balinessedatanglah ke bali sebelum mati. "ungkapan" yang diakrabi orang barat itu benar adanya. sesaat ketika kaki  menjejak bandara ngurah rai, keunikan pulau ini begitu terasa. aroma dupa, bentuk bangunan yang banyak memakai ornamen ukiran dan patung-patung, memberikan nuansa magis.

mayoritas percakapan yang terdengar menggunakan bahasa asing, terutam inggris. minggu senja itu, seorang gadis bali dengan bunga kamboja diselipkan di telinga kanan menyambut dengan kalungan bunga. lalu ia mempersilakan menuju bus yang telah disiapkan. menyusuri jalanan yang tidak begitu besar kami  menuju jimbaran untuk makan malam. kereta terbang yang delay, tak memungkinkan mampir ke hotel dan mandi dulu.

jalan raya di kota ini termasuk sempit, tak seperti di kota lain. kecuali jalan-jalan baru yang dibangun akhir-akhir ini. meskipun cukup sempit, tak ada kemacetan. karena di bali tidak ada angkot. hanya angkutan pedesaan yang berbentuk minibus.

namun tak perlu kawatir susah bepergian. di sini rental mobil dan sepeda motor berserak. di salah satu tiang bandara, beratus brosur yang menawarkan persewaan mobil dan hotel berjajar. juga banyak paket "wisata" yang menawarkan kenyamanan: dengan sopir, termasuk bbm dan makan malam di kafe-kafe kelas internasional.

di sepanjang jalan, di setiap depan rumah terdapat pura keluarga, tempat untuk menaruh persembahan untuk Tuhan. persembahan yang paling sederhana terdiri dari bermacam bunga beragam warna, roti, api ( dalam bentuk lidi dupa) dan percikan air. semua perabot itu ditaruh dalam sebuah wadah berbentuk kotak yang terbuat dari janur.

tak hanya di pura, persembahan itu tampak pula di di dashboard taksi dan ruang sopir "boat" pun ada. juga di perempatan jalan, di depan toko-toko. bahakan di sebuah pasar tradisional, tampak persembahan itu ditaruh di satu tempat sampai menggunung.

menurut kepercayaan mereka pura adalah tempat bersemayamnya roh-roh keluarga yang telah meninggal. setelah diabenkan, abunya dilarung ke laut. lalu rohnya bersemayam di pura keluaraga tersebut.

pura yang berbentuk "candi" sederhana itu, di atasnya selalu dinaungi payung. tujuannya untukindungi roh-roh. dan tiangnya dibalut dengan kain putih dan kuning. putih dan kuning adalah lambang kebijaksan yang dipunyai oleh dewa wisnu. dewa yang punya otoritas untuk  menghakimi manusia yang telah mati.

memindahkan atau menghilangkan pura berarti tidak menghormati leluhur. dan roh-roh akan kehilangan tempat persemayaman. itulah kenapa di bali tidak ada pelebaran jalan apalagi penggusuran. bisa dipastikan orang bali tidak pernah pindah rumah sampai ia meninggal. keyakinan inilah yang menyebabkan di bali tanah/ rumah akan sulit diagunkan di bank. karena apabila kreditor macet, eksekusinya sangat sulit dilaksanakan. namun ada lembaga perkreditan desa yang mempunyai aturan khusus.

di gerbang rumah dipasang patung patung berbentuk monster atau hewanhewan buas sebagai penjaga. mereka percaya dengan memasang patung-patung seperti itu mereka bisa aman tak tergangu oleh makkhluk-makhluk jahat.

katanya orang bali itu kebanyakan miskin. karena nyaris 80 persen penghasilannya dipakai untuk persembahan. disamping persembahan sehari-hari, terdapat banyak upacara keagamanan dilakukan. seperti saat kami akan menuju ke jimbaran, ada kesibukaan upacara ulang tahun pura. tampak berseliweran orang bali yang berpakain putih-putih, bersarung dan memakai destar menghias pura dengan atap tambahan yang terbuat dari alang-alang.

untuk urusan dengan Tuhan, orang bali sangat tidak bisa kompromi. pernah ada kejadian, sebuah instansi diundang untuk kunjungan ke suatu daerah di jawa tengah yang telah mengunjungi sebelumnya. acara itu batal, meskipun gratis.  karena anggotanya mempunyai upacar-upacara keagamaan yang tidak bersamaan. upacara kelahiran dan lainnya.

selain jalan yang tampak bersih, di perempatan jalan atau tempat keramaian, tak ada pedagang asongan berkeliaran. tak ada juga pak ogah di pertigaan. yang lebih eye catching adalah anjing-anjing lokal yang berkeliaran.

jimbaran, pantai dengan ombak tenang ini di malam hari terasa begitu eksotis. kami duduk di kafe gekko yang menghadap ke laut. meja-meja berderet memanjang sampai menyentuh air laut. gerakan ombak yang berkeriak terdengar, sesekali berdebum. bulan purnama penuh mengawasi dari langit. di sebelah kiri, tampak di kejauhan, diatas bukit kerlip lampu berpendaran.

di sepanjang pantai ini berdiri berpuluh kafe yang semuanya menyediakan menu laut. di pintu masuk, di sebelah kanan dan kiri tertampang makhluk-makhluk laut yang masih hidup yang diwadahi mirip akuarium. udang, kepiting, kerang dan bermacam ikan dan cumi ( cuminya kayaknya sudah mati, karena dipendem dalam bongkahan es batu.

pesanan makanan itu akhirnya datang. pelecing kangkung, ikan bakar, udang bakar, sate cumi dan ayam, kerang saos merah siap membuat lambung tak merintih lagi. trio batak menyanyikan lagu-lagu rancak. kami boleh request lagu yang kita inginkan. termasuk lagu-lagu dari banyak negara, korea, jepang, bahkan rusia.  

malam sudah berada di tengah-tengah, setelah perut dan pikiran kenyang kami menuju hotel.

cerita belum selesai ya