kebebasan itu telah datang. orang indonesia bersorak, merayakan kelepasan dari penjajah. kabar suka cita itu hingar-bingar terdengar sampai ke pelosok. bendera merah putih berkibar berkobar-kobar.
kini tiap tanggal 17 agustus orang-orang mengingat persitiwa itu. kemeriahan tampak di rt rt seluruh pelosok. yang paling mencolok, warna-warna merah putih disetiap pojok.
gedung-gedung ditambahi ornamen, lampu-lampu membentuk tulisan ucapan. umbul-umbul di sepanjang jalan yang markanya kini warna hitam puith lebih nyata.
tetanggaku sibuk menjadi panitia perlombaan nyaris semua jenis olahraga. juga anak-anak melombakan sebuah permainan: makan kerupuk, bakiak race, masukin belut ke botol dan puncaknya panjat pinang yang berlumur minyak pelumas.
pemerintah mengingat jasa para pahlawan, namun hanya yang mati. pangkatnya dinaikkan, dikuburkan di taman makam pahlawan. namun yang masih hidup ditelantarkan. apalagi pahlawan-pahlawan yang tak dikenal. pahlawan yang bukan dari sebuah "kesatuan.
dari dulu kala, ketika aku masih kecil tak ada perubahan peringatan itu. upacara penaikan dan penurunan bendera. ritual rutinitas tahunan belaka.
kegiatan yang paling tidak aku suka saat itu pawai pembangunan. berpakaian adat dari suku lain, memerankan pejuang 45, tokoh agama yang alim atau berarakan dengan sepeda hias.
kenapa perayaan yang tujuannya mengingat para pahlawan itu hanya "begitu"? pantas saja kalau orang-orang itu melupakan jasa pahlawan secepat usainya perayaan. setelah itu semuanya normal kembali.
tukang catut beraksi lagi. para koruptor terus menggerogiti, tak malu pada para pendiri negeri. orang-orang kecil tetap terbelenggu kesedihan tak terperi.


