lebaran usai, lalu setelahnya apa? sebuah tanya bersemanyam dalam benak, ketika kakiku melangkah keluar untuk menuju jakarta kembali. nyaris dua minggu aku menikmati kepulangan ke tanah kelahiran. semuanya sudah berubah di sini.
panas kemarau tahun ini lebih menyengat. tanah retak-retak selebar kaki. rumput dan tanaman liar mengering. pohon jati di sepajang pinggir jalan meranggas, menyisakan daun-daun coklat berserak di tanah. aku berteduh di sebuah gedung sekolahan sd.
tempat itu pertama kalinya aku belajar merangkai huruf-huruf yang kelak bermakna dahsyat. gedung ini lengang. bagian pagar kayunya hilang. atap berlubang-lubang. kabar yang kudengar, gedung ini akan dirobohkan. terlalu sedikit anak baru yang lahir.
dulu, gedung ini dibangun ketika aku belum sekolah. keberadaanya disambut suka-cita, terutama olehku, karena aku tak perlu berjalan kaki ke sekolah lain yang lebih jauh. gedung ini sebentar lagi akan hilang, tak ada lagi.
ashes to ashes, dust to dust. innalilahi wa innalilahi rojiun. dari tak ada kembali ke tidak ada
di emperan itu aku bertemu dengan teman lamaku. bukan teman akrab sebenarnya, karena dia jauh lebih banyak, baik umur, visi dan pengalamannya. obrolan yang berawal dari ramah-tamah berlanjut ke masalah serius. lalu sampai pada kisah kehidupannya di jakarta dulu. sekian tahun bekerja, berjuang habis-habisan untuk mencari sesuatu yang sebenarnya tak begitu diperlukan.(1)
setiap lebaran ia selalu membagi-bagi angpao kepada anak-anak kecil. mendata anak-anak yang tak mampu membayar sekolah dan orang-orang tua/jompo yang "terlantar". tiap bulan mengirimkan uang ke pak rt untuk dibagikan.
aku menduga ia hanyalah seorang yang putus asa karena gagal mengencani model bertarif 15 juta semalam, atau karena jilatannya kurang licin sehingga bos tak mempromosikan jabatannya.
ketika aku tanyakan alasannya, ia menjawab. "aku ingin berperan seperti Tuhan, melakukan sesuatu yang memang seharusnya dilakukan. membantu mereka yang membutuhkan. bukan dikarenakan ancaman atau iming-iming apa pun, termasuk surga dan neraka, apalagi hanya sekedar pujian dari tetangga dan kawan.
pulang kampung, baginya merupakan sarana latihan untuk “pulang” yang sebenarnya. pulang dalam kesendirian menuju ke ketiadaan.
menurutnya, ia tidak mau menjadi satpam yang harus menjaga uangnya, ia lebih memilih membelanjakan kebaikan dan pengetahuan yang bisa menjaga dirinya. selain itu. bukankah semakin tidak punya apa-apa semakin ia tak merasa kehilangan?
lalu bagaiimana ia menghadapi kaum urban yang menilai keberhasilan seseorang berdasar banyaknya materi yang dikumpulkan?
"itu kan hanya pendapat." pendapat bukanlah sebuah kebenaran. karena kesepakatan banyak orang saja lalu lama-lama pendapat itu dianggap sebagai kebenaran. (2)
menurutnya, uang yang ia hamburkan itulah sebenarnya harta yang ia miliki.
begitulah, uraiannya yang membuat dahiku berkerut. lalu ia melanjutkan. "waktu kita disini sangat sebentar. hidup adalah sebuah cahaya halilintar pada saat badai, dimana kita harus mengetahui sebelum dan sesudahnya". (3) kalau tak tahu, bagaimana kelak kau akan bisa tahu jalan ke "sana", boro-boro bisa selamat?
ia telah menentukan pilihan bebasnya, tanpa tekanan dari mana-mana selain nuraninya sendiri. ia telah belajar melepas ego dan kepemilikan. apakah berarti ia tak mengejar karir, materi? tentu saja masih.
kok plin plan? bukan begitu. ia tetap berusaha habis-habisan semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil terbaik. dengan begitu ia bisa berperan terhadap lebih banyak orang.
kepulanganku kali ini, memberikan pelajaran yang mestinya telah kusadari sejak dulu kala. kelak aku ingin meniru perjalanan temanku itu. sebuah perjalanan menuju ke ketiadaan. terlambat memang, karena aku lebih terlena kenikmatan dunia.
sampai kapan kau akan mengejar dunia? kau telan dunia sekalipun kau tak kan merasa puas. (4)
lebaran setahun lagi, akankah masih bisa pulang kampung dan berjumpa dia lagi?
(1) Chuck Palahniuk, Fight Club(2) Achmad chodjim, makna kematian
(3) Muhammad Zuhri, dalam sebuah artikel
(4) Bangsari, http://bangsari.blogspot.com)



nice opinion! harta yang kita miliki sebenernya adalah harta kita yang kita berikan untuk orang lain!
saya jadi semangat untuk beramal!
Insya Allah diberi rezeki
aku hanya menulis ulang opini orang lain ko.
Comment by black_hack — November 5, 2006 @ 7:43 pm
tulisan yang sangat bagus. kurasa ini salah satu tulisan terbaikmu, kalo bukan yg memang terbaik selama ini.
masa sih. ok deh thx eniwe . jadi makin semangat nih
Comment by mumu — November 7, 2006 @ 1:50 am
kayanya www.bangsari.blogspot.com deh, bukan www.bangsari.blogsome.com.
hohoho …. maap! aku edit sekarang.
Comment by bangsari — November 7, 2006 @ 5:26 am