hidup yang singkat, mari kita rayakan
dailySeptember 30, 2006 5:41 am

mallmakin tinggal sedikit hari puasa, semakin luas space di masjid-masjid di malam hari. semestinya, malam lailatul qodar semakin dekat, orang akan lebih khusuk shalat tarawih.

lalu orang-orang perginya kemana malam-malam itu? ke mal. kalau tidak percaya datanglah ke salah satu mal di jakarta selatan. sore itu sengaja aku  janjian dengan teman lama. paling lambat, jam lima sore harus nyampe katanya. karena akan sangat susah mencari tempat buka puasa.

dan benar, saat melangkah membelah  pintu masuk kaca itu, orang-orang seperti berhamburan. mereka berjalan bergegas, berkelompok-kelompok. minimal berdua, mungkin dengan pacar atau teman dekatnya. jarang aku lihat yang datang sendirian. kecuali aku. itupun aku akan menemui teman yang sudah milih-milih buku di gunung agung.

dari atas tampak selasar-selasar diantara gerai-gerai nyaris tertutup warna hitam, kepala-kepala manusia. beberapa laki-laki menyender pada pagar stenlis steel yang selalu diusap-usap cleaning service. suasana meriah, nuansa ramadan tampak pada baliho, poster dan sederet pernik warna hijau di setiap lantai. bahkan salah satu toko sepatu karyawannya semuanya berjilbab.

pada jam-jam mendekati buka puas gerai sepatu itu dan lainnya sepi. kecuali gerai makanan. aku dan temanku menuju ke tempat biasa, sudah penuh, bahkan kursi tumpah sampai keluar. lalu ke alternatip kedua, suasananya mirip. akhirnya kami memutuskan mencari tempat yang kiranya masih ada peluang untuk duduk. tak lagi mempermasalahkan menunya.

setelah bersabar menunggu pesanan datang, bedug pun berbunyi. gemericik tangan-tangan yang tak sabar meraih gelas minuman terdengar. doa-doa diucapkan. lega, selesai sudah puasa untuk hari ini.

mendapat doping, rupanya stamina makin fit. celotehan, gelak tawa dan canda makin berseliweran. aku berdua hanya bercakap dalam bisik aja. sambil secara tak sengaja mendengar omongan orang-orang di meja kiri kanan belakang. kelompok orang di meja depanku ini rupanya memindahkan ruang mitingnya ke kedai ayam goreng ini.

dengan berdiri, salah satu perempuan yang berambut pirang menjelaskan detail-detail bentuk visual iklan yang akan diproduksi. tangan kanannya memegang selembar kertas hvs bergambar seorang perempuan yang tergerai rambutnya. ketika melewati mereka menuju tempat cuci tangan, aku baru tahu rupanya mereka akan membuat iklan pewarna rambut.

usai makan, kami berkeliling. rupanya makin malam, mal ini makin bertambah saja orang yang masuk. aku makin susah untuk berjalan cepat. tampak kerumuman orang di setiap mulut eskalator. apalagi lift. aku merasa makin tak nyaman.

apa yang dilakukan orang-orang di malam tarawih ini? kalau aku sih ketemu teman yang sudah sangat lama menghilang. apakah mereka juga sama sepertiku?

itu belum seberapa, kata temenku. makin dekat hari raya mal ini makin penuh sesak di malam hari. kalau memang begitu, tampaknya mal mal mesti menyisakan spacenya yang cukup luas untuk sholat tarawih. tak seperti sekarang ini yang hanya dipenuhi "lapak-lapak" yang menjual barang dengan harga diskon.

tentu mal tak mau rugi bukan? nah untuk menampung dua kepentingan itu, andai harus membayar sewa space se"sajadah" untuk 2 jam, kira-kira ada yang mau ngga ya sholat tarawih di mal?  hua hua hua

dailySeptember 29, 2006 8:45 am

platedua hari ini, saat jam kerja sudah habis, aku malas untuk langsung pulang. di jalanan macetnya sangat lama. dan semua orang berebut untu cepat sampai kerumah agar bisa menyegerakan buka puasa.

