pns, sejak saya masih anak banyak yang menginginkan. tetangga malah dengan bangga menceritakan keberhasilannya menyogok agar bisa diterima sebagai pegawai pemerintah daerah. sekarang pun tetap menggiurkan. karena memang "mengasyikan".
ini cerita teman kemarin yang diterima di bps ( biro pusat statistik). dia test di jakarta dan lolos. sk diteken bulan april kemarin. dia mendapatkan tugas di kota jawa tengah. keberangkatan belum ditentukan. sampai tiga bulan ini masuk kerja baru dua kali.
sambil nunggu info baru dari kantor, ia mengeles anak-anak smp/ smu pelajaran matematika/fisika. dapat penghasilan tambahan tentu, selain gaji sebagai pns. hanya saja gaji pns nya akan dibayar rapel, akhir bulan agustus nanti.
minggu-minggu ini ia sibuk mencari kost di tempat baru. tak perlu khawatir banyak kelaur ongkos, motor baru sudah disediakan. entah termasuk uang bensinya atau tidak. kebetulan ia memang petugas lapangan, "tukang sensus".
dalam otak yang ketangkap sensus penduduk yang hanya sepuluh tahun sekali itu. bukan hanya sensus itu, banyak sensus lain. ekonomi salah satunya. data-data itu tentu akan menjadi penting untuk para bisnismen.
nah ketika mereka minta data-data itu, tinggal tarif dipasang tinggi-tinggi. habis nego, dibayar lalu uang itu "dibagi." apakah itu tak akan masuk ke kas negara, tanyaku. mungkin saja. namun ia yakin akan mendapatkan bagiannya.
ia lalu mencontohkan temannya yang kerja di bkkbn. tanpa ada tanda-tanda, ia mendapatkan amplop sebesar 200 ribu. uang apa itu? entah. mau terima ngga? kalau ngga mau ya gak apa-apa, bisa diserahkan ke orang lain. begitu percakapan yang diceritakannya kepadaku.
dulu pns sempat mendapatkan image miring. menghabiskan waktu kerja dengan main kartu gaple. keluyuran di mall dan suap-menyuap yang transparan. memang tak semua, pasti ada perkecualian.
"tak apa. saya akan menjadi orang yang terkecuali itu." mudah-mudahan begitu kata-kata para aparat negeri yang baru itu. kabar baiknya, bulan oktober ada pendaftaran lagi. minat?


