menapaki hari puasa ke lima belas, bulan purnama penuh. kemarin malam itu bulan tampak lebih besar sepuluh persen dari yang ku lihat waktu masih kanak-kanak. karena titik orbitnya berada pada jarak yang terdekat dengan bumi.
sudah berapa banyak kalah puasanya? kalau hanya sekedar tidak makan dan minum, saya yakin banyak orang yang lancar puasanya, seberapa hari pun diwajibkan puasa. nasi, sayur dan makanan lain saya kira godaan yang paling remeh. sehingga mcd atau kfc, warteg tak perlu membuat tirai setengah tiang.
besok malam, nuzulul qoran. di masjid, surau atau mushola sering peristiwa itu dirayakan. malam itu, empat belas abad yang lalu turun al qoran, pedoman hidup orang muslim. di bulan puasa ini, turun juga malam lailatul qodar. malam yang lebih baik dari seribu bulan.
sudah bersiap menyambutnya? bagaimana menyambutnya?
tampaknya orang lebih khusuk dalam menjalankan iabdah. selain salat wajib, salat sunah tahajud dan lainnya. beragam cara orang melakukan kewaiban 5 kali sehari semalam itu. kebetulan, saya mendapatkan ajaran yang sama dengan sholat yang sering aku lihat di masjid-masjid. umat islam tak mempermasalahkan.
di waru jawa timur, sekelompok orang yang sholat tanpa memalai alas. mereka berdiri, memandang dan mencium langsung ke tanah. tanpa ada tikar atau sajadah. mereka sholat dengan sepatu/sandal terpakai di kakinya. saat ditanya mereka mengeluarkan hadis yang mendukung keyakinannya.
lainlagi di sulawesi barat. sumardi dan kelompoknya salat dengan bersiul. bacaan-bacaan yang diucapkan pun berbeda dengan yang aku lakukan. sumardi divonis mengajarkan ajaran sesat dan di bui.
di malang Ustadz muhammad roy mengajarkan salat dengan memakai bahasa indonesia, bukan arab. semuanya tentu saja menentang ajaran yang tak biasa itu. dia di cap juga sebagai penyebar ajaran sesat.
siapa yang berhak memvonis suatu ajaran sesat? bukankah pengalaman spiritual setiap orang berbeda? selama mereka tidak merugikan/ merusak orang lain, hak sepenuhnhya sesorang untuk meyakini ajarannya. entah itu dari Tuhan atau setan.
bagaimana? pernah punya pengalaman dengan orang yang mempunyai cara salat berbeda?



Perbedaan adalah anugerah…tapi keutuhan Islam memang harus kita jaga. “kita ” dan bukan orang lain…
Rasulullah bersabda: “beribadahlah kamu seperti kamu melihat aku beribadah”. Sudah, itu saja pedomannya…
Comment by elly.s — October 9, 2006 @ 11:39 pm
Siapa yang berhak memvonis suatu ajaran adalah sesat?
Ya tentu saja pihak yang professional di bidangnya. Sebagai pihak yang paling ahli dalam urusan cap, dari cap halal hingga cap sesat, maka sudah sewajarnya bila MUI adalah yang paling berhak.
whua… pengalaman spiritual mui dan merekayang dianggap sesat kan bisa saja beda mannn
Comment by wadehel — October 10, 2006 @ 10:25 am
soal sesat, rasanya saya juga mulai sesat nih. mendekati akhir ramadhan kan seharusnya dipenuhi tadarrus, dzikir dan ibadah lainnya. lha saya malah dipenuhi kerjaan kantor yang menumpuk, buka bersama yang tak mutu hampir tiap dsb. waduh biyung, piye iki?
Comment by Bangsari — October 11, 2006 @ 2:46 am
Siapa yang berhak memvonis suatu ajaran adalah sesat?
bingung dah…yang jelas kalo menyimpang dari Al Qur’an dan hadits…udah jelas aliran sesat kan???
Comment by black_hack — October 11, 2006 @ 11:16 am
wakakakak…gitu aja kok repot!
Comment by oón — October 13, 2006 @ 3:38 am