sebagai "messenger" di sebuah kompani. jarak rumah dengan tempatnya bekerja sungguh nyaris di luar jangkauan motor bebeknya. belum lagi pekerjaanya yang mengharuskan ia menyambangi gedung menjulang seputar jakarta. nyaris ia selalu pulang telat.
malam itu dia datang ke monas dengan isteri dan dua anaknya. menenteng tas plastik berisi air minum, makanan kecil dan selembar tikar pandan. anak pertamanya belajar di sekolah dasar negeri dan yang kecil belum sekolah.
malam itu langit biru. bulan penuh di langit. dan lampu-lampu taman memancarkan sinar putihnya, menerangi wajah-wajah yang tersenyum.
sepertinya mereka semua sedang meletakkan bebanya pada pohon-pohon palem yang bertebaran di area itu. jika dilihat dari puncak tugu, pelataran monas nyaris berwarna hitam, tertutup penuh kepala orang-orang yang berkerumun.
di atas rumput jepang yang tebal, anak-anak bertelanjang kaki bermain bola. ada juga yang bermain bulu tangkis. sebagian sibuk meniup cairan yang menghasilkan gelembung-gelembung udara dengan sedotan. namun yang paling banyak mereka bermain layang-layang. nyaris seribu layang-layang malam itu mengepung monas. harga per satunya hanya 3000.
orang tua mereka menggelar tikar dan mengawasi mereka dari kejauhan.
andai ingin berkeliling tanpa merasa lelah, cukup menyewa dokar yang yang berjejer di tempat "parkiran". sekali putaran sewa yang harus dibayar cuku murah 10.000. maksimal empat orang dewasa penumpangnya. bila dengan anak kecil bisa lebih.
ia memilih datang ke monas, karena satu alasan: di tempat itulah satu-satunya "public space" yang ada di jakarta. mana lagi ada ruang gratis di metropolitan ini mas, tanyanya.
ia tak pernah merencanakan liburan, apalagi ke luar kota. ia sudah cukup bahagia jika bisa memenuhi kebutuhan sekolah anaknya dan belanja harian isterinya. kalau berlibur yang sering ya ke tempat terbuka ini.
"berlibur kan tujuannya hanya melepas kepanatan. kalau cukup dengan menatap langit jakarta yang dipenuhi seribuan layang-layang, melihat kedua anaknya yang berlariaan, rasanya semua beban lenyap, masuk ke toilet-toilet berjalan yang di sediakan pemda dki di pinggir-pinggir pagar.".
ia seolah berbicara kepada dirinya sendiri. malam itu, pak bagus dan keluarga berlibur cukup empat jam. ia harus segera mengembalikan mobil yang di pinjamnya dari kantor. disamping kedua anaknya yang terlihat kelelahan, air minum dan makanan kecilnya sudah habis. mereka beringsut menuju tempat parkir dan pulang.
"tak perlu seperti orang-orang yang banyak duitnya. mereka pergi ke tempat-tempat jauh yang menghabiskan uang banyak.namun belum tentu mendapatkan "kesegaran" yang diinginkan. mereka sanggup membeli ranjang yang bagus, namun tak bisa membeli rasa nyenyak."