banyak juga teman-teman yang memilih pulang habis adzan. mereka memilih pulang setelah perut terisi takjil yang disediakan kantor. katanya orang yang menyediakan buka puasa amalnya sama dengan orang yang menjalani puasa. jadi berlipat-lipatlah amal orang yang menyediakan takjil itu karena aku yakin pasti dia juga puasa.

takjil sore ini segelas es buah. sekotak plastik transparan yang berisi empat jenis makanan tradisional menemani. lemper ayam, risoles, cenil dan entah apa yang satu namanya. terbuat dari tahu berisi telor lalu digoreng. terselip cabe-cabe hijau diantara sisi-sisi lemper dan risoles. sendok plastik putih diselipkan diatasnya. agar tak jatuh, diikatkan karet.

makanan itu mengingatkan pada kampung pada sebuah pagi, pas hari pasar. (oh ya orang jawa mempunyai kalender sendiri. jumlah hari dalam penanggalan jawa hanya ada lima. sehingga orang-orang tua menyebut 5 hari dengan sepasar. hari paing, pon, wage, kliwon dan legi nama-namanya. dalam 5 hari itu, ada dua hari pasar yakni :pon dan legi.)

pagi-pagi, embun masih menempel di ujung-ujung daun.  aku menyelesaikan tugas pagi selekasnya lalu duduk-duduk di emperan (kalau teras kan kesannya mewah). menunggu oleh-oleh dari pasar. kami selalu berempat, ada tiga tetangga teman sepermainan. tak akan terlupakan sampai sekarang saat menikmati cenil, getuk, kue pisang, nogosari. akdang lepet. serabi atau jadah.

makanan itu entah siapa yang punya hak patennya. nyaris semua orang kampung bisa membuatnya. dan tak ada orang yang mengklaim makanan itu  itu olahciptanya. mungkin penemunya akan senang, karyanya ditiru orang-orang dengan bebas.

bandingkan dengan sekarang. zaman disebutnya keterbukaan, namun banyak hal disembunyikan. orang mencipta sesuatu, harus dipatenkan. orang lain tak boleh meniru.

sambil menunggu bunyi bedug magrib itu, temenku menghampiri. ia menceritakan seorang ibu berjilbab menenteng donat j-co dan puterinya menggenggam cangkir plastik berlabel lingkaran hijau Starbuck di sebuah mal. ibu anak itu tampak sentosa dimatanya.

lalu melanjutkan, apakah mereka sepede saat ia membawa es dawet banjar negara atau cenil?  produsen dari luar negeri itu memang sangat pintar mengisi celah.  mereka itu tak hanya sekedar menjual lembutnya donat atau aroma dan rasa kopi. namun menjual sebuah pengalaman. sensasi baru yang akan menentukan posisi sosial dan status penikmatnya di masayarakat.

hmm andai es dawet banjarnegara bisa setara statusnya dengan kopi starbuck.

ceritaSeptember 27, 2006 8:46 am

dim sumpagi buta itu, jam weker yang sudah diset berdering=dering. aku tergagap, tanganku gerayangan menjangkau jam. tit, aku membunuh bunyi itu tanpa berpikir. kepala masih terasa berat, mata berkeriyap lalu menutup perlahan. aku melangkah ke atas awan.

makan sahur kali ini terlewat lagi.

esoknya, kuminta tolong teman untuk menelepon tepat jam 03.00. maklum tak ada tetangga kostnya yang berpuasa. atau jangan-jangan mereka acuh abis. aku tak ingin berprasangka lagi.

berbeda dengan ketika berpuasa di kampuang dulu kala. setiap waktu sahur, remaja-remaja berkeliling memanggil-manggil dengan kentongan kecil. alat dari bambu itu diberi dua lubang sepanjang ruasnya. mereka memukul-mukul dengan cara tertentu sehingga menimbulkan ritme yang teratur.

orang-orang tak akan bangun kesiangan. ketika bunyi itu tak mampu membangunkan salah satu keluarga, mereka akan mendatangi rumah yang belum terasa ada kegiatan itu. barangkali peghuninya hanya kecapekan atau ada masalah lain. begitu akrab dan terbukanya orang-orang di kampungku waktu itu.

beda dengan di metropolitan yang banyak polutan ini kan?

