hidup yang singkat, mari kita rayakan
dailyNovember 30, 2006 9:47 am

boredmembuat revolusi setiap hari. mungkin ini akan membuatku keluar dari kurungan kejenuhan. entah kenpa akhir-akhir ini aku merasa tak punya rasa, selain semuanya tampak tidak menarik.

jangankan untuk bekerja, untuk melakukan yang biasa aku suka saja, keinginan itu tiba-tiba lenyap.

otakku sudah keropos. tak mampu lagi meretrive kenangan-kenangan membahagiakan yang telah lewat. (aku lupa apakah aku pernah bahagia?). sehingga sampai sekarang kejenuhan itu makin tak terperi. padahal aku habis-habisan berusaha melenyapkan.

aku paham, keceriaan tak datang dari benda-benda di luar diri. namun tetap saja aku melakukan "revolusi" setiap hari. tepatnya sejak aku mengubah style rambutku menjadi mohawk minggu lalu.

ada sensasi yang beda. namun hanya sangat sebentar. lalu aku kini mulai berburu t shirt bergaris. memelototi facotry oulet dan distro distro yang kejangkau dengan digit saldo. dan memuseumkan celana jeans, menggantinya dengan celana bahan yang lebih lembut dan "sopan".

yang cukup frontal, menset weker bunyi jam 04.00 pagi. berjalan di sekitar tempat kost. kali ini lebih banyak mengamati pohon-pohon, sampah atau rumput ilalang yang berada di punggir jalan.  atau keriuhan orang-orang yang berangkat kerja. tak ada kicau burung dan embun disini.

jalan-jalan itu cukup membuat badan berkeringat setelah memutari empat kali "sekelompok" rumah. olahraga ringan itu sedikit melegakan, setidaknya fisik agak segar. beruntung kalau perut buncit ini bisa menyusut. karena kebiasaan burukku yang lain, kalau lagi suntuk suka makan sampai kekenyangan. meskipun kadang-kadang muntah lagi.

ke kantor? hanya sebatas rutinitas, tak ada kegairahan. bukan masalah pekerjaan dan gaji atau pertemanan. semua tak masalah. mungkin masalahnya lebih dari itu. seharian sengaja aku mendengarkan lagu-lagu mars yang menggugah sambil menyelesaikan pekerjaan.tiap hari sengaja berangkat dan pulang ke kantor melewati jalur yang berbeda. agar terhindar dari menyeberang jalan juga.

sebelumnya, ketika rasa jenuh itu datang, cukup dengan nonton dvd bajakan atau membaca  fiksi yang aneh-aneh. sekarang tak mempan lagi.

jalan malam pun sekarang jarang. belum mendengar acara atau tempat yang "direkomendasikan" selain jifesst. sampai sekarang yang belum aku lakukan mungkin undangan teman untuk berbincang  di depan hotel bundaran indonesia.

ketika semua kejenuhan itu aku muntahkan ke temanku, dia hanya berkata pendek, "kamu tuh kurang bersyukur!"

ha ha

dailyNovember 29, 2006 8:19 am

officeboyseberapa banyak persediaan keinginan membantu yang kau siapkan hari ini? tak terpikirkan? andai jawabannya iya, aku menduga ada dua kemungkinan alasannya. pertama, membantu seseorang yang memerlukan memang sudah seharusnya. otomatis.  kedua, memang keinginan itu sudah lenyap, entah sejak kapan.

namun akan kutuliskan cerita si deni, opisboi ( jabatan resminya: pramubakti) di tempat kerjaku ini.

rabu, hari kerja ketiga ini aku menjadi orang yang menjengkelkan baginya. sejak pagi langit putih menebal. air hujan menetes pelan. bangun pagiku kesiangan. jam dinding di kamarku telah kulempar ke tempat sampah setahun lalu. aku tak  ingin tergesa karena jarum-jarumnya.

ku melangkah melewati lantai, meninggalkan jejak tapak sepatu berwarna coklat, lantai yang sebelumnya mengkilat oleh sapuan pel deni sejak pagi. aku agak tak enak memang, tapi rasa cuekku lebih besar. aku ingin segera menyalakan computer dan chatting.

