platedua hari ini, saat jam kerja sudah habis, aku malas untuk langsung pulang. di jalanan macetnya sangat lama. dan semua orang berebut untu cepat sampai kerumah agar bisa menyegerakan buka puasa.

banyak juga teman-teman yang memilih pulang habis adzan. mereka memilih pulang setelah perut terisi takjil yang disediakan kantor. katanya orang yang menyediakan buka puasa amalnya sama dengan orang yang menjalani puasa. jadi berlipat-lipatlah amal orang yang menyediakan takjil itu karena aku yakin pasti dia juga puasa.

takjil sore ini segelas es buah. sekotak plastik transparan yang berisi empat jenis makanan tradisional menemani. lemper ayam, risoles, cenil dan entah apa yang satu namanya. terbuat dari tahu berisi telor lalu digoreng. terselip cabe-cabe hijau diantara sisi-sisi lemper dan risoles. sendok plastik putih diselipkan diatasnya. agar tak jatuh, diikatkan karet.

makanan itu mengingatkan pada kampung pada sebuah pagi, pas hari pasar. (oh ya orang jawa mempunyai kalender sendiri. jumlah hari dalam penanggalan jawa hanya ada lima. sehingga orang-orang tua menyebut 5 hari dengan sepasar. hari paing, pon, wage, kliwon dan legi nama-namanya. dalam 5 hari itu, ada dua hari pasar yakni :pon dan legi.)

pagi-pagi, embun masih menempel di ujung-ujung daun.  aku menyelesaikan tugas pagi selekasnya lalu duduk-duduk di emperan (kalau teras kan kesannya mewah). menunggu oleh-oleh dari pasar. kami selalu berempat, ada tiga tetangga teman sepermainan. tak akan terlupakan sampai sekarang saat menikmati cenil, getuk, kue pisang, nogosari. akdang lepet. serabi atau jadah.

makanan itu entah siapa yang punya hak patennya. nyaris semua orang kampung bisa membuatnya. dan tak ada orang yang mengklaim makanan itu  itu olahciptanya. mungkin penemunya akan senang, karyanya ditiru orang-orang dengan bebas.

bandingkan dengan sekarang. zaman disebutnya keterbukaan, namun banyak hal disembunyikan. orang mencipta sesuatu, harus dipatenkan. orang lain tak boleh meniru.

sambil menunggu bunyi bedug magrib itu, temenku menghampiri. ia menceritakan seorang ibu berjilbab menenteng donat j-co dan puterinya menggenggam cangkir plastik berlabel lingkaran hijau Starbuck di sebuah mal. ibu anak itu tampak sentosa dimatanya.

lalu melanjutkan, apakah mereka sepede saat ia membawa es dawet banjar negara atau cenil?  produsen dari luar negeri itu memang sangat pintar mengisi celah.  mereka itu tak hanya sekedar menjual lembutnya donat atau aroma dan rasa kopi. namun menjual sebuah pengalaman. sensasi baru yang akan menentukan posisi sosial dan status penikmatnya di masayarakat.

hmm andai es dawet banjarnegara bisa setara statusnya dengan kopi starbuck.