hari ketiga puasa tahun ini, aku belum sekali pun makan sahur. memang kalau hanya untuk sekedar urusan perut, sahur bukanlah hal yang begitu penting. karena aku sudah sering kali berada dalam kondisi "kelaparan".

di tempat kerja pun tak ada rasa malas, ngantuk atau rasa lain yang disebabkan perut kosong. hanya berangkat lebih pagi agar tak haus dan pulang lebih cepat untuk berbuka di kost. benar-benar tak ada perbedaan, kecuali jam kerja yang dimajukan.

salah satu teman menyarani untuk bersahur. dengan makan di pagi buta itu, suasana puasa akan sangat terasa. otomatis kita akan lebih mempersiapkan otak dan hati untuk tetap "bersih". benarkah?

aku googling, menemukan sebuah  hadis yang menuliskan: "sesungguhnya makan sahur adalah barakah yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian tinggalkan’" [Hadits Riwayat Nasa’i 4/145 dan Ahmad 5/270).

pada saat jam itu, Tuhan akan meliputi orang-orang yang sahur dengan ampunan-Nya, memenuhi mereka dengan rahmat-Nya. dan malaikat  berdo’a kepada Tuhan agar mema’afkan mereka.

asyik nian rupanya. mudah-mudahan besok pagi aku bisa bersahur, walau hanya seteguk aqua, sebiji apel atau sebungkus permen kopiko. mudah sekali sebenarnya untuk masuk surga. :)
 

ceritaSeptember 25, 2006 8:58 am

menuju malam pertama ramadan  kek haji berdua duduk diteras dengan isterinya.  memakai baju muslim keduanya bersiap ke rumah Tuhan.  jalan depan ruah disesaki gegasan orang orang yang juga akan melaksanakan sholat tarawaih. mereka berjalan tak putus-putus menuju ke satu titik. nyaris semua berseragam putih.

mereka itu sedang mempersiapkan hari “depan”nya. tak satu pun yang tahu waktu pastinya. aku tetap tak beranjak saat pak haji mengajakku berangkat. kepalaku berkelebatan pertanyaan yang melintas-lintas.

katanya, kelak terjadi peristiwa dahsyat yang bisa melantakkan semua planet dan galaksi. dari kitab suci digambarkan saat itu gunung-gunung berterbangan seperti kapas. lalu, apakah kehancuran planet, galaksi dan isinya ini tak menyisakan sampah sama sekali?  apakah alam menjadi kosong, tidak ada udara atau benda sama sekali? kemana hancuran planet, galaksi dan isinya lenyap?

manusia yang telah mati  sejak zaman adam dihidupkan kembali di sebuah padang nan maha luas. apakah manusia akan hidup lagi dalam wujud fisik atau dalam bentuk energi api seperti jin dan iblis? Atau dalam bentuk cahaya seperti malaikat?

jika abad 21 ini penduduk dunia sekarang kira-kira 5 miliar. Maka akan terdapat manusia 5.000.000.000×200 (abad, perkiraan penciptaan manusia ada sejak 200 abad yang lalu) =1.000. 000.000.000 manusia di padang itu. apalagi jika binatang dan tumbuhan juga dihidupkan. Bisa dibayangkan seluas apa padang itu?

apakah manusia masih perlu  makan untuk memperpanjang hidupnya? kalau hidupnya abadi, kira-kira proses keabadiannya seperti apa ya?

oh ya apakah Tuhan juga menghidupkan jin, iblis, alien dan makhluk lain? katanya jin dan kerabatnya tak bisa mati. lalu apakah mereka itu akan dikumpulkan di padang yang sama? atau iblis-iblis yang selalu menjerumuskan manusia itu langsung dimasukkan neraka?

menurut swani, dalam novelnya iblis menggugat Tuhan, iblis-iblis itu langsung masuk surga. karena sebenarnya iblis adalah malaikat pintar yang paling disayang Tuhan, tugasnya menguji kesetiaan manusia.

di padang itu Tuhan menyuruh manusia memberikan kesaksian namun bukan dengan mulutnya.  Tuhan langsung bertanya kepada organ-organ tubuh. tlat tubuh inilah yang akan memberikan kesaksian. jika banyak berbuat baik akan masuk surga. dan sebaliknya jika kelakuan jahatnya lebih besar, akan mendapatkan siksaan yang amat pedih. 

