Nyaris sebagian besar orang tua orang tua dikampung mendiami rumahnya hanya berdua. Seperti dulu ketika awal pengantin. Anak-anaknya setelah selesai sekolah pergi ke kota, karena memang di kampung tidak tersedia lapangan kerja.
Bertahun di metropolitan, anak-anaknya cukup sukses. Sebagai orang kaya baru mereka harus mengikuti tren agar tak dibilang kuno. Lalu lupalah perhatian mereka pada ortu di kampung. Tak ada perhatian
Setelah keduanya renta sakit-sakitan , problema muncul: siapa yang akan mengurus orang tua ini? Ke anak pertamanya yang perempuan? Atau ke anak kedua? Atau ke anak yang bungsu laki-laki Agung yang begitu dicintai dan diharapkan?
Agung memang sukses sebagai orang kaya baru di metropolitan. Namun kelakuannya jelek. Selain suka berselingkuh, dia juga menghamili keponakannya. Pertengakran antar saudara tak bisa dihindarkan.
Lalu lahirlah Alun. Untuk menghindari aib alun dikirim ke kampong dirawat embahnya. Ia lalu mempertanyakan kenapa ia begitu jauh jarak dengan kakak-kakaknya. Sampai suatuhari tahu, dia adalah anak agung dan anak kakaknya.
Alun menjadi pribadi yang tertutup dan cenderung tidak punya semangat. Ia membenci keluarga besarnya . Ia menjadi penulis keren. Dibalik sanjungan di luar ia sangat kesepian di rumahnya. Sempat ia ingin mengambil anak angkat dari jalanan.
Orang tua Agung ( kakek Alun) kian renta. Perdebatan panjang muncul. Siapa yang akan mengurus orang tuanya itu?
Akan dikirim ke panti jompo? Mana ada panti jompo di kampung? Lalu salah satu anaknya yang lain ( Atiek) sanggup mengurus orang tuanya. Lalu ia menjual rumah dan segala harta benda orang tuanya untuk membiayainya Terjadi keterkejutan budaya, kampung dan Jakarta. Pandangan anak yang modern dengan visi orang tua kolot.
Akan dikirim ke panti jompo di kota? Bagaimana menghadapi reaksi orang-orang? Terpaksa neneknya setuju, namun
Mendengar berita ini, Alun menolak. Karena selama pengembaraannya di Jakarta yang tak pernah mendapatkan cinta, ia merasa hanya neneknyalah yang selama ini begitu mencintainya..
Lalu Alun pulang ke kampung, mengurus neneknya. Seluruh hidupnya dicurahkan seluruhnya untuk membalas jasa neneknya.
Orang tua yang ditelantarkan, pernikahan yang tak juga membuat seseorang tak berselingkuh, anak-anak jalanan tak terurus, kekerasan keluarga, membuat Alun mempertanyakan nilai-nilai perkawinan? Untuk apa sebenarnya menikah?
kira kira menarik untuk dibaca ga? ada saran/ide/kritik atau komentar apapun? silakan ya. biar entar best seller.. atau siapa tahu dapat khstulistiwa literary award ekkekekekke. eniwe terimakasiih



saran bumbu: – Selingkuhnya Agung klo bisa bukan hanya free ala metropolis, tapi jg semi halal, kawin kontrak semalam ala jusuf kala
(klo JK disebut bakal di ban nih novel) – Agung yg kaya adalah anggota DPR dari partai dakwah yg korup, Trus istrinya jadi kebanyakan duit, dan doyan daun muda jg, temen2 dan tetangga2nya juga, pokoknya semua selingkuh, haha. Bikin Alun makin mual sama yg namanya pernikahan, mual juga sama jubah religi. – Alun ke nenek, Cinta atau hutang budi? nambahin wacana sedih tuh. – Alun kahirnya memahami nikah sbg legalisasi sex, hanya supaya gak di grebek FPI, haha.
*sorry ga serius:P tar deh klo ada ide lagi
*
Comment by wadehel — July 19, 2006 @ 7:16 am
waduh… tugas yang sangat berat nih… lha wong saya gak pernah baca novel je… sekarang dimintai saran…
sebagai seorang yang sangat super awam sekali, membaca draft di atas saya masih ragu… tokoh sentralnya siapa ya? apakah Alun? kalau iya, mungkin alur cerita bisa lebih difokuskan ke dia. (perlu ada tokoh sentral gak sih? saya gak tau
)
endingnya agak datar ya… bagaimana kalau dibuat satu konflik pamungkas sebagai titik klimaks sebelum menuju akhir cerita…?
begitulah komentar dari saya. mohon maaf kalau ada kata2 yg tidak berkenan atau malah berkesan ‘keminter’
Comment by tifoso — July 19, 2006 @ 2:07 pm