novel kedua para priyayi (jalan menikung) masih dalam tatapan saya tengah malam itu. tinggal 40 halaman lagi dan aku tak melanjutkan. bukan karena ngantuk. namun karena mendengar lagunya ibu soed (tanah air) yang tersenandung di trans tv.
alur plot buatan umar kayam ini begitu membuai. memaksa otak memutar kembali ingatan ketempat asal: kampung halaman. diskripsi rumah, makananan dan orang-orang tua kesepian.
seperti harimurti dan sulistianingsih yang ditinggal anaknya ke new york. ketika kerinduan orang tua itu memuncak, datanglah bencana itu. hari murti terpaksa dipecat dari pekerjaanya karena bekas pki. agar anaknya "selamat" ia menyuruh eko untuk menunda kepulangannya.
trah sastrodarsono kini berada dalam ambang kehancuran. darah priyayi dari wanagalih itu tercampur dengan darah orang luar. ana, cucunya, anak perempuan aditomo nugroho (tomi) terpaksa menikah dengan anak rekan bisnisnya, Han Swie kun. semula tomi menolak namun karena ana sudah hamil pernikahan tetap dilakukan.
eko yang tinggal di sunybrook menikah dengan Claire, perempuan yahudi. pernikahanini menjadi perdebatan hebat diantara keluarga besar. mereka khawatir eko akan kehilangan kejawaaan, kepriyaian dan keislamannya.
sebenarnya siapa yang berhak disebut priyayi itu? kalau tidak salah umar kayam ingin menyampaikan priyayi adalah soal mindset. orang yang rela berkorban untuk orang lain, mau dan mampu mengayomi itulah priyayi. dalam novel ini lantip, anak pungut dari wanagalih itulah priyayi itu.
sore ini, lagu ibu soed itu aku dengarkan lagi dengan diam. namun ada kerinduan menggelora ketika mencermati liriknya:
"tanah air ku tidak kulupakan
kan terkenang selama hidupku
biarpun saya pergi jauh
tidak kan hilang dari kalbu
tanahku yang kucintai engkau kuhargai
walau pun banyak negeri kujalani
yang masyur permai diakta orang
tetapi kampung dan rumahku disanalah ku rasa senang
tanah kutakkulupakan engkau kubanggakan"



hwaduh… jadi makin pengen mudik abis baca cerita ini…
maklum… biarpun jakarta masih indonesia tetapi tidak terasa seperti di ‘tanah air’ karena kebisingan dan hiruk pikuknya, hihihi…
Comment by tifoso — July 14, 2006 @ 12:44 pm
wah resensinya bagus jadi pengen baca bukunya. tapi btw kenapa yaa tema2 berbau pki masih laris??
ini kan novel lama banget boeng. dan peristiwa 30 sept 65 itu kan bencana kemanusiaan dahsyat yang tak ada duanya.
wajar aja kali memberikan inspirasi ke banyak orang hi hi hi
Comment by boenga — July 17, 2006 @ 9:37 am
oh jadi novel kunauw tho…maaf baru tau :p
iya sih emang inspiratif sekali peristiwa pki itu…aku juga pernah bikin cerpen based on that history tapi dipublishnya di blog lama…. :p
keren. sudah sejak akapn menulis? sudah pernah di publish di media atau dah berapa judul yang terbit?
Comment by boenga — July 18, 2006 @ 8:53 am
Nah ini…..saya pernah baca seri pertama yang Sang Priyayi namun belum berlanjut ke Jalan Menikung…....saking inpiratifnya baca buku tersebut temen2 sampai nyapa saya “Ndoro Seten van Magelang”, elok ora?
Comment by anang — August 10, 2006 @ 2:52 am