di mejaku sudah tersedia segelas air putih yang tertutup. meskipun hujan dan ac menyala, rasa hausku tak juga lenyap. apalagi haus akan memanfaatkan kesempatan untuk minta tolong ( tidak menyuruh loh) untuk membuatkan kopi hitam manis untuk menghangatkan badanku.

hujan pagi tak memberi kesempatan mampir bubur ayam langganan, terpaksa aku minta tolong lagi nitip beli sarapan. melangkah dari meja ke meja, ia mencatat pesanan dan nilai uang yang diberikan teman-teman lain padanya. ia ingin memastikan uang kembaliannya tak salah.

baru saja ia menuruni tangga, ia berpapasan dengan maha, salah satu direktur. maha menyuruh mengantarkan tas bawaanya ke lantai lima, memakai lift yang jalannya terseok-seok. maklum  gedung ini memang telah renta.

pekerjaan seperti tak pernah usaii baginya. setiap hari, selain tugas hariannya, permintaan tolong selalu ada dari orang-orang. membayar kpr, listrik dan telepon ke bank, menguruskan perpanjangan stnk dan bpkb. juga memfoto kopi buku atau dokumen puluhan lembar.

hujan di luar masih belum reda. rutinitas membelikan makan siang lebih heboh dari pagi tadi. orang-orang enggan berjalan dibawah hujan. serentak aku dan semua kompak minta dibelikan makanan.

lima puluhan bungkus yang harus ia beli dengan menu yang berbeda. beberapa orang minta menu khusus: jangan pedes, tak memakai kerupuk, nasinya setengah dan entah apa lagi.

ia datang paling awal dan pulang ketika meja-meja tak berpenghuni itu tak ada serakan piring, gelas dan sejumput debu. dia tak tampak kelihatan mengeluh. selalu ada senyum di wajahnya yang menyimpan persediaan tolongnya yang tak pernah habis.

dailyNovember 27, 2006 9:50 am

monasbulan mendatang, tanggal 25 desember pas hari senin. artinya akan ada libur raya tiga hari. kemana rencana akan menghabiskan waktu dan uang kalian?

jangan bertanya kepada pak bagus yang kutemui malam minggu kemarin. ia tinggal di serpong dan bekerja sebagai "messenger" di sebuah kompani. jarak rumah dengan tempatnya bekerja sungguh nyaris di luar jangkauan motor bebeknya. belum lagi pekerjaanya yang mengharuskan ia menyambangi gedung menjulang seputar jakarta. nyaris ia selalu pulang telat.

malam itu dia datang ke monas dengan isteri dan dua anaknya.  menenteng tas plastik berisi air minum, makanan kecil dan selembar tikar pandan. anak  pertamanya belajar di sekolah dasar negeri dan yang kecil belum sekolah.

malam itu langit biru. bulan penuh di langit. dan lampu-lampu taman memancarkan sinar putihnya, menerangi wajah-wajah yang tersenyum.

sepertinya mereka semua sedang meletakkan bebanya pada pohon-pohon palem yang bertebaran di area itu. jika dilihat dari puncak tugu, pelataran monas nyaris berwarna hitam, tertutup penuh kepala orang-orang yang berkerumun.

di atas rumput jepang yang tebal, anak-anak bertelanjang kaki bermain bola. ada juga yang bermain bulu tangkis. sebagian sibuk meniup cairan yang menghasilkan gelembung-gelembung udara dengan sedotan. namun yang paling banyak mereka bermain layang-layang. nyaris seribu layang-layang malam itu mengepung monas. harga per satunya hanya 3000.

orang tua mereka menggelar tikar dan mengawasi mereka dari kejauhan.

andai ingin berkeliling tanpa merasa lelah, cukup menyewa dokar yang yang berjejer di tempat "parkiran". sekali putaran sewa yang harus dibayar cuku murah 10.000. maksimal empat orang dewasa penumpangnya. bila dengan anak kecil bisa lebih.

ia memilih datang ke monas, karena satu alasan: di tempat itulah satu-satunya "public space" yang ada di jakarta. mana lagi ada ruang gratis di metropolitan ini mas, tanyanya.

ia tak pernah merencanakan liburan, apalagi ke luar kota. ia sudah cukup bahagia jika bisa memenuhi kebutuhan sekolah anaknya dan belanja harian isterinya. kalau berlibur yang sering ya ke tempat terbuka ini.

