ritual ini membuatku trauma. dulu sewaktu sd wali kelas tiap waktu tertentu merazia rambut. dan aku yang tak suka bercukur selalu menjadi sasaran "kemarahan". tak sampai di hukum memang.
di kampung itu, hanya sedikit yang bisa merapikan rambut. (jangan bayangkan ada salon atau pangkas rambut seperti di kota.) karena itu potong rambut tak perlu membayar. cukup ucapan terimakasih, dan tukang cukur yang kenalanku itu tak juga menuntut lebih.
celaka! rupanya dia tak memahami "karakter rambut dan bentuk kepalaku yang panjul, penyok sana sini. maklum, dia tak pernah kursus potong rambut di salon kecantikan. sehingga dia memotong tipe rambut dan kepala yang bermacam itu dengan teknik yang sama.
hasilnya? ancur-ancuran pastinya. apalagi dipikirnya anak kecil selalu abai pada penampilan. mungkin juga mereka memangkas rambut lurusku asal-asalan. yang penting hasilnya pendek.
tak jarang aku sering menjadi bahan ejekan teman-teman. mereka sebenarnya hanya bercanda. namun aku membenarkan penilaian mereka. dan sejak itu pencarianku pada seorang tukang cukur bermula.
seumur hidupku, baru dua kali aku ketemu dengan tukang cukur yang "memahami" karakter rambut dan bentuk kepalaku. juga keinginanku. yang pertama adalah temanku sendiri. namun ia sekarang sudah pindah ke tempat yang kurang memungkinkan kesana hanya untuk potong rambut.
dan yang kedua adalah pagi ini. di pinggir jalan daerah jalan veteran, diantara "ruko" yang masih tutup, pangkas rambut "laksana" ini sudah buka. seorang kakek-kakek menyambut ramah sambil merapikan alat di meja.
umurnya sudah sepuh untuk seorang pekerja. kulitnya keriput berbintik-bintik coklat namun bersih. ia tampak segar pagi itu. dari ceritanya dia pensiunan militer.
setelah "konsultasi" sekitar dua menit. dia menangkap keinginanku. ia menyelimutiku dan mulai memangkas. tangannya tangkas mengambil gunting. bukan gunting seperti biasa yang kita lihat. namun gunting yang "bergigi". gunting itu khusus memberi efek rambut menipis, tidak seperti gunting biasa yang memangkas menjadi pendek.
andai dibandingkan dengan babershop, pangkas rambut, salon kecantikan sebelumnya, hasilnya tak begitu mengecewakan. rapi dan yang lebih penting cukup "memperelok" sedikit percaya diriku.
hmm… rupanya trauma itu berangsur berkurang. masih ada seseorang yang mengerti keinginanku.



kadang memang tukang cukur dpr lebih
teknologi yangmengerti andaComment by passya — November 24, 2006 @ 7:51 am
tukang cukur lima ribuan emang tooop…
Comment by bagonk — November 24, 2006 @ 11:28 am
Sampe sekarang belum pernah dapetin tukang cukur yang pas.. hiks
Comment by [BY]onicS — November 25, 2006 @ 1:45 pm
paling top itu cukur sendiri …
setelah trial & error selama 2 tahun, tentunya.
untung kaga keliatan :B
Comment by kikie — November 26, 2006 @ 11:47 am
lama nggak berkunjung. apa kabar, mas?
Comment by sahrudin — November 26, 2006 @ 6:23 pm
hihihi
potong rambut juga kadang bikin repot. Wajahku yang kayak doel sumbang tapi pengen potongan rob thomas gondrong. Bikin bingung tukang cukurnya kan. Plus, sekarang rambutku makin mundur, bikin jidat tambah luas.
Udahlah kang udin, kalo bingung modelnya, bikin botoak aja
Comment by jtabah — November 27, 2006 @ 2:25 am
kok sama ya? saya juga ngerasa kalo yang bisa nyukur rambutku cuman ada satu orang. sayangnya dia tak tahu lagi ada dimana.
(
Comment by bangsari — November 27, 2006 @ 2:34 am
terima pasien cewek nggak sih tukang cukurnya?
Comment by elly.s — November 28, 2006 @ 8:29 am