diam-diam sebagian besar para urban jakarta emoh menghabiskan sisa hidupnya disini. mimpi mereka kelak akan menikmati hidup nyaman di suatu tempat.
waktu makan siang. namun tak cukup hasrat pergi ke kantin. terpaksa makan pizza di depan monitor dan sesekali say hello ke teman-teman yang tampak ol di ym. teman xx mengirimkan pesan yang mengatakan ingin secepatnya meninggalkan jakarta, ketika ia sudah "kaya" atau usia menua.
menurutnya jakarta terlalu hedonis, material, profan. tak sesuai dengan "nuraninya". ia menginginkan kesederhanaan yang menenteramkan. disuatu tempat yang masih segar aman dan keramaian yang wajar.
di kota ini, tak ada tempat buat para jompo dan manula. semuanyaberada dalam kondisi "mengejar", berlomba memperoleh informasi terkini dan bersaing untuk menuju posisi paling puncak. lalu orang-orang mengakui dirinya yang terhebat.
orang-orang jompo telah habis masanya.
apakah kalian juga akan menyepi ke "luar" menghabiskan masa tua? jika ya kalian sependapat denganku. teman yang dari jogja juga berkeinginan sama. bahkan seseorang mengungkapkan ketidaksukaannya dengan menulis "jakarta……********.
tentu tak hanya polusi fisik yang ada dalam pikiran blogger itu yang membalut kota pesisir ini. disini, orang-orang bernafas menghirup udara yang bercampur timbal dan seng dari asap hitam knalpot, rokok dan cerobong pabrik. air tanah yang tercemar bakteri dan terasa asin tak bisa dipakai untuk mandi, apalagi diminum. yang lebih menjijikkan, harus tinggal berdesakan di ruang-ruang sempit dan pengap.
tak hanya itu. polusi "moral" terus menerus menggempur adat norma dan agama. aku yakin pertarungan ini tak akan pernah berakhir. dan sekarang ini kayaknya keburukan berada diatas angin.
liat aja perilaku orang metropolitan yang permisif. mengganggap tak apa-apa semua perilaku dan imajinasi. yang penting tidak merugikan orang lain. termasuk bercinta massal di suatu tempat. atau mengikuti perilaku setan, berimajinasi mesum di ruang-ruang maya. malah kemarin saat menuggu angkot, seorang laki-laki datang dan menawarkan vcd bokep.
namun alasan itu tak cukup kuat bagi mereka yang memilih tinggal di jakarta yang berfasilitas lengkap. apa yang tak kau dapatkan selama saldo rekeningnya berdigit banyak? nyaris semua bisa dibeli. bahkan untuk sebuah doa atau air mata. lebih sederhana bukan?
chatting siang ini sampai membuat perutku berbunyi lagi. masih terasa lapar lagi. mungkin karena belum makan nasi? hua hua hua



jakarta menyimpan kerapuhan yang tak dapat terlihat mata telanjang. gemerlap dipermukaan aja yak?
mungkin mas.
Comment by bangsari — November 8, 2006 @ 11:47 am
Lha pak gubernurnya sendiri mengakui kok, bahwa jakarta itu kotanya para binatang buas hingga gubernurnya harus berperilaku lebih buas.
mending kalau cuman binatang. binatang kan gak rakus, hanya makan sebanyak muat perutnya. tak pernah korupsi..
Comment by wadehel — November 8, 2006 @ 1:16 pm
lambaiyan ijone godong gedang ora iso diukur nganggo duit, bila itu ada di djakarta … hiks
Comment by bahtiar — November 8, 2006 @ 8:21 pm
jakarta masih banyak yang ga terurus
Comment by Anang — November 8, 2006 @ 10:38 pm
mau nggak kalian jujur: hidup di jakarta itu (sebenarnya) enak (banget) asal banyak duit.
mungkin.. cuman kalau lebih suka hidup sederhana kan susah. kemana harus beli ketulusan? week
Comment by mumu — November 9, 2006 @ 2:41 am
globalisasi man… who can deny..??
kota2 lain juga akan secepatnya menyusul seperti Jakarta
Comment by passya — November 9, 2006 @ 7:41 am
jakarta…. saya nggak nyangka urip di sini sekarang… pergeseran hidup mulai terasa…
nguyuh mbayar.. es teh larang… pakanan aneh aneh… saben dino woruh wong ayu… akeh omongan sing ora tak mudengi… wong lanang akeh sing dandanane ora lumrah…
duh Gustiiii… paringono kula bojo ayuuu….
bukankah semua perempuan itu ayu? kalau sampean masih melihat tak ayu, pikiran sampean sebenarnya yang tidak “ayu”.
Comment by rambo perantauan — November 10, 2006 @ 8:20 am
jakarta…. saya nggak nyangka urip di sini sekarang… pergeseran hidup mulai terasa…
nguyuh mbayar.. es teh larang… pakanan aneh aneh… saben dino woruh wong ayu… akeh omongan sing ora tak mudengi… wong lanang akeh sing dandanane ora lumrah…
duh Gustiiii… paringono kula bojo ayuuu….
Comment by rambo perantauan — November 10, 2006 @ 8:23 am
Saya orang ndeso. Dari sumatera. Di sebuah gunung. Sekolahpun di Yogya yang ndeso.
Nah pertama kali ke jakarta, saya langsung sakit. Satu minggu kemudian saya pulang ke kost-an di yogya. kangen boso jowo.
Mimpi saya? Hidup di yogya, di kaki merapi.
Comment by tabah — November 29, 2006 @ 3:23 am