"berlibur kan tujuannya hanya melepas kepanatan. kalau cukup dengan menatap langit jakarta yang dipenuhi seribuan layang-layang, melihat kedua anaknya yang berlariaan, rasanya semua beban lenyap, masuk ke toilet-toilet berjalan yang di sediakan pemda dki di pinggir-pinggir pagar.".

ia seolah berbicara kepada dirinya sendiri. malam itu, pak bagus dan keluarga berlibur cukup empat jam.  ia harus segera mengembalikan mobil yang di pinjamnya dari kantor.  disamping kedua anaknya yang terlihat kelelahan, air minum dan makanan kecilnya sudah habis. mereka beringsut menuju tempat parkir dan pulang.

"tak perlu seperti orang-orang yang banyak duitnya. mereka pergi ke tempat-tempat jauh yang menghabiskan uang banyak.namun belum tentu mendapatkan "kesegaran" yang diinginkan. mereka sanggup membeli ranjang yang bagus, namun tak bisa membeli rasa nyenyak."

dailyNovember 24, 2006 6:55 am

gundulritual ini membuatku trauma. dulu sewaktu sd wali kelas tiap  waktu tertentu merazia rambut. dan aku yang tak suka bercukur selalu menjadi sasaran "kemarahan". tak sampai di hukum memang.

di kampung itu, hanya sedikit yang bisa merapikan rambut. (jangan bayangkan ada salon atau pangkas rambut seperti di kota.) karena itu potong rambut tak perlu membayar. cukup ucapan terimakasih, dan tukang cukur yang kenalanku itu tak juga menuntut lebih.

celaka! rupanya dia tak memahami "karakter rambut dan bentuk kepalaku yang panjul, penyok sana sini. maklum, dia tak pernah kursus potong rambut di salon kecantikan. sehingga dia memotong  tipe rambut dan kepala yang bermacam itu dengan teknik yang sama.

hasilnya? ancur-ancuran pastinya. apalagi dipikirnya  anak kecil selalu abai pada penampilan. mungkin juga mereka memangkas rambut lurusku asal-asalan. yang penting hasilnya pendek.

tak jarang aku sering menjadi bahan ejekan teman-teman. mereka sebenarnya hanya bercanda. namun aku membenarkan penilaian mereka. dan sejak itu pencarianku pada seorang tukang cukur bermula.

seumur hidupku, baru dua kali aku ketemu dengan tukang cukur yang "memahami" karakter rambut dan bentuk kepalaku. juga keinginanku. yang pertama adalah temanku sendiri. namun ia sekarang sudah pindah ke tempat yang kurang memungkinkan kesana hanya untuk potong rambut.

dan yang kedua adalah pagi ini. di pinggir jalan daerah jalan veteran, diantara "ruko" yang masih tutup, pangkas rambut "laksana" ini sudah buka. seorang kakek-kakek menyambut ramah sambil merapikan alat di meja.

umurnya sudah sepuh untuk seorang pekerja. kulitnya keriput berbintik-bintik coklat namun bersih. ia tampak segar pagi itu. dari ceritanya dia pensiunan militer.

setelah "konsultasi" sekitar dua menit. dia menangkap keinginanku. ia menyelimutiku dan mulai memangkas. tangannya tangkas mengambil gunting. bukan gunting seperti biasa yang kita lihat. namun gunting yang "bergigi". gunting itu khusus memberi efek rambut menipis, tidak seperti gunting biasa yang memangkas menjadi pendek.

andai dibandingkan dengan babershop, pangkas rambut, salon kecantikan sebelumnya, hasilnya tak begitu mengecewakan. rapi dan yang lebih penting cukup "memperelok" sedikit percaya diriku.  

hmm… rupanya trauma itu berangsur berkurang. masih ada seseorang yang mengerti keinginanku. :)

dailyNovember 22, 2006 12:08 pm

nyala lampu belum mati
ku bergegas
menuju tugas

menyusup
berdesak di sela ketiak
di metromini yang berderak

nafas tertahan
terjebak diam jalanan

bertahun, setiap hari
akankah usai