monyetdari diskusi dan launching bukunya ucu agustin, petang itu hadir sekitar seratusan peserta. kebanyakan wartawan dan selebihnya pecinta buku. secara iseng aku hadir, karena ucu dan moderatornya temanku.

di geothe haus, jl sam ratulangi itu, ucu sekaligus meluncurkan dua buku barunya: being ing, novel metro pop pertamanya mewujudkan ucu diakui sebagai pengarang terbakat.

buku kedua, "dunia di kepala alice", kumpulan cerpen, sebelumnya  diterbit di koran nasional. aku sudah membacanya sebagian besar isinya.

namun ucu menumpahkan isi kepalanya menjadai rangkaian kalimat-kalimat unik dan mengejutkan. menyebabkan tulisannya tak membosankan meskipun mengulang membacanya.

temanya kebanyakan homoseksual. karena itu ada peserta yang bertanya apakah ucu lesbian? ucu tangkas menjawab pertanyaann biasa itu. "enak kali ya menjadi lesbian".

lalu ia melanjutkan, tulisannya itu terinspirasi dari kejadian teman yang melingkunginya. oh ya selain menulis ucu juga pekerja film. film dokumenternya mengenai hari-hari terakhir hidup pram mendapat pujian.

mungkin karena tak ada satupun orang lain  yang membuat film itu. :)

di ruang itu hadir pembicara ayu utami dan samuel mulia ( kolomnis parodi kompas minggu). yang paling menyolok mata shuniya, penulis buku "jangan lepas jilbabmu". malam itu ia membalut tubuhnya dengan kaos panjang ketat warna biru muda.  suaranya lembut. ia seorang waria.

diskusi petang itu masih berkaitan dengan bukunya ucu: "fenomena homoseksualitas dalam masyarakat urban".  saat muncul pertanyaan apakah homoseksual itu hanya sebuah gaya hiidup? nyaris semua pembicara menolak.

samuel mulia yang punya pengalaman real mengisahkan "petualannganya",  tanpa ragu.

namun ceritanya klise. ia berangkat memutuskan orientasi seksnya setelah ia "digarap" sopirnya waktu tinggal di surabaya. seperti kunci yang ketemu gemboknya, ia menggambarkan peristiwa yang terjadi saat masa sma itu.

dan tentu saja cerita lucu dan "mengharukan" lain. kesimpulannya homoseksualitas itu seperti ktp, bukan hanya sekedar untuk gaya-gayaan.  ayu juga berpendapat  begitu.

keduanya sepakat agar memperlakukan seseorang bukan berdasar pada perspektif orientasi seksnya. tak pentinglah, kata mereka.

leon agusta (sastrawan senior) ikut memberi kesaksian. karena salah satu anaknya juga memilih orientasi seks yang beda. suaranya parau dan bergetar saat bicara. pertama anaknya "mengaku" gay leon tak marah.

ia hanya mengingatkan, orientasi seks yang dipilihnya berkonsekuensi berat dan harus siap menjalaninya. tak ada penolakan dan perdebatan.

sampai kira kira jam sepuluh malam, acara usai. di luar ruangan yang juga arena pameran lukisan ada satu lapak yang menjual novel. selain being ing dan dunia di kepala alice, ada brokback mountain, rahasia bulan dan aduh lupa…

sampai sekarang, saya belum sempat membeli being ing. mungkin entar..