tanah lotselepas makan pagi,  kami menuju ke  tanah lot.

apakah yang disebut tanah lot itu "secuil" karang yang diatasnya dibangun sebuah pura pada abad 16 itu? entahlah. objek wisata nan indah ini berada di kampung beraben.

pura itu berdiri diatas karang yang terpisah dari pantai. ketika arus pasang, pura itu akan dikelilingi air laut. angin pagi yang menghembuskan kesejukan melenakan orang-orang yang menatap laut lepas.

untuk menuju ke pura melewati tangga yang berada di sisi kanan dan kiri. namun batu batu karang itu terkikis ombak, sehingga menyulitkan orang-orang yang akan naik untuk bersembahyang. kini tangga yang terbuat dari semen yang menggantikannya.

orang bali menggunakan pura itu hanya untuk perayaan hari-hari besar agama hindu. pengunjung tak diperbolehkan masuk.

di bawah tebing karang, diantara tangga sebelah kanan dan kiri terdapat air suci. mata air itu muncul dari sela-sela karang. anehnya air itu tak asin, sangat tawar. menurut kepercayaan mereka, air ini sangat berkhasiat magis sebagai obat awet muda.

pengunjung yang tertarik bisa menemui juru kuncinya, dua orang. kita dipersilakan untuk membasuh muka, kaki atau tangan. lalu seorang juru kunci yang berpakaian adat bali lengkap memberikan doa-doa. usai doa ia mengambil beras dari wadah dan menempelkan ke jidat orang-orang yang telah memberikan persembahan (uang). juga menyelipkan bunga kamboja ke telinga kanan.

banyak yang antri untuk mendapatkan air suci itu. aku berada diantara deretan itu.

di bawah tebing pinggir pantai yang berjarak kurang lebih dua ratus meter dari pura, kerumuman makin bertambah besar. ternyata mereka ingin melihat ular suci. entah ular ini ada hubunganya dengan legenda selendang Sanghyang Nirantha yang membangun pura tersebut atau tidak.

ular suci itu berwarna belang, hitam dan putih. panjangnya kira-kira hanya satu meter. ular itu dibuatkan "rumah" beruba gundukan pasir. dan di salah satu sisinya di buat cekung, tempat ular suci itu melingkar.

menurut kepercayaan mereka, berdoa di tempat ini, cita-citanya akan tercapai. prosesi ini dipandu oleh kakek renta yang menungguinya. penasaran aku mencobanya. kakek itu menanyai, "masih mahasiswa?. "sudah kerja" jawabku. lalu dia mendoakan supaya saya cepat mendapat jodoh. aku tak tahu dari mana dia berkesimpulan seperti itu.

tanah lot ini termasuk berada di pantai utara bali, sehingga ombaknya tidak begitu besar. berbeda dengan pantai uluwatu ( ujung batu). di sini pantainya berbentuk karang yang curam. ombaknya dahsyat, menggelegar. ketika menabrak karang menimbulkan buih yang putih pekat. pengunjung hanya bisa menikmati dari pinggiran tebing yang telah dipagar. monyet-monyet berseliweran akrab. bila tak hati-hati kacamata, topi, jepit rambut akan tercuri.

untuk memasuki kawasan uluwatu ini harus berpakaian tertutup sampai dibawah lutut. bule-bule yang memakai bikini, bisa meminjam sarung ungu di pintu masuk. juga semua pengunjung diwajibkan memakai sabuk warna kuning emas yang disediakan.

pada senja hari, ada pementasan tari kecak. sayang saya melewatkan acara ini. di sini terdapat juga sebuah pura. namun "kecil" dan gersang.

saya lebih suka berlama-lama di tanah lot. udara cerah, air laut bening membiru, ombak berkejar-kejaran tanpa henti memunculkan bunyi kericak. saat lidah ombak menyentuh kaki yang telanjang rasanya seperti disentuh tangan-tangan Tuhan  

oh.. nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan”?*

 

*(kata-kata ini diambil dari sebuah kitab suci)