jadi jelas yang masuk neraka kegiatan sehari-harinya mengaduh dan menikmati penderitan. lalu orang-orang yang masuk surga yang katanya dilayani tujuh bidadari, apa saja kegiatannya?   bercinta sepanjang waktu?

di alam akherat ini  manusia masih bisa merasakan sakit dan nikmat.  apakah yang bosan disiksa bisa bunuh diri? dan yang menikmati surga tak ada keinginan yang lebih nikmat lagi? misalnya bungy jumping di pinggir neraka mengintip apa yang dilakukan orang-orang didalamnya?

Oh ya, apakah pada alam itu kita masih bisa saling mengenali? bisakah kita melihat apra seleb yang keseharianya selalu berpesta? atau perempuan yang menolak cinta saya? ttau tetangga saya  yang selalu baik?

dan katanya alam akhirat itu abadi, tak berkesudahan. apakah penciptaan surga dan neraka itu sudah dimulai dari sekarang?

tiba-tiba aku terhenyak saat kek haji membuka pagar depan. relativitas Einstein terbukti malam itu. aku serasa baru saja duduk, ternyata sudah nyaris 2 jam. Kek haji rupanya tahu apa yang aku pikirkan. kata dia just do it. tak perlu mikir yang macam-macam. kku jadi teringat sepatu nike yang belum kebeli, :)

buku 5:49 am

novel kedua dari tetralogi laskar pelangi ini  secara desain kover lebih segar. warna biru laut di padu dengan putih, sangat pas dengan suasana laut yang menjadi background “jembatan ” pantai yang menuju ke laut.  jembatan berpenyangga kayu ini berbelok-belok seperti ular yang sedang berenang. mungkin untuk menggambarkan liku-liku pengalaman yang dilalui andrea dalam mewujudkan mimpinya.

secara ruang, buku kedua ini lebih lebar namun lebih tipis. memakai kertas hvs yang terlalu tipis, sehingga huruf-hurufnya tampak membayang jika dilihat di sebaliknya. you get what you pay kali ye. buku ini sangat lebih murah dibanding buku pertama.

kalau bukunya dulu mendapatkan endorsment hanya dari “garin nugroho, kini ahmad tohari dan safii maarif yang ketua ppp dan nicola hrner, seorang jurnalis London memberikan komentarnya.

namun saya tak begitu saja percaya dengan kata-kata mereka. buku kedua andrea ini tidak seelok buku pertama. jalan ceritanya “klise”.  selalu bernasib baik secara kebetulan. memang masih ada beberapa adegan mengejutkan namun secara garis besar sudah tertebak.

dari cara penyampaiannya tak ada yang baru. humornya nyaris kering. yang tetap: masih mengharukan. dan memberikan semangat kepada pembacanya, apa pun akan bisa kita raih jika kita menginginkan.

pada buku kedua ini, andrea berpetualang dengan teman-teman barunya, arai dan jimbron. trapani, mahar, flo ditinggalkam di belitong jauh sana.

ceritanya dimulai saat masuk smp, lalu sma dan ingin melanjutkan kuliah di pulau jawa. nah kelucuan kelucuan terjadi ketika arai dan ikal menginjakkan kaki di pelabuhan tanjung priok dan terdampar di depok.  sampai perbekalan habis, tak jua mereka mendapatkan pekerjaan.

saat itu, pak kost yang baik mengajaknya bekerja di sebuah pabrik tali rafia. lalu berpindah menjadi tukang foto kopi di dekat kampus ui. dan seperti cerita sinetron, ikal berhasil masuk universitas jaket kuning itu. dengan perjuangan gigihnya ia pulang ke belitong menjinjing gelar sarjananya.

lalu kisah mendapatkan beasiswa di universitas sorborn paris mengakhiri novel ini. sesuai smsnya novel ketiga akan rilis setelah lebaran.  kata andrea akan menceritaka kisahnya sewaktu belajar di paris. novel ini mirip biografi penulisnya.

Judul : Sang Pemimpi
Penulis : Andrea Hirata
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : x + 295 hlm
Cetakan : I, Juli 2006
Harga : Rp. 38.000,-