hari ketiga ini rasa malas untuk kerja tak mengendur juga. ada sesuatu "beban" tak terkatakan yang aku sendiri kurang paham.
kupakaikan baju terbagus, kutelatkan waktu berangkat dan kulewati rute yang tak biasa, sengaja jalan memutar. berharap menemukan suatu ketidakbiasaan.
dan saya menemukan kejadian-kejadian:
di dalam angkot itu, bercelotehan suara-suara "cempreng". aku sudah menduga, namun masih tak yakin. masa sih siang-siang ini lelaki-lelaki jelita itu ber’operasi"? berdua mereka ngobrol yang topiknya sangat remeh. tentang warna baju dan seputar barang-barang itu. mereka polos tak ber"make up".
uniknya tiap-tiap manusia.
sampai di sebuah gedung, di pagar depannya, pas dipapan deretan huruf-huruf berwarna kuning emas, seorang ibu meletakkan bayinya. bayi itu tampak menatap daun-daun yang berada di atasnya. atau mungkin menatap awan yang melintang di langit.
awan seperti itu yang kemarin sempat meresahkan. awan pertanda akan adanya gempa. namun tanda-tanda itu tak selalu benar. gempa lokal mungkin, yang menghasilkan bayi imut yang ternyata menatap gelas aqua yang isinya mirip bubur. namun tak berwarna putih benar.
tas hitam kumal di ketiak ibu muda itu selalu berayun ketika tangannya menyuapkan sendok ke mulut bayi gundul itu. keduanya tak hirau dengan sekitar. begitu juga orang-orang sekitar, aku juga!.
kenapa bayi imut itu harus berada di jalanan? kemana keluarganya? kenapa harus mengemis? kalau memang tidak mampu membiayai anak kenapa tidak pakai kondom? kalau tidak kuat beli kondom, kenapa …., kenapa…?
sebuah ide meloncat ke balik tempurung kepala. aku harus mampir ke gramedia. bukankah buku-buku yang kupesan kemarin semuanya kosong? langsung aku turun dari angkot. aku mempercepat langkah, bersembunyi dari serangan ultraviolet yang berusaha menyemaikan sel-sel kanker kulit.
pohon-pohon membantu melindungiku dengan daunnya tanpa aku minta. hebatnya lagi mereka terus bekerja tanpa minta imbalan. mungkin karena mereka sadar, itu adalah bagian dari tugasnya.
aku tersipu, jam kerja malah kelayapan tanpa rasa salah.
katanya kerja itu ibadah, ibadah itu harus ikhlas, ikhlas itu tak berharap. jadi kerja itu tak perlu mengharap apa-apa?
oh dewa dewa penguasa langit, apakah kau se"arrahman" dan searrahim" Dia?


