makin tinggal sedikit hari puasa, semakin luas space di masjid-masjid di malam hari. semestinya, malam lailatul qodar semakin dekat, orang akan lebih khusuk shalat tarawih.
lalu orang-orang perginya kemana malam-malam itu? ke mal. kalau tidak percaya datanglah ke salah satu mal di jakarta selatan. sore itu sengaja aku janjian dengan teman lama. paling lambat, jam lima sore harus nyampe katanya. karena akan sangat susah mencari tempat buka puasa.
dan benar, saat melangkah membelah pintu masuk kaca itu, orang-orang seperti berhamburan. mereka berjalan bergegas, berkelompok-kelompok. minimal berdua, mungkin dengan pacar atau teman dekatnya. jarang aku lihat yang datang sendirian. kecuali aku. itupun aku akan menemui teman yang sudah milih-milih buku di gunung agung.
dari atas tampak selasar-selasar diantara gerai-gerai nyaris tertutup warna hitam, kepala-kepala manusia. beberapa laki-laki menyender pada pagar stenlis steel yang selalu diusap-usap cleaning service. suasana meriah, nuansa ramadan tampak pada baliho, poster dan sederet pernik warna hijau di setiap lantai. bahkan salah satu toko sepatu karyawannya semuanya berjilbab.
pada jam-jam mendekati buka puas gerai sepatu itu dan lainnya sepi. kecuali gerai makanan. aku dan temanku menuju ke tempat biasa, sudah penuh, bahkan kursi tumpah sampai keluar. lalu ke alternatip kedua, suasananya mirip. akhirnya kami memutuskan mencari tempat yang kiranya masih ada peluang untuk duduk. tak lagi mempermasalahkan menunya.
setelah bersabar menunggu pesanan datang, bedug pun berbunyi. gemericik tangan-tangan yang tak sabar meraih gelas minuman terdengar. doa-doa diucapkan. lega, selesai sudah puasa untuk hari ini.
mendapat doping, rupanya stamina makin fit. celotehan, gelak tawa dan canda makin berseliweran. aku berdua hanya bercakap dalam bisik aja. sambil secara tak sengaja mendengar omongan orang-orang di meja kiri kanan belakang. kelompok orang di meja depanku ini rupanya memindahkan ruang mitingnya ke kedai ayam goreng ini.
dengan berdiri, salah satu perempuan yang berambut pirang menjelaskan detail-detail bentuk visual iklan yang akan diproduksi. tangan kanannya memegang selembar kertas hvs bergambar seorang perempuan yang tergerai rambutnya. ketika melewati mereka menuju tempat cuci tangan, aku baru tahu rupanya mereka akan membuat iklan pewarna rambut.
usai makan, kami berkeliling. rupanya makin malam, mal ini makin bertambah saja orang yang masuk. aku makin susah untuk berjalan cepat. tampak kerumuman orang di setiap mulut eskalator. apalagi lift. aku merasa makin tak nyaman.
apa yang dilakukan orang-orang di malam tarawih ini? kalau aku sih ketemu teman yang sudah sangat lama menghilang. apakah mereka juga sama sepertiku?
itu belum seberapa, kata temenku. makin dekat hari raya mal ini makin penuh sesak di malam hari. kalau memang begitu, tampaknya mal mal mesti menyisakan spacenya yang cukup luas untuk sholat tarawih. tak seperti sekarang ini yang hanya dipenuhi "lapak-lapak" yang menjual barang dengan harga diskon.
tentu mal tak mau rugi bukan? nah untuk menampung dua kepentingan itu, andai harus membayar sewa space se"sajadah" untuk 2 jam, kira-kira ada yang mau ngga ya sholat tarawih di mal? hua hua hua



walah mosok terawih di mal…bisa khusu’ kah?
justru itu mas tantangannya
Comment by oón — September 30, 2006 @ 8:13 am
solat bisa di mana 2 yaa
iya mas. kecuali di tempat-tempat yang jorok hi hi hi
Comment by bahtiar — September 30, 2006 @ 2:44 pm
Dimalaysia mal2 punya mushola yang gede2 n bersih yang boleh kita panggil masjid kali. Aktifiti shola5 5 waktu selalu penuh…tapi kalo sholat tarawih belom denger tuh.
Gimana kalo mas kw buat usulan deh…..
pengusaha mal di malay kayaknya tak begitu mata duitan mba. mal di jakarta, tempat sholatnya ( bukan mushola) hanya di space-space yang tak memungkinkan di jual. kalau mbak eli ke pondok indah mal (1) toiletnya lebih nyaman dibanding tempat sholatnya. seriuss! ada ac, selalu dibersihin dan wangi.
di blokm plasa, aku tak melihat ada tempat sholat. padahal indonesia muslim terbesar di dunia!
Comment by elly.s — September 30, 2006 @ 3:17 pm
Kalau dijanjikan pahala yang lebih besar daripada bila melakukannya di rumah tuhan, kenapa tidak?
Saya juga akan tertarik tuh.
hmmm.. katanya beribadah itu harus ikhlas, ikhlas itu tak berharap. jadi kalau masih ada pamrih-pamrih…..
Comment by wadehel — September 30, 2006 @ 5:31 pm
di semua tempat mang kayak gitu kali ya…masjid mulai sepi, mall makin rame, makin deket lebaran bukannya ningkatin amal malah pada sibuk persiapan lebaran…sibuk beli baju lah, perabotan rumah yang baru lah padahal kan yang harus di siapin sebelum lebaran tuh batin kita …. ya gak om??
kayaknya hanay di kota-kota besar aja mas. kan di kampung-kampung pelosok gunung belum ada mal?
Comment by black_hack — September 30, 2006 @ 7:01 pm
hebat. tarawih pun mulai dijual. memang kreatif orang-orang jakarta. duh!
mas bangsari, cobalah datang ke makam tanah kusir jaksel (ramainya waktu sebelum puasa itu). disitu ada beberapa penjaja doa. jadi sebuah keluarga yang berziarah bisa meminta penjaja doa itu untuk mendoakan arwah yang meninggal. harga nego kok.
Comment by Bangsari — October 2, 2006 @ 1:27 am
BTW, warnanya sekarang cerah… layoutnya bagus juga…
jadi betah berlama-lama di sini…
iya mas. ini aku ganti setelah cek di beberapa monitor ternyata yang dulu itu sangat kelam. jadi deh seperti yang sekarang ini.
Comment by bagonk — October 2, 2006 @ 1:54 am
mm…ada ga ya website yg menampung semua blog mengenai mushola di mall berbagai kota? agak puyeng juga nih ngecekin satu-satu bwt nyari info kondisi mushola or alternatifnya…mm…terus…klo misalnya ada perda yg selain memberikan denda bagi mall tanpa mushola yg layak tp juga memberikan keringanan pajak bagi mall yg menyediakan? standar kelayakannya minimal tempat wudhu ikhwan akhwat dipisah n tertutup, tempat shalat minimal dihijab. Trus makin bagus musholanya makin besar potongan pajaknya…well, emang pemasukan ke kas perda jd kurang tp, hello,,,dana mereka itu kan untuk kemashlahatan masyarakat pada umumnya yah, dan pada umumnya masyarakat adalah muslim, so logikanya yah engga apa-apa…lagian ini kan investasi, masalah kepengurusannya bisa dibentuk dari satuan janitor n satpamnya kan…gitu aj kok repot…
Comment by enishi — October 16, 2007 @ 8:13 pm