pulangjakarta minggu terakhir di pagi menjelang lebaran ini suasananya mulai berubah. jalan-jalan tampak lebih lapang. kesibukan berangsur berpindah menuju ke terminal, stasiun dan bandara.

orang-orang yang ingin kembali ke kampung halamannya. sebelumnya mereka telah memeprsiapkan segalanya. ada yang sejak hari pertama puasa telah sibuk memesan tiket, membeli oleh-oleh. bahkan ada yang mempersiapkan angpao sejak enam bulan lalu.

bagi teman yang deretan  digit saldonya panjang, tak begitu menjadi persoalan. tinggal memesan tiket lewat telepon, web dan  klik, klik klik. beres semuanya.

namun lihatlah teman-teman yang memakai bus atau kereta api kelas bisnis / ekonomi. mereka harus antri sejak subuh, berdesakan di stasiun yang kumuh dan bau. beruntung pihak stasiun membuat panggung dangdut.

sebagian yang lain lebih memilih mengendaraii sepeda motor. diperkirakan tahun ini naik empat puluh persen. bayangkan,  nyaris seribu mil lebih sedapa (pinjam kata-katanya iwan abdurahman) mereka menuju timur.

orang-orang yang "berjihad"  habis-habisan.  

mereka ingin merayakan lebaran bersama "keluarga besar". moment hari raya pagi itu memang seolah tak tergantikan oleh pagi-pagi berikutnya, terutama di ruang makan keluarga. biasanya setelah makanan dihidangkan, bapak dan ibu  paling pertama yang duduk di kursi. lalu anak-anaknya muncul dan puncaknya saat kami, anak-anaknya sungkem, minta maaf.

entah moment seperti itu masih akan berulang berapa kali lagi, karena orang tuaku sudah sepuh. tak lupa mereka mendoakan anak-anaknya supaya dalam keadaan selamat.

adakah kebahagiaan seperti itu yang menyamai?

mungkin itu salah satu alasan kenapa orang-orang merindukan untuk selalu pulang kampung pada hari lebaran. kebahagiaan itu akan terasa lengkap saat bertemu teman-teman lama dengan keluarga barunya.  bercengkerama tentang masa lalu dan yang paling mengasyikan menikmati makanan masa lalu yang tak ada duanya di planet ini: lumbu kobis.. (ini versi mas bangsari.)

cuman memang ada beberapa kawan yang kurang beruntung mempunyai kesempatan seperti itu. terpaksa menghabiskan lebaran dalam cekaman kesunyian yang sangat di tempat kerja. apalagi kebetulan pas "piket" sendirian. lengkaplah semua deritanya.

namun ada juga yang menganggap pulang kampuang di hari lebaran merepotkan dan melelahkan. intinya buang-buang uang belaka.  orang yang ngomong seperti itu mungkion layak diperiksan kewarasannya. 

selamat merayakan lebaran